JAKARTA – Dengan jumlah pelanggan ratusan juta, ternyata tak bisa membuat PLN mendadak kaya. Utang segunung kini mengintai perusahaan penjual setrum dan meminta bantuan Pemerintah agar membantu meringankan beban perusahaan.

Foto: Dokumen Pribadi

Pemerintah sebenarnya belum lama ini mengucurkan dana ke beberapa BUMN untuk menyelamatkan ekonomi. Dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), pemerintah menggelontorkan Rp155,603 triliun. PLN masuk dalam daftar penerima.

Pemerintah mengalokasikan Rp94,23 triliun untuk pembayaran kompensasi dan penugasan kepada tiga BUMN yakni PT Pertamina (Persero) Rp48,25 triliun, PLN Rp45,42 triliun dan Bulog Rp560 miliar.

Namun, ternyata dana tersebut tak cukup karena dalam laporan keuangannya periode semester I/2020, PLN memiliki total utang Rp684,64 triliun yang sebagian besar merupakan utang jangka panjang. Dari utang jangka panjang itu, nilai paling dominan berasal dari utang bank sebesar Rp187,39 triliun dan Rp205,72 triliun berupa obligasi dan sukuk.

Tak heran bila utangnya bertambah karena pada tahun 2020 pun PLN masih mencari dana melalui penerbitan obligasi dan sukuk. Pada Januari 2020, PLN mengeluarkan obligasi senilai Rp4,8 triliun yang terdiri dari lima seri dan sukuk senilai Rp115 miliar.

Beban proyek ambisius 35.000 Mega Watt disebut menjadi biang keladi bengkaknya utang PLN. Bahkan dalam rapat dengar pendapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat Komisi VI, sejumlah anggota Dewan menyebut bahwa perusahaan bisa bangkrut terlilit utang.

Bila melihat kinerja perusahaan selama enam bulan di 2020, perusahaan masih membukukan laba bersih Rp251,61 miliar turun drastis bila dibanding capaian pada semester I/2019, Rp7,31 triliun. Pendapatannya pun tumbuh tipis dari Rp133,45 triliun menjadi Rp135,41 triliun.

Namun, akibat rugi kurs yang membengkak menjadi Rp7,98 triliun dan beban keuangan yang bertambah menjadi Rp13,72 triliun, penurunan beban dari pembelian listrik dan bahan bakar akhirnya memangkas laba perusahaan. Dari segmennya, wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara menjadi penyumbang utama pendapatan sekaligus laba perusahaan.

Wilayah tersebut membagi pendapatan Rp133,92 triliun dan laba bersih sebesar Rp2,62 triliun. Sayangnya, wilayah lainnya seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku-Papua justru membukukan rugi bersih sehingga yang bisa didapatkan hanya Rp251,61 miliar. Rugi bersih terbesar berasal dari wilayah Sumatra dengan Rp1,2 triliun dan disusul oleh Kalimantan dengan Rp488,88 miliar.

Lalu, bagaimana dengan aset perusahaan?

Pada laporan keuangan periode semester I/2020, perusahaan memiliki aset total sebesar Rp1.617,55 triliun. Dari nilai tersebut, hanya Rp162,49 triliun yang masuk dalam aset lancar termasuk kas dan setara kas perusahaan sebesar Rp53,59 triliun. Kemudian, piutang subsidi listrik Rp7,11 triliun dan piutang dengan pihak ketiga Rp20,05 triliun.

Apakah perusahaan akan bangkrut?

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberikan peringkat idAAA untuk PLN dan obligasinya dengan prospek stabil. Penilaian itu menunjukkan bahwa perusahaan masih memiliki kemampuan untuk melunasi utang jangka panjangnya bahkan dalam kategori superior.

Pandemi virus corona yang akan menekan pertumbuhan ekonomi akan berdampak pada pertumbuhan pendapatan PLN dalam jangka pendek. Pefindo bisa menurunkan peringkat PLN bila dukungan pemerintah berkurang.

PLN kini memasang kapasitas 45.804 MW termasuk penyewaan pada akhir Maret 2020. Mungkin PLN hanya butuh uang saja karena beberapa BUMN seperti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Krakatau Steel Tbk. mendapatkan kucuran modal.

Leave a Reply

  • (not be published)