JAKARTA – Memasuki bulan Juni 2020 terdapat 1,45 juta ton beras di gudang Bulog, angka ini merosot tajam dari tahun 2019 lalu yang sempat menembus angka 2,2 juta ton. Dengan kata lain, pemerintah era sekarang menghasilkan beras dengan minus 750 ribu ton dari pemerintah sebelumnya.

Gudang Beras Bulog (Sumber : Kementerian Pertanian RI)

“Stok saat ini ada 1,47 juta ton, Stok di periode sekarang di tahun lalu 2,2 juta ton,” ujar Sekretaris Perusahaan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), Awaludin Iqbal saat berbincang dengan The Editor, Kamis (4/6).

Menurut Iqbal, angka 1,45 juta ton adalah jumlah beras bersih yang telah diterima oleh Bulog dan angkanya pun tergolong standar. Dengan kata lain bukan gabah kering atau basah.

Diwawancara terpisah, Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi justru mengatakan bahwa jumlah stok beras saat ini baru mencapai 1,42 juta ton. Ia memprediksi hingga Juli 2020 mendatang jumlah total beras yang akan di produksi petani mencapai 8,13 juta ton. Untuk diketahui, konversi atau penyusutan dari GKG (Gabah Kering Giling) sampai jadi beras adalah 57,1 persen.

Suwandi menyebutkan angka prediksi tersebut Ia peroleh dari KSA (Kerangka Sampel Area) BPS (Badan Pusat Statistik). Karena selama ini Kementan memang menggunakan data acuan pertanian dari sana.

“Data KSA BPS stok total akhir Juli prediksi 8,13 JT ton beras diantaranya ada di Bulog saat ini 1,42 JT ton,” jelas Suwandi.

Untuk diketahui, di bulan April 2020 kemarin Kementan mengklaim tengah terjadi panen raya padi di beberapa titik di Tanah Air. Pertanyaannya, bila panen raya tengah berlangsung mengapa jumlah stok beras justru tidak mencapai nilai terbaiknya seperti tahun lalu? Ada apa dengan kinerja Kementan?

Pertanyaan lain yang hingga saat ini masih juga enggan di jawab oleh pemerintah adalah bagaimana mungkin harga gabah bisa turun karena seharusnya saat ini Bulog disibukkan dengan proses pembelian gabah di petani untuk memenuhi gudang mereka. Logikanya, untuk mencapai angka 2,2 juta ton seperti tahun lalu maka pemerintah harusnya selalu siap di lapangan menyerap gabah petani lewat penggilingan. Dengan kata lain, sebenarnya surplus panen ini ada atau tidak? Mengapa harga gabah turun sementara target tidak tercapai.

Target cadangan tidak tercapai karena apa? Apakah kucuran dana lewat KUR (Kredit Usaha Rakyat) sebesar Rp500 juta kepada para pemilik penggilingan padi adalah solusi utama agar penyerapan gabah petani bisa dilakukan secara maksimal dan penurunan harga gabah bisa ditekan?

Sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 24 Tahun 2020 tentang Penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah atau Beras, HPP Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani naik menjadi Rp4.200 per kilogram dan di penggilingan menjadi Rp4.250 per kilogram

Leave a Reply

  • (not be published)