Calon Wakil Bupati Tanah Karo Budianta Surbakti (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

TANAH KARO – Terletak di Cafe XO yang berada di Kabanjahe, tim The Editor menunggu kedatangan Budianto Surbakti pada Senin (9/11). Dengan mengenakan kemeja berwarna merah, jeans hitam dan peci, pria yang pernah bekerja selama 30 tahun di Scheneider Indonesia ini mengaku sangat bersyukur karena diberi kesempatan untuk melayani masyarakat di Tanah Karo.

“Saya bekerja di Schneider Electric dan saya bersyukur dalam hidup saya di usia 49 tahun ini diberi kesempatan melayani masyarakat. Saya 30 tahun merantau dan saya juga masih student program doctoral di UI. Tantangan berat sekali,” tutur Budianta mengawali pembicaraan.

Isu tentang mesin partai yang tidak bekerja tidak dijawab oleh Budianta. Katanya, meski bukan seorang politisi, namun Ia sangat bangga karena dipilih oleh PDIP untuk maju sebagai calon wakil bupati mendampingi Iwan Sembiring Depari.

“Saya bukan politisi,” jelasnya.

Persaingan ketat di meja kandidat PDIP pada Agustus lalu diakui Budianto sangat mendebarkan. Dua pasangan lain yang maju sebagai kandidat di PDIP menurutnya sangat hebat. Terpilihnya nama Iwan Sembiring Depari dan Budianto Surbakti bagi pria yang doyan tersenyum lebar ini akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“PDIP sudah 3 kali kalah di Pilkada Tanah Karo. Jadi Ahok, Puan Maharani dan Junimar akan datang kemari pada tanggal 11 mendatang,” ungkapnya.

Menjauh dari politik uang, demikian harapan yang disampaikan Budianto. Ia akui bila politik uang sangat ramai dibicarakan oleh masyarakat di Tanah Karo. Tanah Karo terpuruk selama puluhan tahun menurutnya terjadi karena politik uang dan korupsi.

“Fenomena di Sumatera Utara sometimes everything based on money. Nggak bisalah karena intinya begitu, orientasinya adalah duit,” jelasnya.

“Kabupaten Karo sudah lama terpuruk, tidak ada pembangunan, infrastruktur dan birokrasi yang sudah lama,” pungkasnya.

Leave a Reply

  • (not be published)