Nurdiana Br Ginting menyerahkan tugas kepada siswa kelas 3 Foto: Dokumen Pribadi)

TANAH KARO – Program new normal di sekolah dasar di Sumatera Utara belum seluruhnya berlangsung sebagaimana di Jakarta. Di Desa Singa, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara misalnya. Berdasarkan aturan dari Dinas Pendidikan, maka sekolah masih harus terus menjalankan program karantina alias belajar dari rumah hingga waktu yang belum ditentukan.

Bicara tentang sistem belajar dari rumah, sekolah dasar di desa ini cukup unik. Meski berada dekat dengan pusat kota, ternyata sistem belajar mengajar mereka masih terkendala berbagai hal. Di mulai dari transportasi, desa ini ternyata belum memiliki sistem transportasi yang memadai sebagaimana seharusnya. Dari pantauan The Editor, masyarakat di desa ini harus naik motor yang disulap menjadi becak sebagai kendaraan umum sehari-hari.

Nurdiana Br Ginting, salah satu guru yang mengajar di sekolah ini adalah salah satu saksi sejarah perkembangan desa ini. Nurdiana tidak berasal dari Desa Singa, Ia tinggal puluhan kilometer dari sekolah tempat Ia mengajar. Ia mengabdikan diri di sekolah ini sejak tahun 1984, tepatnya tanggal 1 April 1984.

Nurdiana mengungkapkan bahwa di tahun itu, moda transportasi memang masih jarang masuk ke Desa Singa. Meski jalan raya sudah di aspal, namun Ia dan rekan mengajarnya kadang harus berjalan sejauh 2 kilometer melewati rute turunan dan jembatan untuk tiba di sekolah. Sehari-hari, Ia harus 3 kali naik angkutan umum yang berbeda agar tiba di sekolah.

“Dulu ada angkutan umum meski sangat jarang jadi harus jalan kaki dari persimpangan ke dalam desa. Karena sudah tidak ada (angkutan umum) jadi sekarang naik becak motor,” ujar Nurdiana.

Nurdiana yang merupakan seorang Guru Agama Katolik ini mengatakan saat ini mereka tengah menunggu aturan baru tentang New Normal dari Dinas Pendidikan Sumatera Utara. Selama masa karantina ini, sekolahnya menerapkan aturan belajar dari rumah dengan gaya yang sedikit berbeda. Teknologi yang minim membuat sistem berkunjung ke rumah murid harus dilakukan karena meski lokasi sekolah berada di dalam desa, namun nyatanya tidak semua murid ingat aturan tentang belajar dari rumah.

Teknologi Yang Minim, Hanya Dua Siswa Yang Orang Tuanya Punya Telepon Genggam

Setiap dua minggu sekali para guru kelas dan guru mata pelajaran mengantarkan bahan ujian dan paket pembelajaran kepada siswa. Bila siswa tidak datang ke sekolah, maka cara lain yang harus dilakukan adalah mendatangi mereka ke rumahnya. Atau meminta salah satu murid untuk memanggil teman-temannya agar bertemu di Losd (balai desa) atau sekolah. Untuk diketahui, lokasi sekolah dan perkampungan penduduknya dipisahkan oleh sungai, jadi karena letaknya di perbukitan membuat desa ini sangat unik dan menyenangkan untuk dijadikan sebagai area touring atau wisata.

Teknologi yang sangat minim disebut Nurdiana jadi alasan para guru harus mendatangi murid mereka satu pe satu. Pasalnya tidak semua orang tua murid menggunakan aplikasi pesan instan untuk smartphone seperti Whatsapp, apalagi memiliki telepon genggam (handphone). Jadi mau tidak mau pesan yang disampaikan harus dari mulut ke mulut, baik lewat guru yang kebetulan tinggal sebagai warga di Desa Singa atau kalau beruntung menghubungi seorang warga yang bisa menyampaikan pesan ke salah satu anak didik mereka.

Setiap anak yang kemarin ikut ujian UAS, lanjutnya, satu per satu didatangi ke rumah mereka masing-masing dan usai ujian mereka akan difoto beserta dengan lembar ujian yang mereka kerjakan.

“Nanti satu anak didik diminta untuk menyampaikan pesan ke teman-temannya. Kami guru-guru di SD Singa tidak bisa hanya mengandalkan rekan kami yang tinggal disana. Kami harus datangi karena ini tanggung jawab kami. Satu anak didik akan memanggil teman-temannya ke tempat yang sudah di tentukan, biasanya balai desa atau kami sebut Losd,” jelasnya.

Para guru yang mengajar di sekolah ini harus ekstra sabar saat mengajar, karena program belajar dari rumah ternyata tidak bisa diterapkan seperti orang yang tinggal di perkotaan. Nurdiana mengaku menyiapkan rekaman video untuk ditonton oleh anak-anak dari rumah. Rekaman video tersebut berisi tentang mata pelajaran yang harus dipelajari oleh anak-anak dan tugas apa saja yang harus mereka kerjakan. Namun, karena orang tua murid pekerjaannya adalah petani, maka video tersebut hanya bisa ditonton malam hari.

“Sudah ditunggu selama berbulan-bulan, tapi sampai sekarang hanya 2 orang siswa yang orang tuanya punya aplikasi whatsaap untuk kirim rekaman mengajar. Orang tua murid mengatakan kalau mereka cuma bisa menunjukkan video tersebut usai pulang dari ladang. Jadi harus ditunggu,” kata Nurdiana.

Leave a Reply

  • (not be published)