Sholat di halaman Masjid Kubah Emas (Dome of The Rock) yang tengah diguyur salju (Foto: Suhaib Salim/ REUTERS/ THE EDITOR)

YERUSALEM – Klaim keagamaan tentang Yerusalem sudah berlangsung sejak puluhan tahun. Situasi makin memanas tatkala Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Donald Trump memindahkan kedutaanya  dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Pengajar Kitab Ibrani asal Indonesia Rita Wahyu Wulandari mengatakan bahwa Yerusalem adalah kota suci untuk tiga agama besar, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Dimana bagi orang Muslim terdapat dua masjid yang dikaitkan dengan mi’raj Muhammad, yaitu Masjid Qubah al-Shakrah (Dome of the Rock) yang dibangun oleh Khalifah ‘Abd al-Malik bin Marwan pasa tahun 695 M dan Masjid Al-Aqsha yang dibangun oleh putranya, Khalifah Walid bin ‘Abd al-Malik pada 705 M.

Istilah الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى (baca: al-Masjid al-Aqsha) diambil dari Al-Qur’an yakni سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَىالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى yang dibaca Subhāna alladzi bi’abdihi asrā laylan min al-Masjīd al-Harām ila al-Masjīd al-Aqshā. Artinya adalah Maha suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha” (Q.s. Al-Isra’/17:1).

Rita menjelaskan bahwa klaim Israel atas Tanah Suci didasarkan atas fakta historis bahwa Israel pernah eksis sebagai negara besar di bawah pemerintahan Raja Daud dan Raja Salomo, juga tidak lepas dari kritik. Mengapa? Karena kedua raja Israel itu juga diimani sebagai naik-nabi bagi Islam.

“Sebaliknya, kalau hak kepemilikan Palestina atas tanah ini didasarkan klaim teologis Al-Qur’an, lebih parah lagi  karena akan menjadi senjata makan tuan sebab Kitab Suci Islam sendiri mengakui bahwa Palestina telah diberikan kepada kaum Musa, yaitu Bani Israel seperti tertulis يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (baca: Yā qaumi udzkhulu al-ardha Al-muqaddasat allatī kataba allahu lakum wa lā yataddu ‘ala adbārikim fatanqalibu khasirīn. Artinya: “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu mundur, maka kamu menjadi orang-orang yang merugi” (Q.s. Al-Ma’idah/5:21),” ujar Rita beberapa waktu lalu. 

Rita yang juga adalah seorang dosen di Biblical Hebrew Research Center – STT Ekumene ini mengatakan bahwa bila klaim teologis Palestina didasarkan atas idenfifikasi dengan kaum Filistin kuno atas Yerusalem, maka kendalanya adalah bangsa Palestina harus mau disamakan dengan kaum gagah perkasa yang harus diusir keluar dari Tanah Suci supaya umat Musa bisa memasukinya (Q.s. Al-Maidah/5:22 yang isinyaقَوْمًاجَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَيَخْرُجُوامِنْهَا  (baca: qaumān jabarīna wa innā nadkhuluhā ḥatta yakhruju minhā).

“Jadi, sebutan Palestina modern tidak sama dengan bangsa Filistin kuno yang diidentikkan dengan kaum raksasa musuh Daud, yaitu Goliat (Jalut) menurut kisah Alkitab maupun Al-Qur’an,” kata Dosen yang mengajar di Israel Bible Center  Associate Lecturer in Biblical Studies ini.

Faktanya, lanjut Rita, bangsa Palestina sekarang yang tinggal di Palestina adalah sebagian besar merupakan Imigran Arab yang sudah datang selama beberapa abad terakhir dan sebelumnya menjadi warga dari salah satu propinsi kekhalifahan Turki Utsmani sebelum keruntuhannya tahun 1924.

Nama Palestina justru dipopulerkan pertama kali pada tahun 136M oleh Kaisar Hadrianus, penguasa pagan Romawi, yaitu Syria-Palestina sebagai propinsi baru Romawi yang menggabungkan wilayah Syria dan Yudea. Sebutan ini juga dilakukan berbarengan dengan ditundukkan pemberontakan Yahudi Bar Kokhba yang tujuannya adalah menghapus identitas keyahudian agar tidak membangkitkan kembali nasionalisme Israel, nama Yerusalem juga diubah menjadi nama pagan “Alia-Capitolina” (dalam catatan Adrian Woff, 2010:108).

Menariknya, masih kata Rita lagi, bukan nama Yerusalem yang dikenal dalam literatur Islam, tetapi justru إيليا“Iliyā” yang merupakan bentuk arabisasi dari Aleia. Nama ini diabadikan dalam dokumen Perjanjian Umar yang dalam bahasa Arabnya العهدة العمرية, “Al-’Ahdat al-’Umariyya”, Perjanjian Iliya (Arab: ميثاق إيليا, “Mitstāq Iliyā”), seperti yang dicatat dalam Tarikh Ath-Thabari III, 609.

Setelah diawali dengan bacaan basmallah, Rita katakan bahwa perjanjian ini diawali dengan kalimat: هذا ما أعطىعبد الله عمر أمير المؤمنين أهل إيليا من. الأمان, “Hadzā mā a’thā ‘abdullahi ‘umar amīr al-mu’minīn ahla iliyā min al-amān” (Inilah jaminan keamanan yang diberikan `Abdullah, Umar, Amir al-Mu’minin kepada penduduk Aelia).

Leave a Reply

  • (not be published)