BOSNIA – Hari kedua di Sarajevo, Bosnia. Masih disekitaran kota tua, saya dan dua rekan saya menghabiskan waktu memutari kawasan kuliner yang ada di daerah ini.

Salah satu sajian kopi ala Sarajevo di Cafe Lavazza (Fotografer : Elitha Evinora Tarigan)

Tak hanya itu, pemandangan lain yang saya temukan adalah mulai ditemukannya produk – produk imitasi alias palsu. Tas, selendang dan mukena dengan merk Gucci, Chanel hingga Hermes dijajakan di sembarang tempat di kota tua Sarajevo. Bagi saya cukup mengejutkan mengingat kawasan Bosnia berada di kawasan eropa dimana aturan untuk produk imitasi sangat dilarang.

Banyak tempat yang saya singgahi selama di Sarajevo, diantaranya Masjid Husrey Bey, Sinagoga serta gaya hidup masyarakat muslim Sarajevo yang masih kental memegang budaya kerajaan Ottoman. Saat makan siang saya memilih  restoran Bosanska Kuca, desain ruangan yang klasik campur modern berhasil menarik minat saya untuk masuk.

Harga menu yang ditawarkan sedikit mahal memang dibandingkan dengan restoran lain. Untuk mengetahui restoran di Sarajevo ramah di kantong atau tidak, anda tinggal melihat antrian panjang saat makan siang. Bila anda menemukan antrian panjang semacam itu artinya mereka menawarkan harga terjangkau.

Jadi tips dari saya adalah bila anda memiliki budget lebih saat traveling maka alihkanlah ke makanan. Sayang lho kalau tidak menikmati restoran mewah di setiap kota yang anda datangi. Meskipun hanya sekali. Usai menikmati makan siang, saya janjian minum kopi dengan dua rekan saya lainnya. Kali ini kami pilih Cafe Lavazza yang tak jauh dari Bosanska Kuca. Berbagai macam pilihan kopi dan teh khas eropa timur disajikan disini.

“Kenapa kok harga kopi di Jakarta lebih mahal dibandingkan disini ya?” tanya saya saat memegang daftar menu di cafe ini.

Kedua rekan saya hanya tertawa dan mengiyakan analisis saya karena disana tertera harga satu cangkir cappucino hanya sekitar 2 KM yang setara dengan 1,06 euro, atau kalau di rupiahkan sekitar Rp16.000. Sementara di Jakarta di cafe yang sama seperti Lavazza bisa mencapai Rp30.000. Saya heran apa yang membuat kopi di Indonesia yang merupakan negara produsen menjualnya dengan sangat mahal. Jadi, jangan takut ke luar negeri karena sebenarnya harga di Indonesia itu terkadang jauh lebih mahal.

Mau tahu kelanjutannya? Ikuti perjalanan saya berikutnya untuk tahu perbandingan harga segelas kopi di setiap kota di Eropa.

Leave a Reply

  • (not be published)