Hamparan padi di Bali (The Editor)

JAKARTA – Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel menyatakan bangsa ini harus berterima kasih dan hormat pada petani, nelayan, dan peternak.

“Izinkan saya untuk membungkukkan badan pada mereka. Membungkuk seperti orang yang sedang rukuk. Empat puluh lima derajat,” katanya, Jumat (19/3).

Wakil rakyat dari Partai Nasdem tersebut menyampaikan hal itu dalam acara bimbingan teknis peningkatan kapasitas petani dan penyuluh pertanian di Jember, Jawa Timur. Sehari sebelumnya Ia bertemu dengan petani padi, tembakau, kedelai, dan edamame.

Gobel mengatakan, pertanian merupakan pondasi ekonomi nasional yang kuat. Selain memasok kebutuhan pangan, katanya, pertanian juga menyerap tenaga kerja yang besar. Di saat krisis, pertanian pula yang menjadi benteng pertahanan Indonesia.

“Bahkan di masa pandemi, di saat sektor lain terkena pembatasan, pertanian terus jalan. Jika mereka berhenti maka kita tidak makan,” katanya.

Menurut Gobel, berkat petani maka bangsa Indonesia bisa terjaga kehormatannya. “Kita tidak mengemis ke bangsa lain untuk minta-minta pangan. Mereka menjaga kehormatan kita semua,” katanya.

Karena itu kontroversi impor beras ini, kata Gobel, “Kita harus ambil risiko. Tahan impor dan naikkan produksi.” Menurutnya, setiap tahun Indonesia selalu berselisih soal impor beras.

“Ini soal data saja. Saat saya menteri perdagangan, saya ambil risiko itu,” katanya.

Gobel mengingatkan bahwa nasib petani berada di tangan para pengambil keputusan.

“Di saat musim tanam, pupuk dan bibit langka. Selalu begitu. Tapi saat panen, harga justru jatuh. Ini harus dihentikan. Jika kita menghormati mereka maka perlu penyelesaian menyeluruh dan terintegrasi,” katanya.

Leave a Reply

  • (not be published)