Kepala BKP (Badan Ketahanan Pangan) Kementerian Pertanian Agung Hendriadi adalah sosok bertangan dingin dibalik kesuksesan TTIC dan TTI (Foto: Elitha Tarigan untuk The Editor)

JAKARTA – 2015 adalah tahun dimana kementerian pertanian diributkan oleh isu mafia pangan dan harga pangan yang tak carut marut. Di banyak provinsi di Indonesia, termasuk di Jawa, petani mengeluh tentang rendahnya harga jual hasil pertanian. Petani tak diam, mereka ramai-ramai membuang hasil panen mereka ke jalanan sembari melemparkan keluhan serta caci maki.

Saat itu, pemerintah tak punya pilihan lain selain memanggil Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Istana Negara untuk menyelesaikan persoalan yang telah terjadi menahun. Dari sana, keputusan akhirnya dikeluarkan. Kementerian Pertanian mengambil bagian hilir yang seharusnya dipegang oleh Kementerian Perdagangan.

Nama Agung Hendriadi, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian akhirnya muncul sebagai orang yang diminta untuk menggawangi Toko Tani Indonesia Center (TTIC). Salah satu kebijakan yang sangat berani Ia ambil kala itu adalah memotong rantai pasok pangan agar harga barang yang dibeli konsumen bisa murah. Sementara itu petani memperoleh harga yang tinggi untuk komoditi pertanian mereka.

Kebijakan ini tentu tidak menguntungkan bagi tengkulak yang selama ini dengan santai memainkan harga jual pangan kepada konsumen. Pekerjaan yang semestinya dilakukan oleh Kementerian Perdagangan ini tidak setengah-setengah dilakukan oleh Kementerian Pertanian. Karena 34 TTIC dibuka langsung di 34 provinsi. Sementara itu, untuk mewadahi penjualan beras dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Agung menjalin kerja sama dengan masyarakat di daerah untuk membuka Toko Tani Indonesia (TTI).

Jadi, di warung-warung dan kios milik warga, Agung menjual beras-beras milik Gapoktan dengan harga yang wajar. Kebijakan ini diambil saat itu karena harga beras selalu tinggi. Gempuran beras impor yang berhasil dihentikan oleh pemerintah ternyata memunculkan isu baru, yakni cadangan menipis di beberapa tempat.

Namun, Agung tidak terkecoh. Pria yang mengambil program doktor di AIT, Bangkok ini rajin mendatangi gudang-gudang beras milik Bulog. Tujuannya adalah untuk mengetahui persoalan harga beras yang tengah jadi polemik. Dengan kata lain, Agung mengawal penjualan harga beras petani agar dibeli dengan harga wajar dan standar sebagaimana yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Selain itu, Agung juga dipercaya untuk menghalau gempuran beras impor yang selalu digaungkan oleh Bulog. Jadi, saat Bulog mengatakan cadangan beras menipis, maka Agung langsung menghantarkan beras-beras yang ada di gudang TTI dan TTIC.

Lagi-lagi Bulog mengeluarkan alasan lain, diantaranya adalah Bulog tidak bisa membeli beras dengan harga diluar aturan pemerintah. Saat Agung menyesuaikan harga beras agar sesuai standar Bulog, maka permintaan lain muncul lagi. Mereka katakan bila tingKat kekeringan beras yang dihasilkan para Gapoktan kurang memenuhi standar Bulog.

Agung tidak diam, Ia meminta kepada menteri pertanian agar membantu para Gapoktan lewat bantuan alat mekanisasi pertanian yang berstandar tinggi agar mampu menghasilkan beras dengan tingkat kekeringan standar Bulog. Para Gapoktan ini diberi keringanan berupa pinjaman berkala. Dan, Agung pun tak pernah berhenti memantau pembayaran cicilan para Gapoktan ini. Tujuannnya saat itu adalah agar petani juga jadi mandiri dan bertanggung jawab.

Perubahan Nama TTIC dan TTI Justru Membuat Harga Komoditi Pangan Naik

Kini. 4.000 TTIC dan TTI telah muncul ke publik. Harga-harga telah dikontrol sebagaimana mestinya. Namun, beberapa kali, masih muncul kekurangan karena harga jual komoditi pertanian petani masih murah. Agung yang telah berhasil menggiring TTIC dan TTI agar dijual secara online belum mengawal situs penjualan yang telah Ia susun dengan sempurna.

Padahal, Agung adalah orang pertama di Kementerian Pertanian yang berhasil menjadi Kepala Biro Hubungan Masyarakat yang mampu mengawal kerja Kementerian dengan baik. Karena biasanya para menteri terkait akan menggunakan jasa Humas swasta selama karirnya untuk mencegah terjadinya simpang siur data data nepotisme.

Apa yang jadi kekurangan Agung? Salah satunya adalah dengan tidak dikelolanya sistem informasi TTI dengan baik dan benar. Data harga komoditi pertanian yang seharusnya bisa diakses oleh petani secara online ternyata tidak ada sama sekali. Sangat disayangkan.

Selain itu, TTIC dan TTI kini berubah nama usai pergantian menteri. Di era Syahrul Yasin Limpo, nama keduanya berubah menjadi Pasar Mitra Tani dan Toko Mitra Tani. Keduanya berubah menjadi retail modern dengan gedung yang bagus.

Banyak kabar yang menyebutkan bahwa pergantian nama ini terjadi karena status partai pengusung menteri pertanian yang baru berbeda. Pergantian logo juga tak luput dari perubahan kebijakan ini. Sayangnya, perubahan nama justru tak membuahkan hasil yang besar.

Nyatanya, di pasar-pasar masih ditemukan harga komoditi pangan yang mahal dan langka. TTI dan TTIC yang sempat menjaga harga pangan tetap stabil di hari raya justru jebol. Dimana di hari-hari biasa harga komoditi pertanian dan daging untuk pertama kalinya tidak bisa diturunkan harganya.

Misalnya harga daging babi. Dari catatan redaksi, komoditi ini sudah bertahan di angka Rp140.000 per kilogram di Sumatera Utara. Dan kementerian pertanian mengaku tidak bisa berbuat apa-apa.

Ternyata memang benar, kebijakan kementerian dan lembaga sangat tergantung dari siapa menteri yang mengawalnya.

Leave a Reply

  • (not be published)