Pemandangan Kota Tua Yerusalem (Foto: Oded Balilty/ AP/ THE EDITOR)

JAKARTA – Indonesia dan negara manapun tidak perlu gegabah dalam menentukan siapa yang salah dalam konflik antara Palestina dan Israel. Pasalnya bila dirunut dari sejarah, kedua negara ini 100 persen hanya bertarung untuk memperebutkan wilayah bukan agama sebagaimana yang tersebar di luar.

“Keterkaitan Islam dengan Yerusalem secara historis baru mulai dari zaman Umar, bukan sejak awal dari zaman Nabi, kecuali yang berkaitan dengan peristiwa metahistoris Isra’ Mi’raj,” ujar Pengajar Kitab Ibrani asal Indonesia Rita Wahyu Wulandari saat berbincang dengan The Editor beberapa waktu lalu.

Bila menggunakan istilah agama dalam peperangan ini, maka bagi orang Muslim hanya terdapat dua masjid yang dikaitkan dengan mi’raj Muhammad, yaitu Masjid Qubah al-Shakrah (Dome of the Rock) yang dibangun oleh Khalifah Abd al-Malik bin Marwan pada tahun 695 M dan Masjid Al-Aqsha yang dibangun oleh putranya, Khalifah Walid bin ‘Abd al-Malik pada 705 M.

Dan juga, bila hak kepemilikan Palestina atas tanah ini didasarkan klaim teologis Al-Qur’an, maka justru lebih parah lagi karena akan menyerang Islam sendiri sebab Kitab Suci Islam mengakui bahwa Palestina telah diberikan kepada kaum Musa, yaitu Bani Israel. 

Rita yang juga adalah seorang dosen di Biblical Hebrew Research Center – STT Ekumene ini mengatakan bahwa bila klaim teologis Palestina didasarkan atas idenfifikasi dengan kaum Filistin kuno atas Yerusalem, maka kendalanya adalah bangsa Palestina harus mau disamakan dengan kaum gagah perkasa yang harus diusir keluar dari Tanah Suci supaya umat Musa bisa memasukinya.

Nah, sementara itu bagi orang Yahudi dan Kristen, Yerusalem adalah rumah dan tanah yang diduduki sejak jaman nabi-nabi. Umurnya juga jauh lebih tua dari agama Islam. Sekedar informasi, Yahudi menjadi kaum imigran dan terusir dari Tanah Suci Yerusalem karena Bait Allah dihancurkan oleh Jenderal Titus dari Roma tahun 70 M.

“Selama 2.000 tahun setiap orang Yahudi di seluruh dunia rindu kembali ke Yerusalem, khususnya ke Beyt HaMiqdas sekalipun secara fisik yang tersisa hanya Tembok Ratapan,” ungkap Rita.

Rita mengingatkan bahwa Orang Yahudi tidak semua beragam Kristen dan Orang Yahudi belum tentu agamanya Kristen. Silsilah Yahudi berasal dari suku bangsa Yehuda atau Kerajaan Yehuda yang kala itu Rajanya bernama Ahas Bin Yotam. Kerajaan Yehuda terbentuk akibat perpecahan Kerajaan Israel selepas wafatnya Raja Salomo dimana Kerajaan Israel terbagi menjadi dua yakni Utara dan Selatan. Yang di bagian selatan disebut Kerajaan Yehuda yang dihuni oleh dua suku, yakni Yehuda dan Benyamin (plus suku Lewi yang bertugas melayani Bait Allah atau Bait Suci).

Oleh karena di kerajaan di bagian Selatan ini suku Yehuda eksis secara mayoritas, dimana raja-rajanya adalah keturunan dari Daud dan Salomo yang juga berasal dari suku Yehuda, maka penduduknya disebut orang-orang Yahudi yang dalam bahasa Inggris disebut The Jews.

Nah, orang Kristen tidak mempunyai ikatan emosional yang sekuat orang Yahudi atas Yerusalem sekalipun Golgota adalah situs sejarah yang penting bagi Kekristenan. Situs ini tidak termasuk dalam kewajiban teologis untuk menziarahinya. Begitu juga bagi umat Islam, posisi al-Quds (Yerusalem) menempati urutan ketiga setelah kedua kota suci (Al-Haramain), yaitu Makkah dan Madinah.

“Jadi, mengusut sejarah Palestina memang ruwet. Saya memilih tidak buru-buru untuk berpihak pada siapa yang dianggap benar. Baik itu sisi Israel dan sisi Hamas. Memang kejadian bentrokan pada area Masjidil Aqsa pada hari Yerusalem dipicu oleh provokasi Hamas, so far memang Hamas yang memulainya. Namun demikian tampaknya kita bersama harus menunggu, dan tidak gegabah menyalahkan salah satu pihak. Urusan ini nyaris 100% politik. Konflik ini adalah konflik wilayah, dan bukan konflik agama,” tandas Rita.

Israel, kata Rita, tidak mewakili kekristenan karena Israel punya agama sendiri. Sebaliknya di Palestina sendiri juga terdapat masyarakat yang juga menganut agama Kristen.

“Di kawasan Betlehem ada banyak sekali penduduk Palestina Kristen,” kata Rita yang merupakan lulusan Universitas Ibrani Yerusalem ini.

“Banyak kontroversi. Bahkan sebagian beranggapan bahwa Palestina bukanlah suatu suku atau bangsa tertentu, apalagi sebuah negara. Sementara pihak Yahudi berkata: “Ini tanah yang dijanjikan Tuhan bagi kami, my holy land,” kata Rita lagi.

Untuk Hamas, Saudi Arabia telah mengkategorikan mereka sebagai organisasi terorisme. Kondisi ini menurut Rita akan sulit mengajukan Hamas ke Mahkamah Internasional karena organisasi ini bisa dikatakan mirip dengan ISIS yang penghapusannya tidak melalui pengadilan tetapi perang.

Leave a Reply

  • (not be published)