Basilika San Paolo tampak depan (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)

ROMA – Basilika San Paolo adalah gereja yang didedikasikan bagi St. Paulus. Gereja ini sendiri berstruktur Bizantium yang mengesankan.

Patung Santo Paulus yang menghiasi bagian depan basilika menegaskan jati dirinya yang kuat dan perkasa. Gereja ini adalah basilika patriarkal terbesar di Roma setelah basilika Santo Petrus di Vatikan.

Dengan wajah gembira walaupun terlihat letih, semua peserta tampak antusias mengitari gereja untuk menuju ke pintu masuk yang sedang di renovasi.

Setelah mengunjungi pintu suci, Wong Sandy, tour leader kami yang ramah ini memimpin para peserta tour Christour kali ini untuk masuk dan berdoa di dalam Gereja.

Gereja ini sendiri dibangun pada abad-abad pertama Kekristenan di tempat Santo Paul dimakamkan, yaitu sekitar tahun 313. Hal ini berhubungan erat dengan Kaisar Konstantinus yang mengeluarkan Dekrit Milan, dimana Kerajaan Romawi harus mengakhiri penganiayaan terhadap orang-orang Kristen dan memberi mereka kebebasan beribadah serta mendukung pembangunan tempat-tempat doa.

Tentu saja, tujuan situs kesyahidan Santo Paulus ini untuk ziarah. Secara perlahan, gereja ini di perbaiki terus menerus. Gedung gereja yang dibangun pada masa Konstantin ini dianggap terlalu kecil jika dibandingkan dengan arus peziarah. Kemudian gereja yang lama dibongkar dan dibangunlah basilika yang lebih besar dengan mengubah orientasinya, dari timur ke barat.

Dengan menyaksikan cinta Gereja terhadap tempat ini, para Paus tidak berhenti untuk memulihkannya dan mempercantiknya dengan penambahan lukisan dinding, mosaik, lukisan, dan kapel selama berabad-abad.

Dapat dikatakan bahwa Gereja saat ini adalah hasil dari intervensi besar-besaran dari rekonstruksi dan pemulihan, yang terjadi pada paruh kedua tahun 1800-an, sebagai akibat dari kebakaran hebat pada bulan Juli 1823, yang menghancurkan banyak bagian basilika kuno ini. Gereja baru ditahbiskan pada tahun 1854 selama masa kepausan Pius IX.

Siapakah Santo Paulus

Kisah tentang Paulus ini bersumber dari catatan sejarah, surat-suratnya yang asli, Injil Lukas, dan tentu saja dari tulisan di masa tuanya yang dikenal dengan nama surat Deutero Paulinis.

Paulus adalah seorang pemuda keturunan bangsa Yahudi, yang dilahirkan di Tarsus antara tahun 5-10 setelah Yesus lahir. Paulus memiliki nama Ibrani, Sya’ul, yang kemudian dikenal dengan nama Saulus.

Nama lainnya yang diambil dari nama bangsa Yunani atau Romawi, yakni Paulus. Paulus yang tumbuh besar dalam lingkungan helenis atau Yunani, adalah seorang terdidik dan ahli retorik. Sebelum pertobatan terjadi, Paulus dikenal sebagai seorang penganiaya orang Kristen.

Pertobatan Paulus dapat diperkirakan antara tahun 33-36 Masehi, dengan bukti kuat untuk tahun 34 dengan mengacu pada salah satu suratnya. Menurut Kisah Para Rasul, pertobatannya atau yang lebih dikenal dengan istilah metanoia terjadi saat dia dalam perjalan menuju Damaskus di mana ia mengalami pertemuan dengan Yesus, yang kemudian menyebabkan ia menjadi buta untuk sementara.

Kisah ini dapat ditemukan dalam Kisah Para Rasul 9: 1-31. Dapat dikatakan bahwa pertobatan ini sangat istimewa di mana kemauan untuk Paulus bertobat awalnya datang dari Tuhan Yesus sendiri, setelah itu barulah muncul niatan bertobat dari Paulus sendiri.

Setelah bertobat perjalanan misi Paulus berpusat di kawasan Asia Kecil dan Yunani pada tahun 46, 50, dan yang ketiga di tahun 54. Problem yang dialami disana adalah tentang sunat dan menaati hukum Taurat. Revolusi Paulus yang terkenal adalah bahwa sunat bukanlah syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan. Seseorang, atau tepatnya siapapun akan diselamatkan jika percaya kepada Kristus.

Kematian Paulus sendiri terjadi ketika ditahan beberapa kali oleh tentara Romawi, dan akhirnya dibunuh di Roma sekitar tahun 67 dalam masa pemerintahan Kaisar Nero. Sebelum kematiannya, dia menuliskan beberapa nasehatnya yang terkenal, diantaranya terdapat di dalam surat kepada jemaat di Kolose dan Efesus.

Leave a Reply

  • (not be published)