Grand Bazar Istanbul di musim dingin (Fotografer: Elitha Evinora Tarigan)

ISTANBUL – Grand Bazar adalah salah satu pasar tradisional tertutup yang terbesar dan tertua di Istanbul, Turki. Lebih dari 3.000 toko yang menawarkan berbagai macam kebutuhan bagi warga Turki dan turis. Setiap harinya lebih dari 300.000 pengunjung datang ke tempat ini untuk berbelanja atau sekedar menikmati keunikan pasar kuno ini.

Berbeda dengan pasar lainnya, Grand Bazaar sangat semarak. Tersedia 61 pintu masuk ke dalam pasar ini. Jadi sangat diimbau untuk mengingat anda masuk dari sebelah mana karena hampir semua lorong di desain mirip.

Saat tiba di pintu masuk, bendera Turki terlihat meramaikan atap pasar yang dihiasi marmer berwarna ungu, kuning dan putih kecokelatan. Lampu dengan kapasitas 500 volt terlihat menerangi tiap kios yang saya lewati. Tidak ada rasa pengap atau sesak karena saat saya berkunjung memang tengah musim dingin.

Berbagai macam kerajinan khas Turki menggoda saya untuk sekedar mampir dan membeli. Salah satunya jam dinding dengan hiasan tulisan kaligrafi Arab berbagai ukuran dan warna. Selain jam dinding, kios yang saya singgahi itu juga menjual foto lokasi wisata yang ada di sekitar pasar. Tiap foto dan kaligrafi dibingkai dengan perak dan kuningan khas negara ini. Jadi tinggal memilih hiasan dinding mana yang ingin anda bawa pulang.

Sekedar informasi, pasar Grand Bazar ini terletak di komplek kota tua Istanbul, tepatnya di distrik Fatih yang tak jauh dari Masjid Biru dan Museum Hagya Sofia. Dari dua lokasi wisata ini saya tinggal jalan kaki sambil menikmati pemandangan masjid yang sangat spektakuler.

Kembali lagi ke dalam lokasi pasar, saya juga menjumpai kios yang menjual mangkok keramik khas Turki. Saya sangat kagum dengan tiap detail hiasan mangkok yang dihasilkan oleh pengrajin asal negara yang sangat kaya akan budaya ini. Pasalnya, tiap keramik dihias berbeda dengan model lukisan timbul. Saya pun membeli empat buah mangkok kecil yang masing-masing dihargai 10 lira atau Rp20.800.

Usai berbelanja, saya melanjutkan perjalanan dengan masuk ke bagian tengah pasar. Ternyata di sepanjang jalan mereka menawarkan souvenir seperti tas mukena, dompet kecil untuk uang receh dan berbagai macam kain yang diubah jadi pernak-pernik khas turki serta pasmina. Kebanyakan model desain yang ditawarkan adalah kaligrafi Arab yang unik.

Di pintu keluar saya menemukan lorong penuh warna yang ternyata adalah kios khusus penjualan lampu. Mata saya tertegun melihat keindahan warna emas dari pancaran lampu khas Turki tersebut. Saat mendekat, saya bisa melihat detail lampu yang dipasangi kristal warna warni seperti kuning, hijau, merah, biru, putih dan emas. Setiap kristal dipasang satu persatu agar bisa menempel dan membentuk ukuran dan model, tapi di pasar ini kebanyakan berbentuk bulat dan lonjong.

Grand Bazar ini buka dari pukul 09.00 pagi sampai pukul 19.00 setiap hari kecuali hari Minggu dan libur nasional. Saat belanja di pasar ini ternyata saya harus pintar-pintar menawar hingga mencapai harga yang saya inginkan. Saya yang tidak terbiasa transaksi tawar menawar dengan penjual lebih memilih belanja ke kios yang sudah melabeli harga barang dagangannya.

Leave a Reply

  • (not be published)