BELANDA – Den Haag mungkin ramah di telinga karena hubungannya dengan sejarah Indonesia dan Belanda. Konferensi Meja Bundar menjadi salah satu kejadian penting yang digelar di Den Haag.

Salah satu sudut pasar De Haagse Markt atau Pasar Den Haag di Belanda (Fotografer : Dwi)

Setelah masa itu berlalu, Den Haag menjadi pusat pemerintahan yang tercermin gedung sejumlah kementerian. Namun, kegiatan di Den Haag terpusat pada siang dan sore hari karena pukul 19.00 waktu setempat, toko-toko tutup meskipun berada di tengah kota.
Uniknya, meskipun tergolong serius, Den Haag menawarkan pusat keramaian yang bahkan disebut sebagai pasar outdoor terbesar di Eropa. Situs resmi pariwisata Belanda menyebut lebih dari 500 lapak siap melayani lebih dari 25.000 pengunjung setiap pasar buka. De Haagse Markt atau Pasar Den Haag menjadi salah satu rekomendasi teman yang saya kenal melalui aplikasi Couchsurfing.
Rik yang tinggal di Den Haag menyarankan saya agar mengunjungi Pasar Den Haag. Saya pun lekas mencocokkan waktu buka pasar tersebut karena pasar itu hanya buka setiap Senin, Rabu, Jumat dan Sabtu.
Saya memutuskan untuk berjalan kaki kendati peta menunjukkan bahwa jarak tempat saya ke Pasar Den Haag 6 km. Selain itu, saya memang sedang ingin melihat tempat apa saja yang bisa saya kunjungi di sekitar lokasi.
Saya pun berjalan kaki dengan bantuan peta digital yang saya genggam. Cukup sulit berjalan dengan kecepatan stabil karena angin bertiup cukup kencang membawa hawa dingin masuk dan menusuk kulit padahal tubuh sudah terbalut dua lapis baju hangat.
Antusiasme saya mengalahkan itu semua. Saya terus berjalan sambil melihat sudut-sudut jalan di Den Haag. Kotanya tak terlalu ramai namun beberapa gaya bangunan masih mempertahankan sentuhan Belanda yang kerap kali muncul di suvenir.
Beberapa tulisan di toko cukup familiar karena memiliki arti kata yang sama dengan kata pada Bahasa Indonesia. Seperti kata korting dan apotheek yang membuat saya tersenyum karena dengan mudah menebak artinya.
Saat harus menyeberang jalan, saya tak hanya harus waspada dengan kendaraan roda empat, bus atau tram melainkan sepeda. Salah seorang teman menyebut tak ada yang bisa menghentikan para pengguna sepeda di Belanda.
Tak peduli cuaca, tak peduli waktu mereka akan tetap mengayuh sepedanya. Menariknya, setiap kali saya menyeberang jalan, mobil-mobil yang seharusnya berjalan justru mempersilakan saya untuk melintas lebih dulu.
Saya akhirnya tiba di De Haagse Markt. Dari gerbang, saya disambut tenda penjual keju. Entah berapa macam keju yang dijual di tenda itu mulai dari yang berwarna kuning hingga bulatan besar berwarna oranye.
Saya langsung membelah salah satu lorong paling ujung untuk mengetahui apa saja yang dijual di sini. Benar saja, tak ada yang tak dijual di pasar ini. Pakaian, alat elektronik, roti, sayuran dan buah, produk perawatan tubuh hingga rempah ada di sini.
Tak heran bila pasar ini juga disebut sebagai pasar multikultur terbesar di Eropa karena saya mengenali ciri fisik beberapa ras lainnya seperti Timur Tengah, Afrika sebagai pengunjung maupun penjual. Menariknya, bahkan saya bertemu salah seorang pengunjung asal Indonesia.
Pertemuan ini tanpa disengaja, yakni saat saya memilih 1 kg stroberi besar dan merah seharga 1 euro. Saat asyik memilih stroberi, saya mendengar jawaban Indonesia lainnya ketika saya pikir penjual bertanya kepada saya.
Lalu perjalanan saya di pasar berlanjut. Langkah saya terhenti saat aroma susu yang menggoda menarik saya berjalan mundur ke lapak penjual roti yang telah dipadati pembeli.
Semua roti mulai dari baguet, croissant hingga pastry dengan aneka topping selai buah tersedia dengan harga terjangkau. Saya mengambil pastry berbentuk kotak dengan siraman cokelat di tengahnya. Untuk menikmati tiga roti yang baru diangkat dari pemanggang tersebut saya hanya mengeluarkan uang 77 sen euro.
Perjalanan selesai setelah saya puas melahap roti. Untuk bisa merasakan langsung berbelanja di De Haagse Markt, tram jalur 11 dan 12 tersedia sehingga tak perlu lelah berjalan kaki. Selamat berbelanja!

Leave a Reply

  • (not be published)