Pasar Tradisional yang berada di Kota Tua Sarajevo, Bosnia. Disini produk branded imitasi dijual bebas. Paling banyak biasanya syal merek Burberry (Foto: Elitha Evinora Tarigan/ THE EDITOR)

BOSNIA – Turis asal Indonesia sebelum berangkat liburan ke Eropa selalu dinasehati agar tidak memakai tas dan barang-barang imitasi ke negara modern tersebut. Karena bila ditemukan, maka tas, baju dan bahkan syal Anda akan langsung digunting saat berada di bandara.

Nah, bagaimana dengan negara-negara Eropa yang menjual produk palsu kepada turis dan bahkan warganya?

Salah satu negara di Eropa yang menjual produk imitasi seperti Chanel, Gucci hingga Hermes adalah Bosnia. Di Ibukotanya Sarajevo, Anda akan temukan tas imitasi semacam itu yang dijual secara bebas di Kota Tua.

Pedagang juga dengan ramah menawarkan tas-tas yang tergantung di bagian luar ruangan. Bila ditelisik lebih jauh, tas branded semacam ini tidak mungkin dipajang bebas karena untuk menghindari debu. Mereka dengan yakin mengatakan bila tas yang ada disana juga asli. Jadi tidak perlu khawatir bila akan ditangkap di bandara.

Bisa dikatakan penjual di Indonesia lebih moderat dan paham bila produk-produk palsu dijual karena tidak adanya regulasi yang benar. Namun bila negara-negara yang berada di Eropa bebas menjual produk palsu semacam ini, maka percuma mengedukasi wisatawan Tanah Air yang pada akhirnya juga akan tahu fakta yang terjadi sebenarnya.

Sebagaimana diketahui, beberapa bandara telah memberi daftar hitam bagi negara-negara yang warganya dianggap doyan pakai barang palsu. Jerman adalah salah satu negara yang sangat hati-hati dalam menjaga produk-produk original baik dari hasil produksi negara mereka sendiri ataupun negara lain.

Wisatawan yang kedapatan membawa barang tiruan ke Jerman maka akan dikenakan sanksi berupa denda senilai ribuan euro dan harus lewat persidangan. Jadi, tas atau perhiasan yang dipakai tidak hanya sekedar dirusak atau diberi pewarna.

Italia juga menerapkan aturan denda yang sama seperti Jerman bila ada warganya dan turis kedapatan memakai produk palsu. Sementara Prancis menjatuhkan sanksi kurungan tiga tahun bila pihak keamanan menemukan orang yang memakai produk yang tidak asli.

Kompasiana menuliskan bahwa, aturan ini diberlakukan oleh negara-negara di Eropa karena kerugian yang dialami oleh negara-negara produsen produk branded. China adalah salah satu negara yang dianggap paling sering melakukan plagiasi bagi produk-produk mereka.

Tak heran memang, bila pameran-pameran yang diadakan oleh China selalu diawasi oleh petugas keamanan di Eropa karena tak hanya tas, namun beberapa aksesori sanitasi seperti keran air, piring, piring bahkan mobil juga dicuri oleh mereka.

Leave a Reply

  • (not be published)