Museum peringatan peristiwa pembunuhan 30.000 warga Pulau Jeju yang hingga sekarang belum diakui oleh pemerintah Korea Selatan sebagai bentuk kejahatan atas hak azasi manusia (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

PULAU JEJU – Di era sekarang ini, Pulau Jeju yang berada di Korea Selatan adalah salah satu destinasi wisata favorit turis-turis manca negara. Pulau kecil ini sering kali dijadikan sebagai latar belakang pembuatan drama romantis.

Namun tak hanya drama romantis, Jeju juga sering dijadikan sebagai lokasi syuting film kolosal Korea yang sangat sadis seperti Dae Jang Geum. Di serial drama ini, Pulau Jeju dijadikan sebagai tempat pembuangan tawanan yang dihukum oleh raja.

Tidak banyak yang bisa tiba dengan selamat di Jeju karena perjalanan yang ditempuh dengan perjalanan darat cukup melelahkan. Namun, untuk mereka yang tiba di Jeju dengan selamat, maka ada peristiwa lain yang siap menunggu mereka disana.

Ulasan The Editor kali ini adalah peristiwa pembantaian di Pantai Hamdeok. Wisatawan yang datang ke pantai ini tidak akan tahu bila pantai berpasir putih tersebut adalah tempat terbunuhnya sejumlah masayarakat (Korea) beberapa dekade lalu.

“Sebenarnya, jurang besar dari Air Terjun Jeongbang dulu dipergunakan untuk menyingkirkan mayat-mayat korban yang dibunuh saat pembantaian masal dan mayat-mayat pun masih terkubur dibawah Bandara Internasional Jeju,” ungkap Baek Ga-yoo kepada The Korea Times.

Di Pulau Jeju pernah terbunuh 30.000 orang pria, wanita dan anak-anak. Peristiwa yang dikenal dengan Pembantaian Pulau Jeju ini terjadi di bulan April 1947 hingga Mei 1945. Kampanye penindasan anti komunitas pada akhirnya diadakan di era modern ini untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

Baek mengatakan sekitar 800 situs bersejarah yang terkait dengan pemberontakan tersebut tidak dipelihara dengan baik oleh pemerintah dan beberapa tempat justru dibiarkan terbengkalai serta terlantar.

“Seperti turis Korea selatan yang akan mencari tahu tentang sejarah tempat destinasi wisata mereka di negara lain, para orang asing yang berkunjung ke Jeju pun akan penasaran tentang sejarahnya. Kami juga berencana untuk memasukan spot yang jelas di peta online menggunakan Google, Naver, dan Daum, agar para turis bisa dengan mudah mengunjungi tempat-tempat ini,” jelas Baek.

Baek bekerja di lembaga People’s Solidarity untuk Demokrasi partisipatif, sebuah organisasi masyarakat terbesar di Korea Selatan. Baek bertanggung jawab pada bagian solidaritas internasional yang berhubungan langsung dengan LSM asing dan PPB.

Baek percaya bahwa dengan bercermin dari sejarah kelam dari Semenanjung Korea, maka dunia pasti bisa menyelesaikan tragedi yang tengah berlangsung di negara-negara tetangga termasuk di kejadian Rohingya di Myanmar.

“Jika kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah, maka sejarah tersebut tidak akan terulang kembali di tengah-tengah masyarakat karena adanya kesadaran di benak masyarakat,” jelasnya.

Baek mengaku tidak bermaksud mengganggu kenyamanan turis di Pulau Jeju dengan mengungkit lagi sejarah mengerikan tersebut. Namun, untuk tetap memuaskan rasa ingin tahu orang-orang dari berbagai negara, daerah, mau pun generasi lainnya, Baek melalui organisasi Jeju Dark Tour ini menyusun program dan rute perjalanan yang disesuaikan dengan tetap menunjukkan lingkungan indah Pulau Jeju, aset budaya, serta keseniannya, namun masih bertema tentang kejadian 3 April (pembantaian masal) tersebut.

Leave a Reply

  • (not be published)