Kapten Otto Munaf Iskandar (The Editor)

JAKARTA – Kapten Otto Munaf Iskandar (69 tahun) adalah salah satu pilot senior yang pernah mendapat lisensi
sebagai private pilot di PT Deraya (Deraya Air Charter). Pak Bob, demikian sapaan akrab pria ini mengatakan
bahwa saat pertama kali menjadi pilot pesawat Charter Chesna 172 dan 182, umurnya ternyata sudah mencapai 32
tahun.

Kecintaannya pada dunia penerbangan juga yang membawa Otto bertemu dengan Susi Pudjiastuti muda yang
berumur 20 tahunan. Susi yang pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan saat itu bertemu untuk didapuk sebagai
salah satu penerbang di maskapai miliknya.

Sedari awal, cita-cita Otto tidak menjadi pilot. Saat berumur 20 tahun Otto bekerja di perusahaan periklanan
milik Inggris, Australia dan Swiss bernama PT Fortune Adv Marketing. Dari sana, Otto masuk sebagai tim
marketing yang menjual alat berat milik PT Trakindo Utama. Di perusahaan yang menyuplai alat berat ke
Kalimantan inilah awal mula Otto ingin jadi penerbang.

“Karena saya ingin menerbangkan sendiri alat-alat tersebut sampai ke pedalaman Kalimantan. Bagi saya itu
semacam petualangan,” ujar Otto saat berbincang dengan The Editor beberapa waktu lalu.

Untuk hobinya ini, Otto meninggalkan pekerjaan yang tengah Ia geluti dan mendaftarkan dirinya di PT Deraya
sebagai peserta training pesawat kecil. Otto harus latihan dan mengumpulkan 80 jam terbang untuk bisa lulus
dan mendapatkan sertifikat. Dalam waktu 2 bulan akhirnya Otto berhasil dan mulai bekerja sebagai pilot untuk
sebuah pesawat penerbangan di wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Otto mengatakan dulu Ia paling sering menerbangkan pesawat Chesna tipe 172 yang hanya berpenumpang 4-7 orang.
Saat itu, Otto lebih sering diminta untuk mengantarkan pengusaha-pengusaha asing dan lokal untuk memantau
proyek-proyek besar mereka di pedalaman Kalimantan yang masih sangat rimbun.

Sebagai pilot untuk pesawat kecil, Ia tak pernah menampik fakta bahwa kondisi lapangan harus benar-benar
diperhatikan bila menerbangkan pesawat kecil, terutama Chesna 172. Bila kondisi landasan pacu berpasir dan
tanah datar, maka pilot harus ekstra hati-hati terutama saat hujan turun. “Karena takut slip,” jelasnya.

Meski demikian, Otto mengaku sangat senang dengan pekerjannya. Karena pesawat Chesna buatan Amerika Serikat
yang dipercayakan kepadanya masih dalam kondisi bagus dan terawat. Jadi tidak pernah khawatir saat diminta
untuk terbang ke hutan-hutan lebat.

“Menerbangkan chesna itu sendiri kalau merasa kurang aman saya ajak bagian teknisi. Pilot juga punya perasaan,
tapi tuntutan menerbangkan pesawat tidak bisa ditunda. saya bisa minta tidak terbang kalau merasa ada yang
tidak beres,” ujar Bob yang mengaku lebih sering terbang sendiri.

“Bisa terbang 2-3 kali sehari. Tapi paling banyak terbang 2 kali. Jarak tempuh sekali terbang ada yang 1 jam
atau 45 menit,” jelasnya lagi.

Sebagai pilot pesawat pribadi, Otto mengaku tetap menjalankan tes kesehatan sebelum penerbangan sebagai mana
pilot yang bekerja di penerbangan komersil. Udara laut Kalimantan yang berawan menurutnya tidak bisa dianggap
sepele. Pesawat Chesna yang tidak terlalu besar membuat pilot harus menerbangkan pesawat ini hanya sekitar
ketinggian 4000 kaki karena harus berhadapan dengan awan.

“Persiapan lazim kita mau terbang, cek engine dan equipment serta kabin harus bersih. Udara laut kalimantan
itu berawan, kita kadang tidak berani terbang terlalu tinggi karena akan berhadapan dengan awan. Di Kalimantan
terbangnya tidak tinggi, jadi tidak terlalu terbang tinggi, sekitar 4000 kaki,” pungkasnya.

Leave a Reply

  • (not be published)