Foto: Getty Images/ THE EDITOR

AMERIKA SERIKAT – Para peneliti di Ohio State University yang mempelajari kupu-kupu besar Morfo Biru (Morpho didius) mendapati bahwa meskipun sayap serangga itu kelihatannya licin, ternyata permukaannya dilapisi sisik-sisik kecil yang tumpang-tindih seperti atap rumah.

Pada permukaan sisik-sisik ini terdapat lekuk-lekuk yang lebih kecil lagi yang menyebabkan debu atau air tidak bisa menempel. Para insinyur berupaya meniru tekstur sayap ini untuk membuat pelapis anti debu dan antiair bagi peralatan industri dan kedokteran.

Sayap kupu-kupu adalah contoh lain bagaimana sains berupaya meniru rancangan pada makhluk hidup. ”Ada banyak sekali rancangan hebat di alam, dari yang ukurannya sangat kecil sampai sangat besar, yang ditiru manusia selama berabad-abad,” kata peneliti bernama Bharat Bhushan.

Kupu-Kupu Kubis Terbang Lebih Cepat Ketimbang Kupu-Kupu Lainnya

Kupu-kupu memerlukan hangatnya sinar matahari untuk memanaskan otot-ototnya yang dipakai untuk terbang. Tapi, kupu-kupu kubis punya keunikan tersendiri. Saat langit mendung, kupu-kupu kubis bisa lebih dulu terbang dibanding kupu-kupu lainnya. Apa rahasianya?

Agar bisa terbang, banyak jenis kupu-kupu berjemur di bawah matahari dengan sayap yang tertutup atau terbentang lebar. Tapi, kupu-kupu kubis berjemur dengan posisi sayap yang membentuk huruf V. Setiap sayap dibuka sekitar 17 derajat dari posisinya saat tertutup.

Dengan begitu, menurut para peneliti, kupu-kupu kubis bisa menyerap panas matahari secara maksimal. Posisi seperti ini memungkinkan energi matahari bisa langsung diserap oleh otot di bagian dada yang dipakai untuk terbang. Itulah sebabnya kupu-kupu kubis bisa lebih cepat terbang dibanding kupu-kupu lainnya.

Para peneliti dari University of Exeter, Inggris, mempelajari posisi sayap kupu-kupu kubis yang membentuk huruf V untuk mencari tahu apakah mereka bisa membuat panel surya yang lebih baik. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa panel surya yang meniru posisi sayap seperti itu bisa menghasilkan energi hampir 50 persen lebih banyak.

Selain itu, para peneliti menemukan bahwa permukaan sayap kupu-kupu kubis bisa memantulkan panas dengan sangat baik. Dengan meniru posisi sayap dan rancangan permukaan sayap kupu-kupu ini, para peneliti menghasilkan panel surya yang lebih ringan dan yang bisa menghasilkan lebih banyak energi.

Profesor Richard ffrench-Constant, salah seorang peneliti, menyebut kupu-kupu kubis sebagai ”ahli mengumpulkan tenaga surya”.

Sistem Navigasi Kupu-Kupu

Dengan otak yang ukurannya kira-kira sebesar mata pena, kupu-kupu raja bermigrasi sejauh 3.000 kilometer dari Kanada ke hutan kecil di Meksiko. Bagaimana serangga itu bisa mengetahui arahnya?

Kupu-kupu raja memiliki kompas matahari yang bisa menunjukkan arah berdasarkan posisi matahari. Akan tetapi, bukan itu saja. Serangga ini juga menggunakan jam biologis yang sangat akurat berdasarkan siklus 24 jam, yang dikenal sebagai jam sirkadian, untuk membuat penyesuaian mengikuti pergerakan matahari.

Dr. Steven Reppert, seorang ahli neurobiologi, mengatakan bahwa kupu-kupu raja ”memiliki cara yang sama sekali berbeda dalam menentukan waktu dibanding serangga dan binatang lain yang telah diselidiki sejauh ini”.

Dengan mempelajari lebih dalam tentang rahasia penunjuk waktu yang dimiliki kupu-kupu raja, para ilmuwan mungkin dapat semakin memahami jam sirkadian pada manusia dan binatang. Berkat pemahaman itu, terapi baru untuk gangguan neurologis dapat dikembangkan.

”Saya ingin memahami cara otak menerima dan memproses informasi tentang ruang dan waktu,” kata Reppert, ”dan kupu-kupu raja adalah contoh yang spektakuler.”

Sumber: JW.ORG

Leave a Reply

  • (not be published)