Foto: Vessylia Kelshy Untuk The Editor

TANAH KARO – Tidak banyak yang tahu bila program listrik gratis yang tengah di canangkan oleh pemerintah ternyata sangat membantu masyarakat terutama di pedesaan. Untuk anda ketahui, saat ini Perusahaan Listrik Negara (PLN) memberikan fasilitas listrik gratis kepada pengguna daya 450 Volt Ampere (VA) dan 900 VA subsidi. Seperti apa tanggapan masyarakat?

Untuk mengetahui hal ini, tim redaksi The Editor khusus datang ke Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di sebuah desa bernama Desa Sukadame, tim redaksi melihat kondisi rumah warga yang sepenuhnya sudah disokong oleh listrik.

Salah satunya milik Ibu Nurdiana Br Ginting (59). Rumah miliknya yang disokong oleh listrik dengan 450 VA menurutnya sangat mencukupi memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sistem pencahayaan rumah ditata sedemikian rupa dengan menempatkan langit-langit rumah yang tinggi dan berwarna putih cerah. “Dengan demikian di siang hari tidak perlu lampu karena cahaya matahari bisa langsung masuk dari jendela,” jelas Nurdiana saat berbincang dengan The Editor, Sabtu (13/2).

Rumah yang dimiliki Nurdiana juga tidak tergolong kecil karena dengan dua kamar tidur serta dua ruang santai di tambah ruang dapur yang luas, keluarga ini ternyata mampu meminimalisir penggunaan listrik secara sempurna. Di siang hari, langit-langit bagian dapur yang letaknya terpisah dengan ruang tamu dipasangi atap plastik transparan di beberapa titik sehingga membuat ruangan sangat cerah. Dengan kata lain mereka pengguna listrik dengan daya 450 VA ternyata memang sangat kreatif.

“Kami di desa ini tidak berlomba-lomba menambah daya karena penggunaan listrik memang sengaja diminimalisir. Untuk apa pakai listrik boros-boros kalau ada tenaga matahari. Terlebih saat cuaca cerah seperti sekarang ini,” jelas Nurdiana lagi.

Ibu dengan dua anak ini juga mengenalkan beberapa rumah di desanya yang menggunakan fasilitas listrik yang sama. Mereka semua sangat jarang menggunakan listrik di siang hari kecuali untuk menanak nasi dengan alat modern.

“Rata-rata masyarakat disini pakai listrik di malam hari saja. Mereka bekerja dari pagi sampai sore di ladang. Kemudian saat pulang ke rumah sore hari mereka masak. Jadi listrik baru dinyalakan. Sangat irit,” jelasnya.

Bagi warga desa ini, program listrik gratis sangat baik. Meski demikian, mereka tidak mau berpangku tangan pada pemerintah untuk terus menerus gratis bila memang kuotanya sudah habis.

“Kami lebih memilih untuk membayar bila kuotanya memang tidak mencukupi. Kami tidak mau juga selalu gratis padahal kami tahu kami harus bayar,” ungkapnya.

Desa yang berada di kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo ini berada di jalan lintas Sumatera. Masih banyak warga desa ini yang ternyata menggunakan listrik dengan daya 450 VA. Bahkan sebagian diantara mereka meski sudah membangun rumah dengan model baru tetap lebih memilih memiliki listrik dengan daya 450 VA karena kebutuhan akan listrik yang minim.

“Kita kalau bisa sih pakai listrik 450 VA saja karena kebutuhannya memang tidak tinggi. Sayangnya kami harus pakai listrik dengan daya 900 VA,” ujar Helmidawati Br Ginting, warga Desa Lambar yang letaknya tak jauh dari Desa Sukadame.

Sebagai mantan kepala desa, Helmidawati mengatakan bahwa masyarakat di desanya kebanyakan adalah petani. Suasana Tanah Karo yang berudara dingin membuat masyarakat lebih banyak beraktifitas di luar rumah. Iklim yang sangat cocok untuk pertanian di Tanah Karo membuat masyarakat berlomba-lomba membangun rumah mereka di areal perladangan.

Meski penuh beraktifitas di bidang pertanian, lanjutnya, listrik yang dipakai masyarakat juga sangat mencukupi dan bahkan cenderung cukup. Karena biasanya rumah dengan daya listrik 450 VA juga berada di area ladang. Dan mereka umumnya memakai listrik untuk mengairi dan menyiram tanaman mereka. Dan ternyata sangat cukup.

Sementara itu Indra Jimmi Meliala (45) warga Desa Sukadame ternyata bisa memanfaatkan listrik 450 VA miliknya untuk membuka usaha internet. Tiga unit komputer yang diletakkan di dalam rumahnya kerap dipakai oleh anak-anak sekitar rumahnya untuk berselancar di dunia maya. Karena keterbatasan kuota, akhirnya pemerintah mengirimkan tagihan yang harus Ia bayar.

Jimmi ternyata mengaku sempat kaget saat menerima tagihan tersebut. Namun, setelah dijelaskan oleh petugas akhirnya Ia mengerti dan membayar yang jadi bagiannya.

“Pada dasarnya setiap masyarakat selalu siap membayar listrik setiap saat. Masyarakat disini siap menjalankan semua anjuran pemerintah. Meski demikian kami sangat berterima kasih pada pemerintah karena program listrik gratis ini sangat membantu kami,” pungkasnya.

Leave a Reply

  • (not be published)