Rahaf Nuseir (10) berdiri di depan puing-puing rumahnya yang hancur di Kota Beit Hanoun, Gaza Utara Strip pada Jumat, 21 Mei 2021 (Foto AP / Khalil Hamra/ THE EDITOR)

YERUSALEM – Ratusan orang dinyatakan meninggal dunia dalam perang Hamas dan Israel. Setelah 11 hari konflik, akhirnya keduanya sepakat untuk melakukan gencatan senjata tanpa syarat. Sorak sorai kebahagiaan masyarakat di Gaza dan Israel karena perang selesai justru berbalik menyerang Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu.

AP mengabarkan bahwa saat ini seluruh masyarakat Palestina yang tinggal di Gaza, Yerusalem Timur dan Tepi Barat tengah merayakan kemenangan karena menilai diri mereka telah berhasil melawan Israel, negara yang lebih kuat. Dan saat ini, PM Israel Benyamin Netanyahu harus berhadapan dengan lawan politik dan basis hawkishnya yang menilainya kurang cakap sebagai pemimpin.

“Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi kritik dari basis hawkishnya, dengan banyak yang menuduhnya mengakhiri perang secara prematur tanpa menaklukkan Hamas,” Sabtu (22/5).

Menjawab hal ini, Benyamin Netanyahu mengatakan bahwa dalam 11 hari serangan, militer Israel telah menimbulkan kerusakan besar pada militer Hamas. Diantaranya menewaskan 200 militan Hamas, termasuk 25 komandan senior dan menghantam lebih dari 100 kilometer (60 mil) terowongan militan serta peluncur roket dan infrastruktur militer Hamas lainnya.

“Namun Israel tidak pernah berhasil menghentikan tembakan roket tersebut,” tulis AP lagi.

Sementara itu, dunia internasional melihat militan Palestina melancarkan serangan roket besar-besaran yang terkadang tampaknya mengalahkan pertahanan udara Israel yang tangguh. Namun militer Israel mengatakan mereka memiliki tingkat intersepsi hingga 90 persen dan ratusan roket jatuh ke Gaza, dengan satu roket diantaranya menewaskan delapan keluarga Palestina.

Gencatan senjata informal yang ditengahi oleh Mesir dan mediator lainnya dengan ketentuan yang tidak dipublikasikan.

Hamas sendiri mengklaim bahwa Israel setuju untuk menghentikan aksi kepolisian Israel di sekitar komplek Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dan menghentikan penggusuran keluarga Palestina dari lingkungan terdekat Sheikh Jarrah. Keduanya sempat memicu protes Palestina dan bentrok dengan polisi yang akhirnya memicu perang. Namun tidak ada konfirmasi dari Israel atau mediator tentang hal ini.

Gencatan senjata sebelumnya telah menghentikan pertempuran besar tetapi terbukti goyah. Israel dan Hamas telah berperang empat kali dan baku tembak berkali-kali sejak kelompok militan Islam itu menguasai Gaza. kepada Otoritas Palestina pada tahun 2007. Bentrokan yang tersebar di Al-Aqsa setelah salat Jumat merupakan ujian awal ketahanan gencatan senjata.

Gencatan senjata Israel dan Palestina tidak pernah terjadi secara substansif selama satu dekade. Gencatan senjata ini tidak pernah menyelesaikan persoalan Palestina yang ingin membangun negara masa depan di tanah yang diinginkan dan penolakan Hamas atas hak Israel untuk hidup juga tidak pernah dibicarakan.

Leave a Reply

  • (not be published)