Salah satu rumah bekas camp tentara Jepang yang masih tersisa di Desa Hinoki (Foto: Elitha Evinora Tarigan)

TAIWAN – Alishan adalah kota dimana Desa Hinoki berada. Jaraknya pun hanya 20 menit dari stasiun kereta, jadi cukup berjalan kaki saja. Tugu setinggi 5 meter yang merupakan bagian kecil kayu cemara berusia ratusan tahun menjadi saksi 50 tahun pendudukan Jepang di Taiwan siap menyambut kedatangan turis.

Hinoki adalah kawasan perumahan yang khusus dibangun untuk tempat tinggal para petinggi militer Jepang. Dari tempat tersebut mereka mengontrol industri kayu cemara yang berpusat di pegunungan Alli.

Tak hanya jadi base camp para petinggi militer, Hinoki yang dibangun pada tahun 1914 juga menjadi asrama para pekerja yang umumnya adalah orang Taiwan sendiri. Gelondongan kayu berukuran raksasa dibawa dengan cara manual oleh para pekerja untuk diberikan kepada Jepang.

Saat ini, hanya tersisa 28 bangunan berbahan dasar kayu cemara yang ada di Desa Hinoki. Setiap rumah masih dibiarkan seperti sediakala. Isi rumah juga tidak dirombak. Onsen, ruang ibadah dan ruang tamu tetap sama seperti aslinya. Pengunjung juga bisa masuk serta menikmati keindahan bangunan rumah yang berusia cukup tua tersebut.

Dalam budaya Jepang, ukuran rumah jadi pertanda posisi dan jabatan yang tengah Ia emban. Seorang petinggi militer dengan posisi jenderal tentu akan mendapatkan rumah dengan ukuran luas yang dilengkapi taman.

Desa ini juga sangat berbeda dengan tempat lainnya di Taiwan. Budaya dan suasana Jepang yang kental membuat pengunjung seolah lupa bila mereka tengah berada di Taiwan, bukan Jepang. Turis dengan kimono akan tampak lalu lalang di sekitar desa. Aroma cemara yang keluar dari bangunan-bangunan rumah juga sangat terasa.

Pemerintah Taiwan mengakui bila memperbaiki desa seluas 3,4 hektar ini sangat mahal dan sulit. Karena usai Perang Dunia II, kondisi rumah-rumah kayu ini rusak, terutama bagian pondasi. Jadi, agar bisa menjadi cagar budaya maka biaya yang besar tentu harus digelontorkan.

Rumah-rumah ini disusun ulang menjadi lebih tinggi agar kayu terhindar dari tanah yang lembab. Butuh waktu 2 tahun untuk memperbaiki 29 bangunan rumah yang ditinggalkan Jepang di desa ini.

Bagaimana cara menuju tempat ini?

Dari Taipei Anda cukup menempuh perjalanan 1,5 jam dengan Taiwan High Rail Speed (THSR) atau kereta cepat dari Stasiun Taipei menuju Stasiun Chiayi. Biaya yang harus anda keluarkan untuk sekali jalan adalah 900 NTD atau sekitar Rp390 ribu. Kereta ini sama halnya dengan kereta cepat Shinkansen milik Jepang jadi sangat efektif.

Dari stasiun Chiayi Anda jalan kaki ke lokasi desa. Bila enggan, Anda dapat menyewa motor yang tersedia di stasiun kereta yang terletak di pintu keluar atau naik bus.

Leave a Reply

  • (not be published)