Justan Riduan Siahaan saat ditemui di AAS Building, Makassar pada Sabtu 10 Juli 2021 (Foto: SMD/ THE EDITOR)

MAKASSAR – Pembangunan fasilitas pemurnian atau smelter di Kab Konawe Utara oleh Tiran Group segera dimulai setelah disepakatinya kontrak pembangunan satu dari empat line smelter senilai Rp 4,9 triliun antara PT Andi Nurhadi Mandiri (ANDM) dengan Tonghua Jianxin Technology Co. Ltd.

Direktur Keuangan Tiran Group Justan Riduan Siahaan yang ditunjuk sebagai pelaksana mega proyek ini mengatakan bahwa sebagai tahap awal perusahaan tersebut akan membangun satu line smelter senilai Rp. 1,8 triliun dengan fasilitas pendukung seperti water treatment, perkantoran dan pemondokan, gardu induk, serta fasilitas pendukung lainnya yang akan dimulai tahun ini.

“Tahun ini kita akan memulai pembangunan smelter bersama fasilitas pendukung industrial lainnya. Kami akan menyiapkan izin, financial dan sumber daya manusianya,” katanya saat ditemui di AAS Building, Makassar, Sabtu (10/7).

Kata Justan, waktu pembangunan smelter ini diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 16 sampai 24 bulan sejak pembangunan fisik berlangsung. Dari perkiraannya masa pembangunan proyek ini akan sedikit bertambah karena pandemi corona yang tak kunjung usai.

Walaupun dimasa pandemi  prediksi pembangunan akan sedikit bertambah, lanjut Justan, namun pembangunan smelter ini tetap akan dikerjakan dalam dua tahap.

Tahap pertama, untuk bidang smelter mulai dari detail engineering design, rekrutmen dan kontruksi tugasnya Tonghua Jianxin Technology Co. Ltd.. Tahap kedua, untuk pekerjaan sipilnya termasuk fasilitas pendukung seperti pengolahan air, perkantoran dan pemondokan dan gardu induk akan kami kerjakan sendiri.

Komponen Smelter Didatangkan Dari Tiongkok

Selain minim resiko, masih kata Justan, proyek ini juga lebih hemat pembiayaannya. Pembangunan smelter ini tidak terlalu sulit karena di pabriknya sudah tersedia komponen smelter yang sudah jadi untuk diurai kembali dan dibawa ke Makassar untuk direkonstruksi ulang.

“Adapun tenaga kerja yang akan dipekerjakan nantinya berasal dari tenaga kerja lokal. Tentu dibutuhkan tenaga kerja ahli yang kami rekrut seperti project manager, engineering dan pekerja lainnya”, ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Inspektorat Jenderal di Kementerian Pertanian ini.

Pembangunan smelter ini kata Justan juga akan mendorong perusahaan asal Tiongkok untuk memacu transfer teknologi selama mereka melakukan aktivitas pembangunan. Menurutnya Tiongkok dikenal memiliki tradisi kuat dalam riset dan penguasaan teknologi yang mumpuni.

Di tahun pertama Tiongkok akan mendampingi supervisi dan ditahun pembentukannya tim dari Tiran Group mulai dilatih secara mandiri mengoperasikan smelter ini.

“Termasuk juga dalam hal penyusunan perencanaan Detail Engineering Desainnya,” jelas Justan.

“Itu kondisi ideal yang kita harapkan agar sama-sama menguntungkan. Kita yang sedang membangun infrastruktur tentu butuh teknologi mereka, sebaliknya mereka juga butuh perusahaan seperti kita untuk menyalurkan teknologinya,” kata Justan lagi.

Andi Amran Sulaiman Pencetus Ide Smelter

Kata Justan, hanya orang yang memiliki visi yang jernih dan misi yang kuat agar bisa melaksanakan proyek smelter ini. Dan sejauh ini ide yang digelontorkan oleh Andi Amran Sulaiman selaku pemilik Tiran Group telah diterjemahkan oleh Justan.

“Saya hanya menerjemahkan dan menjalankan apa arahan beliau. Seperti ungkapan pepatah “belajarlah sampai ke negeri Cina” tanpa melihat kepentingan apapun kalau Cina yang visibel sekarang maka Cina lah yang kami pakai, maksudnya produknya.

Apa bedanya Cina, Eropa dan Amerika. Cina itu lebih praktis, fungsinya ini kerjakan ini. Kalau Eropa dan Amerika seninya ada, sainsnya dan estetikanya juga ada makanya produk mereka mahal,” ungkap Justan.(SMD)

Leave a Reply

  • (not be published)