Dr. Suprayitno, sejarawan dan dosen yang fokus pada penelitian situs di wilayah Sumatera (Foto: THE EDITOR)

MEDAN – Tidak banyak yang tahu bahwa Ratu Putri Hijau pernah benar-benar berkuasa di Sumatera Utara. Pertikaiannya dengan Kesultanan Aceh membuat kerajaan ini membangun sebuah benteng yang tidak terkalahkan pada jamannya.

Dr. Suprayitno, sejarawan dan dosen yang fokus pada penelitian situs di wilayah Sumatera mengatakan bahwa nama Putri Hijau disebutkan dalam surat yang ditulis oleh Anderson, seorang utusan dari kantor dagang Inggris di Pulau Pinang pada tahun 1823.

Surat tersebut ditulis Anderson sebagai laporan hasil kunjungannya ke Deli Tua dan isinya mengatakan bahwa di Deli Tua terdapat sisa-sisa sebuah benteng kuno dengan batu segi empat besar dan dindingnya setinggi 30 kaki (9,14 meter) dan 200 depa (365,76 meter) lingkarannya.

“Dalam suratnya dituliskan nama Ratu tersebut adalah Rajah Putri Iju. Dan lanjutan suratnya dikatakan bahwa putri yang terkenal itu adalah orang yang membangun benteng tersebut,” ungkap Suprayitno saat berbincang dengan The Editor beberapa waktu lalu.

Berdasarkan informasi tentang benteng tersebut, lanjutnya, dapat diperoleh informasi tentang benteng tersebut dari masyarakat yang Anderson jumpai di Deli Tua. Dan dari sanalah masyarakat mulai menyebut nama benteng tersebut dengan nama Benteng Putri Hijau.

Secara historis, lanjut Suprayitno lagi, catatan sejarah tentang benteng kerajaan Aru itu sebelumnya pernah muncul juga dari laporan Pinto. Utusan Pedro de Faria penguasa Portugis di Malaka.

Pinto mencatat bahwa perjalanannya ke Aru membutuhkan waktu selama 4 hari dari Malaka memasuki daerah rawa dan sungai Panetican (Lau Patani). Pinto sampai di Kerajaan Aru hari Minggu, Oktober 1539.

Pinto melihat bahwa pada saat itu rakyat Aru sedang membangun benteng-benteng pertahanan setinggi 30 kaki yang ditanami pohon bambu. Pinto menyarankan agar segera menyelesaikan parit perlindungan bagi rakyatnya yang ramah.

“Ada lima atau enam orang pengawal yang langsung mengantarkannya ke Istana Aru yang terletak kira-kira 1 km dari sungai yang dilayarinya dan tepat berada di tengah-tengah benteng. Raja Aru memiliki sebuah meriam besar yang dibeli dari orang Portugis di Aceh,” ungkapnya.

Jarak waktu kunjungan Pinto dan Anderson ke Benteng Putri Hijau adalah 300 tahun. Kata Suprayitno, sejauh ini hanya dua catatan merekalah aktivitas pembangunan benteng oleh Ratu Putri Hijau dapat diketahui oleh dunia.

“32 tahun setelah kunjungan Anderson seorang bernama P.J. Vet dalam bukunya Het Lanschap Deli op Sumatra tahun 1866-1867 muncul dan melaporkan tentang keberadaan benteng tersebut,” tambahnya.

Suprayitno sendiri mengaku telah melakukan sejumlah penelitian di rentang waktu tahun 2008 hingga 2009. Ia menemukan sejumlah artefak yang menjadi bukti kuat bahwa Benteng Putri Hijau adalah bekas Istana Kerajaan Aru. Bukti sejarah yang ditemukan adalah peluru timah dan mata uang dhriham Aceh yang dikaitkan dengan adanya aktivitas gempuran pasukan Aceh sejak 1539, 1540, 1568, 1599, 1613 dan 1620 terhadap benteng kerajaan Aru.

“Satu satunya bukti arkeologis adalah sebuah meriam yang ditemukan oleh Controleur Deli, Cats de Raet pada tahun 1869 ketika mengunjungi Deli Tua dari kantornya di Labuhan Deli. Raet menemukan sebuah meriam yang terdapat tulisan berbahasa Melayu aksara Arab (Jawi) yang berbunyi “Sanat….03 Alamat Balun Haru”,” ungkapnya.

Meskipun tidak dapat diketahui secara pasti makna dan angka tahun pada meriam itu, lanjut Suprayitno, tetapi di kawasan Benteng Putri Hijau telah didapatkan bukti adanya nama Haru.

“Inilah menurut hemat saya satu satunya bukti yang dapat mengkaitkan Benteng Putri Hijau dengan Kerajaan Aru di Deli Tua,” tandasnya.

Aceh Melenyapkan Kerajaan Aru

Banyak orang yang bertanya siapa sebenarnya Ratu Kerajaan Aru yang namanya banyak disebut diberbagai daerah di Indonesia. Suprayitno menjelaskan bahwa beberapa daerah mengenal akan keberadaan Ratu yang memerintah di Sumatera tersebut. Diantaranya Deli Tua, Teluk Haru, Gayo, Silo Buntu (Simalungun), Sei Panai dan Alas.

Tak hanya itu, lanjutnya, kepopuleran Ratu Kerajaan Aru ini juga tersohor hingga ke pesisir timur Sumatera Utara yang berbatasan dengan Selat Malaka. Kisah tentang Ratu ini juga tersebar hingga ke Aceh, Karo, Melayu dan Simalungun.

Kata Suprayitno, Benteng Putri Hijau merupakan benteng kuat yang dibangun dengan memanfaatkan topografi alam (Lau Tani atau Deli) dan keunggulan teknik yang luar biasa. Sehingga mampu bertahan dari gempuran bertubi-tubi dari pasukan Aceh sejak tahun 1539 sampai 1620.

“tiga raja Aceh yang memerintah di tiga periode yang berbeda mencoba menghancurkan benteng ini mulai dari dari Al Qahar hingga Iskandar Muda tapi tidak berhasil,” ungkapnya.

Karena Benci, Kesultanan Aceh Mengubah Sejarah Tentang Leluhur Kerajaan Aru

Ia menjelaskan bahwa catatan sejarah menuliskan bila Raja Aceh sangat benci dengan Kerajaan Aru yang bersekutu dengan Portugis, bukan Inggris seperti mereka. Pertikaian keduanya adalah untuk menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka.

Saat Aceh berhasil menghancurkan Kerajaan Aru di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda, Aceh langsung mengganti nama Aru menjadi Ghori dan kemudian Deli. Kemunculan Deli sebagai sebuah negeri baru muncul pada abad ke-17 M.

Aceh yang merupakan musuh bebuyutan Kerajaan Aru, saat berhasil berkuasa langsung mengubah sejarah Kerajaan Aru. Dalam catatan sejarah dibuat bila kerajaan Deli adalah sebuah kerajaan baru di Sumatera. Padahal data tersebut tidak benar karena identitas dan sumber leluhur kerajaan Deli adalah Kerajaan Aru.

“Raja Aceh tidak merujuk Kerajaan Aru sebagai leluhur dinasti Deli, melainkan Ghotjah Pahlawan, seorang Ksatria Aceh yang berasal dari India,” jelasnya.

 

 

Leave a Reply

  • (not be published)