ITALIA – Akhir pekan kali ini, kita diajak untuk mengenal Allah melalui Yesus sang Putera. Yesus menunjukkan kepada kita dua realitas yang mendefinisikan diri-Nya: bahwa Dia adalah seseorang yang mengenal Bapa dan bahwa Dia “lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29). Kita juga dapat menemukan dua sikap yang diperlukan untuk dapat memahami dan menjalankan apa yang Yesus tawarkan kepada kita: yaitu kesederhanaan dan keinginan untuk lebih dekat dengan-Nya.

Antrian pengunjung keluar dari Basilika Santo Petrus di Vatikan, Italia. Foto diambil tahun 2016 (Fotografer: Elitha Evinora Tarigan)

Tantangan terbesar akan dihadapi oleh mereka yang bijak dan pandai. Mereka akan mengalami kesulitan untuk memasuki misteri Kerajaan Allah. Mengapa? karena mereka tidak mau terbuka terhadap kebaruan Wahyu Ilahi. Tuhan terus memanifestasikan dirinya di dalam dunia, hanya agar manusia bisa sedikit mengetahui wajah Ilahi yang penuh misteri.

Akan tetapi pada kenyataannya, mereka diatas ini percaya bahwa mereka sudah tahu segalanya. Rasa kekaguman yang sederhana sudah digantikan dengan pengetahuan akan Allah. Sudah saatnya kita belajar dari kesederhanaan anak-anak, yang hidupnya bersifat reseptif, menyerupai spons yang menyerap air, memiliki kapasitas kejutan dan kekaguman. Tidaklah heran jika Yesus berkata, dalam Injil Markus 10:13-16, bahwa:

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk kedalamnya”. Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

Yesus tinggal di dalam Bapa. Di dalam kedamaian inilah, manusia menemukan tempat perlindungan yang sempurna.

“Datanglah kepadaku, kamu semua yang lelah dan tertindas, dan aku akan menyegarkan kamu” (Mat 11,28 ).

Yesus adalah rendah hati dan kerendahan hati adalah saudara perempuan dari kesederhanaan. Ketika kita belajar untuk bahagia melalui hal hal yang sederhana, maka segala kesulitan akan hilang, banyak kebutuhan yang tidak mendesak akan tergantikan dengan yang prioritas, dan akhirnya kita bisa beristirahat dalam kedamaian sempurna.

Yesus mengundang kita untuk mengikuti-Nya. Bersama-Nya, tentu kita tidak akan terhindar dari penderitaan. Akan tetapi, bobot penderitaan kita akan ringan karena cobaan tidak lebih berat dari salib kita. Diperlukan kepasrahan dan kesetiaan untuk memohon bantuan Roh Allah agar selalu menyertai kita. Terpujilah nama Tuhan.

Martin Selitubun
Pastor dari Keuskupan Agats Papua

Leave a Reply

  • (not be published)