Salah satu pintu masuk menuju Desa Budaya Hahoe. Suasana musim semi membuat warga mempersiapkan lahannya untuk ditanami padi dan sayur-sayuran (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

KOREA SELATAN – Desain arsitektur Desa Hahoe sangat mengagumkan, betapa tidak, desa berusia 600 tahun ini bisa dijadikan sebagai contoh desain pembangunan sebuah daerah dengan sempurna.

Mengapa dikatakan demikian? Karena pendiri desa ini memikirkan pengaturan masyarakat dengan sempurna agar bisa terus berproduksi agar menjadi desa yang makmur.

Tidak banyak desa yang berada dekat dengan aliran sungai berhasil dibangun sesukses dan secantik Hahoe. Desa ini bentuknya seperti bunga lotus. Pintu masuknya di desain sempit dan kecil agar tidak mudah diintervensi oleh pihak asing.

Anggota klan Pungsan Ryu adalah pendiri Desa Hahoe. Selama 600 tahun, klan marga Pungsan Ryu mengolah tanah yang mereka tinggali. Salah satunya adalah bidang pertanian.

Bila dilihat dari bentuk desa ini, diketahui bahwa tempat tinggal para bangsawan diletakkan di bagian belakang. Rumah-rumah ini ditandai dengan atap genteng dan dinding berwarna putih.

Sementara itu, di bagian depan adalah rumah-rumah beratap jerami yang biasa menjadi tempat dimana petani dan warga kelas bawah atau rakyat jelata tinggal. Mereka juga tinggal dekat dengan lahan pertanian yang mengandalkan penanaman padi.

Jadi, bila dilihat dari bukit yang berada di seberang sungai, Desa Hahoe sangat rapi. Karena sejak awal di desain 600 tahun lalu, susunan pohon-pohon dan jalanan di sepanjang rumah diatur dengan baik. Pengunjung dapat melihat gaya hidup masyarakat zaman kuno secara aktual saat berada disana.

Pintu dan tembok rumah bangsawan yang berusia 600 tahun (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

Rumah-rumah di desa ini di bangun ke arah yang berbeda karena harus mengikuti desain yang sudah ditentukan, yakni menghadap ke arah sungai.

Jadi tak heran bila sebagian rumah ada yang ditemukan saling berhadapan, namun ada juga yang membelakangi satu sama lain.

Ciri lain dari desa ini adalah masyarakat yang tinggal secara turun temurun. Di akhir zaman Joseon, sekitar 350 rumah tangga tinggal di desa tersebut.

Sementara saat ini hanya ada 127 rumah tangga. Diantaranya, 12 rumah ditetapkan sebagai harta warisan atau situs cerita rakyat yang sangat penting.

Rumah-rumah bangsawan di desa ini pada umumnya memiliki pagar berupa bebatuan setinggi 2 meter lebih, lebih tinggi dari pada pagar bebatuan pembatas desa. Pintu kayu di bagian tengah sebagai ruang untuk masuk di desain hampir sama seluruhnya.

Sementara itu, rumah rakyat jelata umumnya jarang dan bahkan hampir tidak memiliki pagar. Namun desainnya tetap harus menghadap ke arah sungai.

Karena rumah tersebut adalah milik klan marga tertentu, maka pengunjung tidak diizinkan sembarangan memasuki rumah-rumah yang ada disana. Karena sebagian diantaranya masih dihuni.

Beberapa rumah sudah disiapkan oleh pihak administratif kota Andong untuk dilihat dan dijadikan sebagai objek foto. Disana kita bisa melihat bagaimana susunan rumah masyarakat Korea sebenarnya, dimana rumah utama, dapur dan rumah pembantu dibedakan rumahnya meski tinggal di halaman yang sama.

Dengan kata lain, orang Korea biasanya membutuhkan halaman luas untuk membangun rumah yang ideal.

Leave a Reply

  • (not be published)