ULUWATU – Sementara itu di sisi lain di belakang panggung bertembok ini terlihat beberapa pria dan wanita yang mengenakan pakaian laksana raja dan ratu dalam lakon Rama dan Shinta. Mereka terlihat sangat anggun dan gagah dengan polesan khas raja dan ratu tempo dulu.

Di ujung lainnya saya melihat pemain lain berkostum kera tengah sibuk disamping pemain yang sedang dihias wajahnya dengan polesan wajah berwarna hitam. Semua tampak sangat sibuk karena sebentar lagi pementasan akan segera dimulai. Matahari pun semakin tenggelam, langit mulai berubah warna menjadi jingga dan ratusan penonton mulai meramaikan tempat duduk layaknya podium raksasa berbentuk bundaran.

Puluhan penari pria bernyanyi dengan suara merdu, bunyinya hanya cak, cak, cak, cak tapi mampu menyihir penonton karena iramanya (Foto: Dwi/ THE EDITOR)

Inilah Uluwatu, dari tempat anda duduk menonton Tari Kecak akan terlihat sebuah Pura di ujung bukit seolah memberi berkat kepada para pelakon untuk menghibur penonton yang datang dari seluruh dunia.

Pertunjukan Tari Kecak diadakan setiap hari di Pura Uluwatu. Dengan tiket seharga Rp30.000 untuk dewasa dan Rp20.000 untuk anak-anak anda sudah bisa memasuki area pura. Namun untuk menonton pentas Tari Kecak anda harus membayar tiket kembali seharga Rp150.000 per orang.

Pementasan dimulai pukul 18.00 WITA – 19.00 WITA. Karena terbatasnya tempat duduk, silahkan datang 1 jam lebih awal agar kebagian tiket. Lagi pula tempat ini menawarkan pemandangan tebing laut yang luar biasa indah. Jadi, tidak ada salahnya menikmati waktu disini sembari bercengkrama dengan turis atau setidaknya menikmati cadasnya tebing berombak dari ketinggian.

Sore itu, para penari pria sudah berkumpul dan duduk mengelilingi sebuah benda bercabang layaknya pohon sebagai tempat menyalakan api. Seorang pendeta datang menyiprati para penari pria dengan air doa. Tak lama kemudian suasana hening menyeruap ke seluruh lokasi dan mulai terdengar pelan suara bisik-bisik penonton sebelum akhirnya sunyi setelah suara cak, cak, cak, cak terdengar.

Puluhan penari pria bernyanyi dengan suara merdu, bunyinya hanya cak, cak, cak, cak tapi mampu menyihir penonton karena iramanya. Tak lama kemudian Rama dan Shinta masuk ke tengah podium dan menarikan bagian mereka.

Penari Kecak yang duduk di lantai melambangkan para kera yang menolong Shinta saat di tangkap oleh Rahwana. Semua cerita difokuskan dari awal cerita Rahwana yang menggunakan berbagai macam cara untuk menangkap Shinta. Mulai dari sosok Rahwana yang teramat keras kepala menculik Shinta dengan kekerasan hingga Rahwana yang berubah menjadi Bhagawan atau kakek yang kehausan meminta air agar dikasihani ditunjukkan sefara detail disini.

Bahasa yang dipakai saat pementasan adalah Bahasa Bali, tapi pihak penyelenggara menyediakan lembaran berbahasa Inggris dan beberapa bahasa lainnya untuk penonton asing agar mengerti arti setiap adegan.

Sore di Pura Uluwatu sangat romantis. Bila kesana pastikan pakaian anda sopan dan tertutup karena demikian aturan yang disediakan oleh para penjaga pura. Selamat menikmati.

Leave a Reply

  • (not be published)