Model Bait Suci Ketiga yang direnovasi kembali oleh Raja Herodes (Foto: Museum Israel/ THE EDITOR)

YERUSALEM – Tembok Ratapan adalah istilah yang diberikan oleh kalangan Kristen terhadap sisa-sisa dinding Bait Allah yang dibangun oleh Raja Herodes.

Bait ini hancur ketika orang-orang Yahudi memberontak kepada kerajaan Romawi pada tanggal 9 Bulan Av (sebutan untuk kalender Yahudi) pada tahun 70 Masehi. Tembok ini adalah tempat yang penting dan dianggap suci oleh orang Yahudi.

Pengajar Kitab Ibrani Asal Indonesia Rita Wahyu Wulandari saat berbincang dengan The Editor beberapa waktu lalu mengatakan bahwa istilah Tembok Ratapan merujuk pada tata cara ibadah orang-orang Yahudi Rabinik yang menangis di situs tersebut atas kehancuran Bait Allah.

Selama periode pemerintahan Romawi yang telah menjadi Kristen atas Yerusalem (sekitar 324–638 M), orang-orang Yahudi sama sekali dilarang ke Yerusalem kecuali untuk menghadiri Tish’ah Be’av, hari berkabung nasional untuk kehancuran bait ini. Peringatannya dilakukan pada bulan Juli atau Agustus.

“Tish’ah Be’av dianggap sebagai hari paling menyedihkan dalam kalender Yahudi dan karenanya diyakini sebagai hari yang ditakdirkan untuk tragedi. Dan sampai saat ini orang-orang Yahudi meratap di sisa-sisa tempat suci itu,” jelas Rita.

“Juga merupakan hari puasa tahunan (selama 25 jam) pada tradisi Yudaisme, sebagai peringatan pada kesusahan/ bencana dalam sejarah Yahudi itu. Yaitu pada penghancuran Bait Allah yang dibangun Salomo oleh Nebukadnezar dari Babel dan Bait Allah Kedua yang dihancurkan oleh Kekaisaran Romawi,” tambah Rita.

Tembok ratapan (tembok barat) di jaman sekarang (Foto: Sarapan Pagi/ THE EDITOR)

Kata Rita, bagi orang Yahudi istilah Tembok Ratapan adalah suatu bentuk penghinaan bagi budaya mereka. Jadi istilah ini tidak dipakai oleh Yahudi di Israel. Karena di tembok ini orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan.

Selain mengucapkan doa-doa, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah-celah dinding Tembok Ratapan.

Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur dalam perang sebab di situlah Allah berdiam. Jadi, berdoa di situ sama artinya dengan berdoa langsung di hadirat Tuhan.

Panjang tembok ratapan ini aslinya sekitar 485 meter, dan sekarang sisanya hanyalah 60 meter. Sebab Tembok itu pernah dihancurkan pasukan Yordania pada tahun 1949 dan kemudian dibangun kembali.

Penghancuran Bait Allah yang dipugar Herodes ini mengubah tata cara peribadahan orang-orang Yahudi. Ketiadaan bangunan ini membuat mereka melakukan cara ibadah seperti ketika periode pembuangan di Babel pada tahun 586-516 SM dimana tidak ada persembahan korban darah binatang dan diganti dengan doa bacaan.

Bait Suci Bangunan Herodes ini Dibangun Dari Pualam Berlapis Emas

Rita menjelaskan bahwa Bait Suci yang dibangun Herodes terbuat dari pualam putih dan sebagian darinya dilapisi oleh emas yang memantulkan sinar matahari dan menimbulkan pemandangan yang menakjubkan.

Pelataran bait suci tersebut berbentuk empat persegi panjang dengan lebar sekitar 585 kaki dari timur ke barat dan panjang 610 kaki dari utara ke selatan. Di sepanjang dinding sebelah dalam pelataran ini terdapat serambi dengan barisan pilar rangkap dua di sebelah selatannya. Serambi sebelah timur dikenal dengan nama  serambi Salomo karena konon bangunan inilah yang tersisa dari bait suci yang dibangun Raja Salomo. Ruangan kantor terletak di sepanjang dinding ini atau di antara beranda-beranda.

