Wes Lambert mengatakan penutupan akhir pekan yang terjadi di Australia Barat adalah masa yang paling menyakitkan bagi pemilik bisnis kafe dan restoran (Foto: ABC News: Greg Bigelow)

AUSTRALIA – Pernyataan tersebut datang langsung dari CEO Restaurant and Catering Australia Wes Lambert seperti dilansir dari ABC NEWS.

Sebagaimana disebutkan bahwa penutupan wilayah ini dilakukan karena ditemukannya seorang pria yang dinyatakan positif terkena Covid-19 setelah menyelesaikan 14 hari masa Karantina di hotel Mercure Perth. Seorang wanita yang tinggal bersamanya setelah meninggalkan hotel juga dinyatakan positif terkena virus corona.

Lambert mengatakan bahwa dengan diberlakukannya masa penutupan atau lockdown ini, maka bisnis perhotelan harus membuang uang lebih dari 7 juta dollar. Padahal di akhir pekan ini akan ada acara panjang yakni Festival Anzac.

“Karena saat itu hari Jumat sore… mereka akan bersiap untuk akhir pekan, mereka akan membuat persediaan dan sup mereka dan mereka sudah yakin acaranya akan meriah,” kata Lambert.

Kata Lambert, kondisi sekarang ini di Western Australia (Australia Barat) tidak semudah mengatakan ke masyarakat bahwa semua akan baik-baik saja dan meminta mereka untuk menyimpan bahan-bahan yang telah mereka siapkan untuk menyambut festival.

Kerugian 7 juta dollar di akhir pekan ini tidak mungkin dipulihkan kembali

Lambert juga mengatakan bahwa masa lockdown kali ini adalah penutupan terburuk yang pernah ada di Western Australia karena terjadi saat masyarakat sangat antusias menyambut akhir pekan.

Berbagai pesanan yang telah mulai terjadi saat festival akan berlangsung mustahil akan didapatkan kembali. Namun Lambert menerima keputusan pemerintah yang menutup langsung wilayah Western Australia dengan cepat.

Namun, Ia berharap pemerintah membantu lebih banyak khusus untuk bidang industri perhotelan. Karena tidak cukup bantuan pemerintah sebesar 500 dollar untuk penghematan utilitas.

“Bisnis-bisnis ini benar-benar tidak punya pilihan lain selain membatalkan sebagian besar pemesanan mereka selama akhir pekan dan benar-benar tidak akan dilakukan sistem take away dan pengiriman juga,” katanya.

Untuk itu, Lambert meminta pemerintah Australia Barat agar memberikan hibah dan bantuan kepada industri perhotelan agar bisa pulih dari kondisi ini. Karena mereka tidak sama seperti supermarket besar yang bisa menyimpan makanan mereka dalam jumlah besar.

“Usaha kecil tidak bisa,” ungkapnya.

Untuk diketahui, orang-orang yang sudah masuk dalam daftar penjual makanan dan berbagai barang-barang di Festival Anzac kini mengalami kerugian karena ditutupnya Western Australia selama akhir pekan ini.

Untuk para penjual makanan, kerugian yang mereka alami ternyata tidak bisa dikembalikan. Untuk itu, mereka mengajukan bantuan dan donasi dari pemerintah supaya bisa tetap bangkit dari kondisi terpuruk ini.

Pemilik Cafe Di Maryland Berduka

Pemilik kafe Sherbet di Maylands, Matt Perroni, mengatakan omzetnya turun 90 persen.

Kebijakan pemerintah yang menutup Western Barat selama akhir pekan karena COVIS-19 nyaris mematikan semangat Matt.

“Tapi saya pikir kami akan tetap terbuka karena semua penduduk setempat selalu mendukung kami,” katanya.

Untuk festival akhir pekan ini, Matt mengaku telah mempersiapkan banyak hal untuk disajikan kepada tamu-tamunya. Sayangnya semua harus sia-sia dan Ia putuskan untuk memberikannya kepada orang-orang sekitar.

“Kami hanya mencoba memberikannya kepada siapa pun yang membutuhkannya, siapa pun yang menginginkannya,” jelasnya.

Untuk mengurangi kemungkinan rugi, Matt mengurangi staf yang biasa bekerja bersamanya dan mengurangi jumlah pesanan dari masyarakat.

“Tapi orang-orang sangat mendukung dan mereka membeli sepotong kue ekstra dan membeli kopi ekstra itu, sungguh menyenangkan,” jelaskan.

Bedanya di masa lockdown kali ini, lanjut Matt, orang-orang tetap datang ke cafe miliknya karena ketakutan mereka akan serangan Covid-19 tidak sebesar sebelum-sebelumnya.

Pelanggan yang datang ke tempatnya juga tetap menggunakan masker dan saat ini masalah yang paling sering muncul hanya saat orang-orang hendak membayar dengn ponsel dan sistem pemindai wajah tidak mengenal mereka.

“Semua orang sepertinya merangkul memakai topeng, sebenarnya tidak ada masalah besar tentang itu,” katanya.

Leave a Reply

  • (not be published)