Pajak Kabanjahe yang dibangun tidak permanen di jalan raya utama Kota Kabanjahe. Akibatnya, kendaraan hanya bisa melintas satu jalur saja di Jalan Letnan Abdul Kadir, Kabanjahe (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

JAKARTA – Jauh sebelum bendera merah putih terpancang di Tanah Karo, daerah ini sudah menjadi sebuah wilayah yang dikagumi oleh bangsa lain. Sebut saja dengan sekolah internasional pertama di Indonesia yang bernama Highlands School Kaban Djahe yang memiliki tenaga pengajar berasal dari Belanda, Denmark, Swiss, Prancis dan Inggris (https://karosiadi.com/highlands-school-kabanjahe-sekolah-internasional-pertama-di-indonesia/). Dengan kata lain, kota ini sudah sangat maju dan modern.

Tanah Karo adalah gudangnya ilmu pengetahuan. Prestasi lain yang diperoleh oleh daerah yang disebut dengan Ingan Pusung Ndabuh ini terus bergerak maju. Buktinya, di tahun 1986 berdiri sebuah universitas dengan skala pendidikan internasional bernama Universitas Karo.

Selain itu, Tanah Karo adalah gudangnya ilmu kesehatan. Semua orang tahu bahwa Sekolah Tinggi Kebidanan dan Keperawatan menjadi salah satu jurusan favorit generasi muda Karo. Tak pernah berkurang jumlah peminatnya, sellau bertambah setiap tahun.

Persoalannya sekarang, apakah ada pemuda yang siap cinta pada apa yang dimiliki oleh Tanah Karo?

Pendidikan jatuh sedemikian kuatnya padahal kota ini dihuni oleh ribuan anak sekolah yang siap menimba ilmu hingga ke luar negeri. Puluhan SD, SMP, SMA, SMK baik swasta maupun negeri bersaing mendapatkan murid baru sepanjang tahun. Anehnya lagi, tidak ada sekolah yang kosong. Selalu bertambah jumlahnya. Adakah sekolah swasta yang tutup di Tanah Karo dalam beberapa tahun belakangan ini? Saya rasa tidak.

Mengapa struktur pendidikan yang sedemikian kuat justru tidak mampu membuat Tanah Karo jaya?

Salah satu hantaman keras yang harus dihadapi oleh kota ini adalah gempuran Narkoba dan HIV AIDS. Sangat kontras bukan kondisi yang dialami kota ini? Pemberitaan tentang kasus narkoba di Tanah Karo sudah seperti kacang goreng.

Padahal Batalyon Infanteri 125/Simbisa atau (Yonif 125/SMB) berada tepat di pusat kota. Mengapa keberadaaan mereka masih saja membuat narkoba lumrah di Tanah Karo? Mengapa pernanden (Ibu) di Tanah Karo harus berlomba mengirimkan anaknya ke Jakarta sedari kecil agar tidak diracuni narkoba? Ada apa dengan Tanah Karo?

Mengapa struktur yang sudah jadi dan disertai dengan adat istiadat yang kuat mengikat warga Karo justru tidak mampu membuat warganya lepas dari jerat narkoba?

Pajak sebagai pusat bisnis masyarakat pun tak bisa dikendalikan oleh pejabat yang berwenang. Hampir 10 tahun Pajak Kabanjahe dibiarkan terbengkalai dan tidak ada pembangunan yang terstruktur. Padahal sangat sederhana logika yang bisa dipakai disana.

Tanah Karo disebut sebagai salah satu daerah pengeskpor buah dan sayuran ke luar negeri. Jangankan mengontrol harga pertanian, menjaga kelaikan pasar sebagai tempat jual beli saja tidak pernah selesai. Penghargaan kepada petani tidak ada disana, padahal pesta Bunga dan Buah yang menandai keberhasilan pertanian Tanah Karo selalu digelar setiap tahun di Kota Berastagi.

Tidak ada yang perlu disalahkan karena warga Karo sedari dulu terbiasa mandiri. Sangat jarang terjadi demonstrasi karena masyarakatnya menganut sistem kekerabatan yang tinggi. Keputusan diambil dalam musyawarah.

Bila masyarakat Karo sedemikian kuatnya menjaga diri mereka sendiri, untuk apa mereka memilih calon bupati dan legislasi yang tidak pernah mereka miliki? Jadi, tak perlu memilih yang tak ingin mengenal Tanah Karo.

Bila anda bingung memilih apakah perlu bupati yang berasal dari suku Karo atau tidak, maka berkacalah dari bupati sebelumnya. Apakah Ia mengenal Tanah Karo? Apakah Ia lama tinggal di Tanah Karo? atau apakah Ia suka dengan Tanah Karo? Anda warga Tanah Karo yang tahu. Selamat memilih!

Leave a Reply

  • (not be published)