Suster Lalita Roshni Jharkhand, seorang biarawati dari Gereja Santa Anna dari Simdega yang berada di Distrik Jharkhand, India Utara (Foto: THE EDITOR)

INDIA – Hanya terdengar teriakan minta tolong agar jumlah pasokan oksigen ditambahi, demikian ujar Suster Lalita Roshni Jharkhand, seorang biarawati dari Gereja Santa Anna dari Simdega yang berada di Distrik Jharkhand, India Utara.

Lalita yang saat ini bekerja sebagai asisten sekretaris di Kantor Wali Gereja India dan praktisi hukum untuk kemerdekaan di New Delhi ini mengatakan bahwa hanya berita kematian yang terdengar setiap waktu.

Dalam Global Sister Report Ia mengungkapkan bahwa sebagai seorang biarawati, Ia pun lelah harus menghantarkan begitu banyak nyawa sembari berkata, “Semoga beristirahat dalam damai,” katanya, Kamis (13/5)

Dan, lanjutnya, disaat yang bersamaan Ia juga harus menasehati teman-temannya untuk tetap tinggal di rumah, menjaga kesehatan dan berdoa.

“Di mana-mana, ada sesak napas, ketidakberdayaan, duka cita, harapan yang tenggelam dan keputusasaan yang ada,” jelasnya.

Kata Lalita, di India saat ini banyak orang yang dirawat di pinggir jalan, di taman dan di rumah sakit darurat dengan botol garam tergantung di batang pohon dan dahan pohon.

“Kelangkaan fasilitas medis adalah hal yang memalukan bagi kami. Saya tercengang melihat berita TV seorang wanita memberikan oksigen kepada suaminya yang terinfeksi dari mulut ke mulut,” ungkapnya.

Kata Lalita, saat ini grup WhatsApp, Facebook dan outlet media sosial lainnya, media cetak dan elektronik di India sering menampilkan cerita sedih. Lebih dari 100 Imam serta empat uskup telah meninggal. Lima pendeta meninggal di negara bagian Gujarat dalam 15 jam terakhir. Dua suster dari kongregasi yang sama, keduanya dalam tim kepemimpinan, meninggal karena COVID-19 dalam dua hari di rumah sakit yang sama.

Seorang Ibu yang terkena COVID-19 tengah menunggu diatas bajaj karena belum mendapat kamar di rumah sakit (Picture: Agency France-Presse/ THE EDITOR)

“Perasaan saya hancur karena saya telah bekerja dengan mereka berdua.

“Salah satu staf dapur kami kehilangan suami dan putrinya pada hari yang sama. Seorang umat paroki meninggal sehari sebelum putrinya. Seorang istri meninggal, tetapi suami di ICU tidak mengetahuinya,” katanya lagi.

Sebagai seorang wanita yang berasal dari suku yang religius, lanjutnya, saya sedih karena kami telah kehilangan banyak cendekiawan dan cendekiawan suku muda dalam pandemi, terutama dari Jharkhand, Madhya Pradesh, Chhattisgarh, Gujarat dan Odisha.

Lalita berhasil bicara dengan anggota keluarga yang terkena COVID-19 di desanya di Jharkhand. Katanya, banyak orang di desa tersebut yang meninggal dunia di rumah mereka sendiri karena tidak mampu untuk pergi ke rumah sakit.

Warga disana, masih kata Lalita, juga harus melakukan karantina pribadi tanpa obat dan ruang perawatan. Ini semua terjadi karena kemiskinan dimana rumah-rumah mereka tidak memiliki kamar pribadi.

Lalita sadar bila disaat seperti ini orang-orang mulai lelah berdoa, namun Ia tetap percaya dan yakin pada kekuatan doa. Karena Ia pribadi telah melihat kekuatan doa telah membawa tabung-tabung gas oksigen dari beberapa negara ke India, terutama ke wilayah Ia tinggal.

Karena kejadian tersebut, mulai banyak keluarga yang dulunya tidak berdoa sekarang justru berlutut dalam doa dan yakin. Selain itu, juga banyak orang di New Delhi yang menemukan penghiburan saat mengikuti ibadah misa online, saat berdoa rosario rahmat ilahi dan adorasi.

“Saya menyusun himne Hindi untuk perantaraan Bunda Mary Bernadette, pendiri kami, yang melayani selama epidemi kolera tahun 1895. Marilah kita “menjadi positif tetapi tes negatif,” tutupnya.

Leave a Reply

  • (not be published)