Pemandangan kota tua di Yerusalem (Foto: I Travel Jerussalem/ THE EDITOR)

YERUSALEM – Meskipun Tuhan sudah menjanjikan tanah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, namun bangsa Israel harus mengalami kehidupan sebagai budak di Mesir selama 430 tahun. Sampai waktunya Tuhan mengutus Nabi Musa untuk membawa bangsa Israel ke tanah perjanjian.

“Butuh waktu 40 tahun berada di gurun pasir untuk sampai di Tanah Perjanjian, tanah yang disebut penuh dengan susu dan madu,” sebagaimana dilansir oleh Fakta Israel beberapa waktu lalu.

Tanah Kanaan yang menjadi cikal bakal tanah perjanjian bukannya tanpa penghuni. Yosua yang menggantikan Musa harus berperang melawan 7 bangsa yang mendiami Kanaan sebelum membagikan tanah itu kepada suku-suku bangsa Israel.

Israel kemudian menjadi kerajaan dengan Saul sebagai raja pertamanya dan kemudian digantikan oleh Raja Daud yang memerintah di Yerusalem selama 33 tahun.

Sementara itu, Raja Salomo membangun Bait Suci, rumah ibadah untuk orang Yahudi. Usai masa Raja Salomo, Israel sempat pecah jadi dua, yakni Israel dan Yehuda.

Selama masa itu berkali-kali terjadi invasi oleh negara-negara disekitar Israel. Raja Babilonia menghancurkan Bait Suci pertama dan bangsa Israel pun dibuang ke Babilonia.

Berkat Koresh, Raja Persia yang menaklukkan Babilonia, bangsa Israel yang berada di pembuangan diizinkan kembali pulang ke tanahnya. Inilah yang disebut dengan zionisme, yang berarti kembalinya bangsa Israel ke tanah mereka.

Walaupun Bait Suci kedua kembali dibangun di Yerusalem, namun penguasa asing masih terus mengincar Israel. Kali ini dibawah Alexander Agung dari Yunani yang membawa Helenisme.

Saat Israel dijajah Romawi, saat kekristenan dimulai saat kelahiran Yesus Kristus di Betlehem di Tanah Yudea. Yudea berasal dari kata Yehuda. Kaisar Romawi Adrian yang mengubah nama wilayah Yudea menjadi Palestina.

Bait kedua hancur pada tahun 70 M oleh bangsa Romawi karena bangsa Israel memberontak atas pendudukan mereka. Israel akhirnya lepas dari Kekaisaran Byzantium menjadi Islam setelah Umar Bin Khattab mengepung Yerusalem pada tahun 634 M. Penguasa Islam silih berganti menduduki tanah Israel. Kekaisaran Ottoman berkuasa di tanah Israel selama 400 tahun.

Ketika kekuasaan Ottoman beralih ke Inggris tahun 1917, Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour berjanji akan memberikan tanah yang dikuasai oleh mereka kembali ke tangan orang Yahudi. Ide ini membuat orang Arab Palestina marah. Mereka adalah keturunan dari penjajah yang tinggal di orang Yahudi.

Akibatnya, tahun 1947 PBB membagi tanah Israel menjadi Arab Palestina dan Yahudi Palestina. Resolusi ini disetujui oleh 33 negara, 13 negara menolak dan 10 abstain.

Orang Yahudi menyambut meriah keputsan ini dengan mengadakan perarakan, menari dan bersorak di Yerusalem. Namun sebaliknya, orang Arab justru mengamuk dan merusak properti orang Yahudi seperti membakar pertokoan.

Di masa itu, konflik antara bangsa Yahudi dan bangsa Arab jadi tontonan biasa dan menimbulkan banyak korban jiwa. Bahkan, banyak korban jiwa diantaranya ditusuk dan ditembak. Dan dilakukan aksi penurunan bendera Inggris di Haifa, Israel pada tahun 1948.

Di tahun 1948 Perdana Menteri Israel pertama David Ben-Gurion mendeklarasikan kemerdekaan Israel pada 14 Mei 1948. Israel terlahir kembali dari kerajaan menjadi negara.

Negara-negara Arab di Mesir, Libanon, Suriah, Yordania dan Irak menyerang Israel yang baru saja merdeka. Negara-negara Arab ini ingin menguasai seluruh tanah Arab yang membawa persoalan selama 72 tahun sampai sekarang.

Untuk melihat tayangan video lebih lengkap tentang sejarah Israel, dapat di klik di: Israel, Dari Kerajaan Hingga Menjadi Negara #FaktaIsrael

Leave a Reply

  • (not be published)