Pelataran sebelah luar dikenal sebagai pelataran orang-orang Non-Yahudi (Goyim). Tidak ada larangan untuk memasukinya, dan ada kalanya pelataran ini digunakan sebagai pasar. Melintang di sebelah utara pelataran ini adalah bangunan utama bait suci yang terdiri dari pelataran dalam dan bangunan-bangunannya. Sisi sebelah timur Bait Suci adalah pelataran bagi wanita dan tepi sebelah barat diperuntukkan bagi kaum pria Israel dan terlarang bagi kaum wanita.

Di tengah-tengah pelataran pria terdapat pelataran imam dan di tengah-tengahnya adalah altar kurban bakaran. Pelataran dalam dibangun lebih tinggi daripada pelataran luar. Di antara kedua pelataran itu, di tepi pelataran dalam, terdapat sebuah jembatan batu yang bertuliskan larangan masuk bagi orang Goyim dengan ancaman hukuman mati. Dinding ini mempunyai sembilan buah gerbang, empat di sebelah utara, empat di sebelah selatan dan satu lagi, mungkin yang disebut Gerbang Indah dalam Kisah Para Rasul pasal 3.

Bagian daerah kudus Bait Suci lebih tinggi dari pelataran dalam dan dapat dicapai melalui kedua belas anak tangga. Pembagian tempatnya sama dengan pembagian di dalam kemah suci, yakni Tempat Kudus dibangun panjangnya sekitar enam puluh kaki dan terletak di sebelah timur. Tempat Mahakudus panjangnya tiga puluh kaki. Di dalam Tempat Kudus meja roti persembahan terletak di sisi utaranya, kandelar bercabang tujuh di sebelah selatannya, serta altar dupa di antara keduanya.

Hanya imam yang diperkenankan memasuki Tempat Kudus. Tempat Mahakudus dibiarkan kosong karena tabut sudah hilang ketika Bait Suci yang dibangun Raja Salomo dihancurkan. Imam besar masuk ke Tempat Mahakudus setahun sekali pada Hari Pendamaian, untuk menyilih dosa umatnya dengan darah.

Tempat Mahakudus dipisahkan dengan Tempat Kudus dengan dua lapis tirai tebal, hingga tidak ada orang yang dapat mengintip ke dalam daerah kudus ini. Di sebelah luar daerah kudus terdapat bangunan berlantai tiga berisi ruangan-ruangan kecil yang dihubungkan dengan tangga yang dijadikan sebagai tempat tinggal para imam atau menyimpan barang-barang.

Di dalam pelataran imam, di sebelah timur altar terdapat sebuah altar kurban bakaran yang besar yang luasnya sekitar delapan belas kaki persegi dan tingginya lima belas kaki. Di atas altar ini selalu terdapat api dan setiap hari selalu diadakan upacara kurban hewan.

Hanya imam yang boleh masuk ke dalam pelataran imam, kecuali mereka yang membawa hewan untuk dikurbankan karena mereka harus meletakkan tangannya di atas kurban itu sebelum disembelih.

“Bait Allah adalah pusat peribadatan di Yerusalem. Yesus sendiri dan kemudian para rasulnya mengajar dan berkhotbah di dalam pelatarannya. Hingga tahun 56 masih ada sebagian anggota gereja di Yerusalem yang benazar di dalam Bait Allah dan yang menjalankan peraturan-peraturan dengan ketat. Pengaruhnya terhadap agama Kristen makin berkurang sejalan dengan makin berkembangnya kekristenan yang banyak terdiri dari orang-orang non-Yahudi,” tutup Rita.

Pembangunan Bait Suci zaman Herodes yang dimulai pada awal tahun 19 SM lebih merupakan suatu upaya untuk memperdamaikan orang Yahudi dengan raja Idumea, raja mereka, ketimbang memuliakan Allah.

Leave a Reply

  • (not be published)