Presiden Jokowi memberikan sambutan pada menghadiri Sidang Terbuka Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam rangka Dies Natalis Ke-54, di Graha Widya Wisuda, Kampus Dramaga Bogor, Jawa Barat, Rabu, 6 September 1017 pagi (Foto: JAY/Sekretariat Negara/ THE EDITOR)

JAKARTA – Sudah saatnya Indonesia maju dan memanfaatkan para akademika yang dikirim gratis belajar di luar negeri. Mendorong dan menghargai penelitian pegawai negeri sipil (PNS) yang kuliah di luar negeri sangat penting agar tidak jadi koruptor saat kembali ke Indonesia.

“Yang jadi persoalan hasil penelitian mereka tidak diakui jadi kerjanya cuma terima duit atau korupsi kalau bisa. Itu aja kerjanya. Sayang,” ujar Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagiyo saat berbincang dengan The Editor beberapa waktu lalu.

Pada akhirnya, lanjut Agus, pemerintah hanya disibukkan dengan program penambahan lahan agar bisa menambah produksi hasil pertanian. Bila gagal produksi dan harus impor, pemerintah beralasan terbatasnya luas lahan adalah penyebab utamanya.

Padahal di jaman teknologi canggih seperti ini, luas lahan bukan lagi kendala. Kementerian Pertanian padahal tengah menggenjot modernitas alat pertanian dengan memanfaatkan kampanye revolusi industri 4.0.

“Nyawa pertanian itu meningkatkan produksi pangan. Kalau urusan sawit bagaimana cara mereka meningkatkan produksi tanpa perlu menambah lahan,” ungkap Agus.

Dipertanyakan sumbangsih PNS yang belajar pertanian ke Jepang

Jepang adalah salah satu negeri dengan kemampuan teknologi di bidang pertanian yang mumpuni. Pemerintah lewat kementerian pertanian mengirimkan pegawainya untuk menempuh pendidikan lanjutan di negeri Sakura tersebut agar bisa mempelajari teknik terbaru dalam menambah produktivitas pertanian.

Sayangnya tidak ada yang berhasil mengembangkannya di Indonesia. Alih-alih jadi tenaga ahli, justru kebanyakan diantara medeka akhirny duduk di belakang meja dan bekerja di luar bidang mereka. Uang negara double habisnya karena saat pulang ke Indonesia mereka tetap harus digaji tanpa perlu mengamalkan ilmu yang sudah mereka pelajari.

Apa saja hasil teknologi pertanian Jepang yang perlu dipelajari untuk menggenjot produksi pertanian dengan biaya murah? Ini jawabannya

Yuichi Mori, seorang peneliti asal Jepang ternyata tidak perlu lahan untuk menanam buah. BBC merilis bahwa Mori menanam buah-buahan diatas selaput. Awalnya metode penelitiannya dityjukan untuk mengobati penyakit ginjal manusia, makanya disebut selaput polimer bening dan berpori.

Kata Mori, selain memungkinkan tanaman tumbuh dalam keadaan apapun, teknik ini menggunakan air 90 persen lebih sedikit dibandingkan pertanian tradisional dan tidak lagi memakai pestisida karena polimer menghambat virus dan bakteri.

“Ini adalah salah satu cara Jepang – yang kekurangan lahan dan sumber daya manusia – melakukan revolusi pertanian,” ujarnya.

Perusahaannya, Mebiol, memiliki paten penemuan yang telah didaftarkan di hampir 120 negara tersebut. Teknologi mereka mengubah lahan menjadi pusat teknologi dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), internet (IoT), dan pengetahuan tercanggih.

Metode budi daya seperti yang dikembangkan Yuichi Mori telah digunakan di lebih 150 daerah di Jepang dan tempat-tempat lain seperti Uni Emirat Arab (UAE).

Metode ini terutama penting dalam membangun kembali daerah pertanian Jepang timur laut yang tercemar berbagai zat dan radiasi dari tsunami setelah gempa besar dan bencana nuklir pada bulan Maret 2011.

Pertanian dengan lebih sedikit orang

Lewat teknologi, pemerintah Jepang berusaha menarik perhatian anak muda yang sebelumnya kurang tertarik bekerja di lahan, tetapi tertarik pada teknologi. Ini adalah usaha untuk membangkitkan sektor ekonomi yang mengalami penurunan sumber daya manusia.

Dalam 10 tahun, jumlah warga Jepang yang terlibat dalam produksi pertanian turun dari 2,2 juta orang menjadi 1,7 juta orang. Sementara umur rata-rata pekerja sekarang adalah 67 tahun dan sebagian besar petani bekerja paruh waktu.

Keadaan topografi juga sangat membatasi pertanian Jepang, yang hanya dapat memproduksi 40% dari pangan yang dibutuhkan.

Transfer teknologi

Jepang juga berjanji membantu negara-negara Afrika untuk menggandakan produksi beras menjadi 50 juta ton pada 2030.

Di Senegal, Jepang menanam modal dalam pelatihan teknisi pertanian dan mentransfer teknologi terutama terkait dengan irigasi. Produktivitas kemudian meningkat dari empat ton menjadi tujuh ton beras per hektare. Pemasukan petani naik sekitar 20 persen.

Jepang meningkatkan investasi swasta dan perdagangan mesin pertanian berkelanjutan di benua Afrika. Mereka juga bekerja sama dengan Vietnam dan Myanmar, di samping Brasil.

Tetapi tujuan utama revolusi Jepang adalah memperbaiki keamanan pangannya sendiri. Pemerintah Jepang berkeinginan untuk menghasilkan paling tidak 55 persen dari pangan yang negaranya perlukan pada 2050.

Leave a Reply

  • (not be published)