Utsa Patnaik (Foto: Business Today)

INDIA – Ekonom Asal India Utsa Patnaik mengatakan bahwa terjadi tren penurunan ekonomi yang berakhir dengan kerawanan pangan dan pengangguran di negara-negara yang pernah dijajah oleh Eropa, baik itu India dan negara-negara lain di Asia.

“Jika Anda tidak mempelajari sejarah ini dan hanya melihat kebijakan neoliberal saat ini (perdagangan bebas dan mengurangi pengeluaran publik alias penghematan), maka Anda tidak akan pernah bisa mengidentifikasi tren tersebut,” ujar Utsa dalam Roape.

Dalam kolonialisme, lanjutnya, perdagangan bebas mengakibatkan kebijakan ekspor yang tinggi namun tidak dibarengi dengan kekuatan pertumbuhan pertanian yang memadai. Hal ini yang merusak ketahanan pangan India.

“Mekanismenya adalah deflasi pendapatan. Konsumsi kaum tani di India sangat dibatasi oleh pajak dan sewa yang sangat tinggi sehingga kaum tani terpaksa menanam dan menjual hasil bumi yang di ekspor. Lahan penghasil biji-bijian dialihkan ke tanaman tropis, di ekspor untuk memenuhi permintaan metropolitan yang tak terpuaskan karena tanah dingin mereka hanya dapat menghasilkan satu tanaman,” jelasnya.

Kata Utsa, kontur tanah di India sangat produktif dan bisa menghasilkan panen hingga dua hingga tiga jenis tanaman yang berbeda setiap tahun.

Permintaan yang berat dan terus menerus ini, lanjut Utsa, tidak bisa dipenuhi karena terbatas oleh iklim. Pertanian adalah sektor yang berbeda dengan industri dan tekstil. Ia mengungkapkan bahwa India mengkhususkan diri menanam biji-bijian non tropis tertentu yang bisa India ekspor ke negara yang membutuhkan. Dan sebagai gantinya negara yang bersangkutan akan mengekspor biji-bijian yang diproduksi besar-besaran di negaranya.

Sayangnya, kata Utsa lagi, tidak terjadi di masa lalu. Inggris yang sangat bergantung pada India, termasuk untuk produk gandum, tidak mengekspor biji-bijian khas Inggris dengan harga terjangkau ke India.

Ia memuji cara Amerika Utara dan Eropa dalam hal produktivitas produk pertanian di era sekarang ini. Karena diantara kehebatan mereka melakukan diversifikasi tanaman dan surplus biji-bijian, namun mereka tidak pernah memaksa memproduksi tanaman tropis yang di negara mereka sendiri.

Jadi, ekspor biji-bijian dan tanaman India tetap jadi prioritas bagi Amerika Utara dan Eropa. Ia sebutkan bahwa negara-negara ini selalu membutuhkan akses tanah-tanah di India namun India tidak membutuhkan tanah di negara mereka.

Utsa mengatakan, orang-orang yang mendukung kebijakan perdagangan bebas mungkin akan bingung dan mempertanyakan apa yang salah dari kebijakan tersebut. Devisa yang besar serta petani yang untung selalu digembar-gemborkan dalam perdagangan bebas. Namun, tidak banyak yang mau mengerti bila jumlah lahan petani juga sangat terbatas.

Jadi, perdagangan bebas adalah sebuah kebijakan yang dipaksakan kepada petani untuk memuaskan nafsu orang kaya yang besar.

Melalui studi sejarah, lanjutnya. saya menemukan hubungan terbalik yang diperoleh tidak hanya dalam dinamika hubungan India-Inggris saja. Persoalan yang sama juga akan Anda temukan dalam sejarah kolonisasi Belanda si Jawa atau Kolonisasi Jepang di Korea.

Saya memberikan data dalam buku saya The Republic of Hunger (2007) untuk Jawa dan Korea. Bagi masyarakat Jawa, ketersediaan beras turun tajam karena Belanda mengalihkan lahannya untuk tanaman ekspor tropis.

Ia mencatat bahwa tahun 1910 dan 1945 merupakan masa dimana Korea adalah koloni Jepang. Jepang mengambil alih setengah dari produksi beras Korea pada tahun 1930-an sehingga kaum tani Korea didorong ke tingkat yang hampir kelaparan.

Di setiap negara berkembang, Utsa menemukan hubungan terbalik ini. Kebutuhan konsumsi masyarakat India atas biji-bijian adalah 205 kilogram. Dan angka ini harus diturunkan saat kebijakan ekspor diberlakukan menjadi 197 kilogram si tahun 1909 hingga 1914.

Sayangnya ketersediaan biji-bijian justru turun menjadi 159 kilogram saja di tahun 1933 sampai 1938. Dan pada akhirnya, di tahun 1946 situasi makin memburuk karena hanya tersedia 137 kg biji-bijian bagi seriap individu. Dari sanalah awal mula kelaparan terjadi sampai sekarang.

“Asupan kalori harian warta India per kepala turun 650 kalori. Biji-bijian memasok lebih dari tiga perempat dari asupan kalori harian serta asupan protein rata-rata orang India bahkan hingga akhir tahun 2005.” jelasnya.

Karena situasi ini, hingga sekarang populasi miskin di negara tersebut tetap hanya menggantungkan diri pada biji-bijian karena tidak mampu membeli susu dan produk hewani lainnya.

“Bahkan di Lebanon, saya menemukan bahwa selain sayuran, orang bergantung pada makanan pokok seperti sereal, lentil dan kacang-kacangan,” jelasnya.

Utsa berharap pemerintah India berinvestasi banyak pada program peningkatan produktivitas pertanian. India Ia yakini mampu lakukan ekspor dan produksi di saat yang bersamaan. Tetapi rezim kebijakan neo-liberal yang didasarkan pada kebijakan pemerintah yang mengurangi pengeluaran adalah salah satu pilar kebijakan utama, selain dari perdagangan bebas yang merupakan pilar lainnya.

Ia sangat mengkritik kebijakan India yang memotong dana pembangunan desa dan penelitian pertanian. Karena akibat dari kebijakan tersebut ketahanan pangan negara tersebut hancur.

Leave a Reply

  • (not be published)