Babi (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Demikian data yang diterima redaksi The Editor beberapa waktu lalu. Dimana disebutkan juga bahwa data tersebut diperoleh berdasarkan pantau langsung petugas informasi pasar (PIP) Kementerian Pertanian.

“Berdasarkan pantauan petugas PIP pada bulan Maret 2021, harga rata-rata (daging babi) Provinsi Sumatera Utara adalah Rp124.450/KG,” ujar Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani.

Sementara itu, lanjutnya, harga daging babi untuk wilayah Kabupaten Karo pada periode yang sama memang lebih tinggi dari rata-rata harga provinsi yaitu sebesar Rp140.000 per kilogram. Sayangnya Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian tidak menginformasikan alasan apa yang membuat harga komoditi tersebut berbeda di tingkat daerah dan provinsi.

Sementara itu, simponiternak.pertanian.go.id yang jadi bahan acuan harga komoditi ternak ternyata tidak memuat daftar harga daging dan telur hingga tingkat daerah. Situs ini hanya memuat daftar harga daging untuk tingkat provinsi saja.

Kinerja Dirjen Peternakan Kementerian Peternakan ini bisa dikatakan menurun karena sebelumnya lembaga ini pernah mempersiapkan situs online yang lebih mencakup harga daging dan telur hingga tingkat daerah dan kabupaten, yaitu https://pippeternakan.pertanian.go.id/laporan/lapHarian. Meski tidak pernah diperbaharui, namun setidaknya situs tersebut masih mencatat janji-janji pemerintah untuk menginformasikan harga daging kepada seluruh masyarakat secara terbuka.

Namun ternyata bagi lembaga ini mengaku data dalam simponi ternak ini sudah lebih dari mencukupi.

“Simponi ternak merupakan layana informasi pasar peternakan di era 4.0 sudah cukup up2date (baru),” ungkap mereka lagi.

Fini juga mengungkapkan bila Sumatera Utara merupakan salah satu wilayah sentra peternakan babi di Indonesia. Namun dalam hal pengambilan data untuk dimasukkan dalam aplikasi Simponi Ternak oleh petugas PIP hanya dibeberapa daerah kabupaten dan kota sentra saja.

“Dan tidak seluruh kabupaten kota sebagai wilayah pantauan. Pengambilan data dilakukan pada tingkat produsen dan konsumen,” katanya lagi.

Program diversifikasi pangan juga berlaku untuk menu makan daging babi

Fini membantah bila pemerintah tengah ingin lakukan penyamarataan daging konsumsi di seluruh Tanah Air dimana program diversifikasi pangan hanya diarahkan utuk konsumsi daging ayam an daging sapi saja.

Sehingga upaya peningkatan populasi ternak dilakukan setiap tahun dengan cara memberi bantuan kepada peternak berupa penguatan modal usaha kelompok pada daerah-daerah yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai daerah ternak babi.

Selain itu, juga dilakukan restocking pasca serangan wabah ASF sesuai SOP, pendampingan dan pembinaan kepada peternak, pemantauan dan penerapan biosecurity yang ketat di setiap daerah perbatasan dalam rangka pencegahan PHM strategis.

Mengklaim Telah Lakukan Operasi Pasar Tapi Harga Masih Tetap Tinggi

Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian mengklaim telah berkoordinasi dengan Satgas Pangan untuk menurunkan tim mereka ke lapangan.

“Agar harga tidak dipermainkan oleh kelompok tertentu,” ungkapnya.

Operasi pasar kata mereka juga dilakukan oleh Badan Ketahanan Pangan sehingga saat ditemukan harga yang tidak sesuai maka akan diupayakan untuk segera berkoordinasi dengan Satgas Pangan di kabupaten kota dan provinsi. Sayangnya, lagi-lagi Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Fini Murfiani tidak sebutkan kapan koordinasi tersebut dilakukan karena hingga saat ini harga masih tinggi.

“Upaya peningkatan populasi ternak babi setiap tahun dilakukan dengan bantuan ternak berupa penguatan modal usaha kelompok pada daerah-daerah yang berpotensi pengembangan ternak babi. Selain itu pendampingan dan pembinaan saat ini terus intens dilaksanakan dengan pemantauan dan penerapan biosecutiry yang ketat di setiap daerah perbatasan,” katanya.

Leave a Reply

  • (not be published)