ISTANBUL – Berkunjung ke Istanbul, Turki kurang lengkap tanpa masuk ke dalam Masjid Biru. Masjid yang berada di kawasan distrik distrik Sultanahmet, Kota Tua Istanbul ini selalu ramai dikunjungi pengunjung baik yang beragama Islam atau lainnya.

Foto: Elitha Evinora Tarigan

Pertama kali menginjakkan kaki ke halaman masjid, saya sempat heran karena sebutan Masjid Biru ternyata tidak untuk bangunan masjid yang dominan berwarna putih pualam. Ternyata warna biru yang dimaksud adalah hanya untuk kubah luar masjid saja. Saya tersenyum sendiri saat ekspektasi saya tidak sama dengan apa yang ada dalam pikirkan selama ini. .

Tiba di pintu masuk, saya dan ratusan pegunjung lain yang tidak menggunakan kerudung harus antri mengambil sarung berwarna kuning serta syal. Saya yang kebetulan menggunakan jeans ikut mengantri sembari memakai pasmina yang tadi saya beli dengan sengaja sebelum berwisata ke masjid. Selain sarung, sebelum menginjakkan kaki ke lantai masjid, pengunjung harus melepas sepatu mereka dan memasukkannya ke dalam plastik yang sengaja dibagikan. Setelah rapi, pengunjung baru boleh masuk ke area dalam masjid sambil menenteng plastik sepatu dan seluruh bawaan mereka.

Bagian dalam Hagia Sofia yang tengah direnovasi (Foto: Haytam Muhamed Nawar untuk The Editor)

Di dalam masjid, saya langsung berdiri di pembatas kayu yang memberi jarak antara pengunjung yang mau sholat dan mereka yang sekedar menikmati arsitektur ruangan. Meski begitu ada juga diantara pengunjung yang memilih sholat dan berdoa diluar area yang disediakan. Menurut saya, sekilas warna bata yang cerah di langit-langit kubah masjid ini mirip dengan Sanctuarium Loyola di Kota Azpeitia, Spanyol.

Untuk diketahui, masjid ini memang menggabungkan banyak elemen arsitektur dari Museum Hagia Sofia yang berada tepat didepannya. Kita ketahui bersama, sebelum jadi museum, Hagia Sofia merupakan Gereja Orthodox bernama Sancta Sophia. Pengaruh Museum Hagia Sofia memang sangat terlihat dari pilihan warna dan desain kubah masjid.

Selain itu, saya juga melihat tiap sudut langit-langit dan pilar masjid dihias dengan keramik yang dilukis dengan pola bunga tulip yang berbeda-beda. Hanya saja keindahan desain masjid sedikit berkurang karena penambahan lampu hias yang ditopang dengan kawat yang ditancapkan keseluruh langit-langit kubah. Jadi interiornya terlihat terlalu ramai dan menutupi satu sama lain.

Saya tidak bisa berlama-lama berada di dalam masjid karena ternyata area untuk pejalan kaki digunakan oleh pengunjung untuk berdoa dan sholat. Sementara ruangan depan yang dibatasi kayu untuk sholat sangat kosong, hanya beberapa orang saja yang saya lihat sedang sholat di depan.

Sembari menunggu rekan saya sholat, saya sempatkan waktu untuk berselancar di internet mencari tahu tentang sejarah masjid ini. Dan saya baru sadar ternyata pemerintah Turki melarang situs Wikipedia diakses dari negara mereka. Cukup unik memang karena untuk informasi sejarah, Wikipedia lumayan membantu. Sangat disayangkan memang.

Untuk keluar saja dari dalam masjid juga harus antri karena pengunjung harus menyerahkan kembai sarung yang tadi dipinjamkan secara gratis. Anda juga dipersilahkan memakai kembali sepatu anda setelah keluar dari dalam masjid.

Plastik yang tadi diberikan untuk membungkus sepatu anda bisa diserahkan kembali ke petugas atau membuangnya langsung ke tempat sampah. Saran saya kepada setiap pengunjung yang hendak masuk ke dalam masjid ini adalah untuk tidak lupa mencuci kaki agar kebersihan bangunan bersejarah ini terus terjaga.

One Comment to: Desain Arsitektur Masjid Biru Istanbul Mirip Dengan Museum Hagia Sofia

Leave a Reply

  • (not be published)