Berbagai macam jenis sayur yang tersedia di warung (Foto: THE EDITOR)

TANAH KARO – Pemanfaatan lahan pekarangan sudah ada sejak jaman dahulu kala. Di Tanah Karo, Sumatera Utara misalnya daerah yang merupakan area pertanian ini ternyata juga memiliki pasar tempat jual beli sayur mayur dan kebutuhan dapur. Seharusnya penduduk di kabupaten yang terkenal akan sayur mayurnya ini tidak perlu lagi membeli apapun lagi dari pasar bukan? