LONDON – Tak ada yang mengira bahwa virus corona bisa menjadi pandemi. Muncul pertama kali di Wuhan, China pada akhir tahun 2019, seluruh dunia hanya menyaksikan bagaimana salah satu negara ekonomi terbesar di dunia itu kelimpungan.

Portrait seorang anak kecil India yang miskin dan kelaparan tengah makan dari hasil sumbangan masyarakat (Sumber Foto: Getty Images)

Negara maju hingga berkembang akhirnya merasakan juga apa yang dirasakan China kala itu. Meskipun ekstrem, opsi mengunci kota dipilih dan langsung berimbas pada negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengan Negara Panda itu. Hal itu wajar terjadi karena Wuhan merupakan salah satu pusat industri.

Cepatnya pergerakan orang dan uangnya menggunakan berbagai moda transportasi ternyata tak terkejar oleh upaya beberapa negara maju untuk menekan penyebaran. Italia, Spanyol, Amerika Serikat yang hingga kini menduduki puncak dengan jumlah kasus dan kematian tertinggi turut tertular virus.

Bahkan Brasil dan India sebagai negara berkembang harus membayar penyebaran virus itu lebih mahal dari negara yang maju. Lahan pemakaman hingga peti mati menjadi barang langka karena jumlah kematian mendadak terbang ke angka yang tak pernah tercapai sebelumnya.

Potret itu terjadi di beberapa negara seperti Italia, Brasil dan Kolombia karena sistem kesehatan hancur tak kuat menangani lonjakan pasien. Walhasil, harapan hirup semakin tipis yang berujung pada naiknya kebutuhan pemakaman dan peti mati.

Maka sulit untuk bisa melepaskan ketimpangan dari persoalan pandemi. Seolah mampu memprediksi apa yang terjadi, Bill Gates dalam presentasi Ted Talks menyebut bahwa negara berkembang akan menjadi korban yang paling menderita.

Dikutip dari The Conversation, Profesor Pembangunan Internasional King’s College London University, Andy Sumner; Periset di Australian National University, Christopher Hoy dan Siswa S3 King’s College London University, Eduardo Ortiz-Juarez menuliskan hasil risetnya.

Kurva pandemi virus corona di negara maju telah melandai, di negara berkembang justru sebaliknya. Setidaknya, tiga perempat kasus baru yang tercatat setiap hari berasal dari negara berkembang.

Sayangnya, pemerintah tak memiliki kemampuan yang mumpuni sehingga ancaman krisis ekonomi tak terbendung. Dalam risetnya, dihasilkan bahwa dampak terhadap kemiskinan akan terasa parah.

Berdasarkan beberapa data dari Asian Development Bank (ADB), Goldman Sachs, IMF dan OECD, terdapat tiga skenario terkait pandemi virus corona. Pendapatan dan konsumsi terkontraksi 5%, 10% dan 20%.

Namun, dari riset yang dilakukan menunjukkan bahwa kontraksi ekonomi pada skenario terburuk bisa mendorong hingga 1,12 miliar orang secara global masuk ke jurang kemiskinan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 727 juta yang tercatat pada 2018.

“Ini mengonfirmasi estimasi sebelumnya bahwa virus corona mendorong 400 juta orang ke kemiskinan ekstrem. World Bank mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi saat seseorang hidup dengan biaya kurang dari $1,90 per hari,” katanya.

Rata-rata masyarakat yang berada di garis kemiskinan berada di negara berkembang yang berpendapatan rendah. Potensi penambahan orang miskin justru datang dari jutaan masyarakat yang sudah hidup melampaui batas kemiskinan.

“Orang-orang ini kemungkinan terdampak parah karena banyak di antara mereka yang bekerja di sektor informal yang kerap kali memiliki keamanan sosial yang minim,” katanya.

Kenaikan pada kemiskinan ekstrem akan menandai kenaikan laten secara global sejak 1999 dan merupakan yang pertama kalinya sejak 1990 terkait dengan porsi populasi global yang hidup di tengah kemiskinan.

Terkait dengan lokasi kemiskinan terjadi, kemungkinan negara berpendapatan menengah di Asia seperti India, Pakistan, Indonesia dan Filipina mengalami kenaikan kemiskinan yang drastis. Artinya, tambahan penduduk miskin berasal dari kelompok yang baru lepas dari garis kemiskinan.

“Progres ekonomi negara-negara ini masih cenderung rapuh. Kami pun kemungkinan melihat kemiskinan baru di negara-negara yang masih memiliki tingkat kemiskinan tinggi selama lebih dari 3 dekade seperti Tanzania, Nigeria, Ethiopia dan Kongo,” katanya.

Ketiga peneliti ini pun memprediksi bahwa dampak kemiskinan akibat pandemi virus corona bertahan meski 2020 telah berganti. Hal ini sangat tergantung pada ketersediaan vaksin.

“Bahkan bila kami menggunakan skenario terbaik dan vaksin telah ditemukan di tahun ini, tetap saja tak pasti kapan itu akan menjangkau seluruh populasi global. Itu bisa membutuhkan waktu tahunan,” katanya.

SEMAKIN TIMPANG

Tak ada yang bisa menjamin bahwa negara berkembang mendapatkan akses pada harga terjangkau atau bila semua orang bisa mendapatkan vaksin dengan gratis. Di Chile misalnya telah menerapkan paspor imunitas yang bisa mengancam kelompok tak berpunya bahkan kehilangan akses atau aksesnya berkurang untuk mengumpulkan pendapatan.

“Kita bisa berakhir hidup di masa apartheid Covid-19 dengan mereka yang tervaksin dan tak tervaksin di tempat terpisah dan bekerja di pasar tenaga kerja berbeda,” katanya.

BBC mencatat bahwa hantaman pandemi virus corona terasa lebih parah melewati perbedaan ras. Warga kulit hitam yang tinggal di negara dengan mayoritas penduduk kulit putih atau sebaliknya akan mengalami akses terhadap sumber ekonomi yang lebih terbatas.

Sebelum pandemi, 91,1% rumah tangga di Afrika Selatan rentan terhadap kelaparan dibandingkan dengan hanya 1,3% rumah tangga kulit putih meskipun warga kulit putih hanya menyumbang 7,9% dari populasi.

Ekonom Pembangunan di University of Witwatersrand, Imraan Valodia memprediksi bahwa penerapan lockdown akan berimbas pada hilangnya pendapatan kelompok paling miskin sebesar 45% dari 10% rumah tangga utamanya yang merupakan pekerja informal yang tak mendapatkan jaring pengaman.

“Bagi kelas yang lebih tinggi yang bisa melanjutkan kegiatannya mengumpulkan pendapatan dan yang memiliki kekayaan yang mendukung, lockdown mudah dilakukan,” katanya.

Leave a Reply

  • (not be published)