Ini adalah suasana Pantai Legian, Bali usai Tahun Baru 2021 lalu. Foto ini diunggah oleh Ketua Dewan Indonesian Diaspora Netwrok, Dino Patti Djalal di akun Instagramnya pada tanggal 2 Januari 2021 (The Editor)

JAKARTA – Lewat trailer yang beredar di Youtube Pulau Plastik, Sutradara film ini berani menuai kontroversi karena pemilihan kata dalam dialog disampaikan dengan tajam lewat segmen-segmen video yang berani.

Salah satunya saat dialognya berbicara tentang sampah plastik yang mengapung di lautan akan jadi santapan ikan yang sudah pasti akan berakhir di dapur-dapur rumah warga dan restoran. Segmen membersihkan bagian perut ikan cukup membuat mulas perut penonton karena mampu mendorong daya imajinasi lain, yakni perut ikan yang berisi sampah plastik.

Istilah Karma Pala yang digunakan oleh sutradara film ini memang cukup jarang dipakai oleh sineas film Tanah Air, bahkan oleh sutradara yang doyan menggarap film bernuansa agamis.

Jadi, film ini sangat layak ditonton karena sekaligus mengajari penonton cara hidup seimbang dengan alam. Seorang musisi kelas dunia yang sibuk dengan jadwal hidupnya pun ternyata punya waktu belajar tentang cara membuang sampah yang benar. Jadi, masyarakat kelas menengah keatas sangat direkomendasikan menonton film ini.

Serial yang terdiri dari empat episode ini diproduksi oleh Kopernik dan Akarumput. Setiap episode berdurasi 20 menit, mencakup isu seputar plastik sekali pakai, termasuk mikroplastik, pemilahan dan pembuangan sampah rumah tangga, kebijakan pemerintah, serta industri pangan dan perhotelan.

Serial ini sangat menonjolkan hubungan filosofi dan kepercayaan masyarakat Bali dalam kaitannya dengan plastik sekali pakai. Tiap episodenya juga menyajikan rekomendasi yang realistis serta ajakan bertindak praktis bagi individu untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Film dokumenter oleh Visinema Pictures, Kopernik, Akarumput, dan Watchdoc ini menceritakan tentang tiga individu dan perjuangan mereka melawan polusi plastik sekali pakai.

Gede Robi, vokalis band Navicula asal Bali; Tiza Mafira, pengacara muda dari Jakarta; dan Prigi Arisandi, ahli biologi dan penjaga sungai dari Jawa Timur. Ketiga protagonis ini menelusuri sejauh mana jejak sampah plastik menyusup ke rantai makanan kita, dampaknya terhadap kesehatan manusia, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis polusi plastik.

Leave a Reply

  • (not be published)