BOSNIA – Mostar, kota dingin di belahan Selatan Eropa di Semenanjung Balkan. Pertama kali menginjakkan kaki di kota ini saya sedikit dihinggapi perasaan cemas. Maklum karena selain jauh, untuk masuk ke wilayah ini juga cukup sulit. Dari Ljubjlana, Slovenia saya menaiki flixbus dengan tujuan Mostar Zapadni kolodvor. Dengan tiket seharga 26 euro saya memulai perjalanan malam selama 13 jam diatas bus.

The Old Bridge of Mostar (Fotografer – Elitha Evinora Tarigan)

Petugas imigrasi memberlakukan aturan ketat saat masuk ke wilayah Bosnia. Untuk mendapat izin masuk ke wilayah Croatia bus yang kami tumpangi harus menunggu berjam-jam di Kota Bregana. Suasana malam yang sangat dingin harus dinikmati saat petugas tak kunjung menyerahkan paspor kami. Hingga tiga jam berikutnya baru izin itu keluar dan perjalanan pun dilanjutkan ke Croatia. Berhenti sebentar di Zagreb, akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Bosnia.

Pagi hari sekitar pukul 05.00 waktu setempat, bus yang saya tumpangi berhenti di terminal Kota Mostar. Suasana mencekam tiba-tiba merasuki pikiran saya karena terminal ini sangat sepi dan hampir tidak ada orang yang lewat lalu lalang. Usai menitipkan koper (harga biaya titip per koper adalah 2 euro), saya dan dua rekan lain yang ikut dari Indonesia menikmati teh hangat dan roti daging di sebuah kedai dekat terminal.

Kami bertiga berbaur dengan dua pengunjung lain di dalam kedai. Meski tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan tapi kami dapat merasakan kehangatan mereka saat menjamu kami. Sama saja seperti di Indonesia, lebih baik jangan begitu banyak berharap untuk kualitas toilet. Masih kurang begitu diperhatikan. Usai sarapan, kami mulai beranjak ke kawasan kota tua. Jaraknya agak jauh dari area terminal tapi cukup dicapai dengan berjalan kaki saja.

Sepanjang jalan kami melalui proyek perbaikan jalan yang merusak area pejalan kaki. Udara dingin ditambah debu yang beterbangan dari proyek perbaikan jalan membuat perjalanan sedikit menyiksa.

Saat memasuki wilayah kota tua, pemandangan yang berbeda mulai menarik perhatian saya. Bendera Turki terlihat berkibar disepanjang jalan. Area kota tua ini merupakan satu dari sekian wilayah yang jadi saksi kejamnya Perang Yugoslavia. Perang Yugoslavia di tahun 1991-1995 merupakan perang abad baru paling berdarah karena melibatkan banyak negara di Eropa Timur.

Salah satu simbol kota ini adalah Jembatan Tua Mostar. Jembatan berusia lebih 147 tahun ini pernah hancur saat Perang Bosnia Croatia pada 9 November 1993. Sebelum tiba jembatan, kami melewati kawasan rumah penduduk yang pernah dijadikan sebagai markas dan penjara. Penjara yang berderet sejauh 300 meter di lokasi ini juga menarik untuk dilihat. Pemerintah Bosnia menjaga setiap benda bersejarah tersebut dengan baik.

Papan informasi juga terlihat disepanjang area. Salah satunya adalah jendela pengintai yang hanya bisa dilewati oleh anak kecil. Tertulis disana bahwa jendela tersebut pernah dipakai untuk mengintai musuh. Selain itu ada juga bangunan penjara yang dipagar tinggi. Pengunjung tidak diizinkan untuk melihat dan menyentuhnya.

Saat tiba di Jembatan Tua Mostar anda bisa menikmati hijaunya Sungai Neretva. Sungai Neretva merupakan saksi bersejarah penghapusan etnik di Bosnia saat Perang Yugoslavia. Di masa lalu, banyak korban dibiarkan terbawa arus sungai yang deras.

Tak jauh dari jembatan anda juga bisa menemukan toko yang menjual souvenir khas Bosnia. Salah satunya adalah kerajinan perak seperti piring, teko, gelas, gantungan kunci dan lain sebagainya. Tips saat berkunjung ke Mostar adalah tetap berhati-hati pada tour guide ilegal dan anak jalanan. Mereka cenderung memaksa saat menawarkan jasa atau meminta uang kepada turis.

Leave a Reply

  • (not be published)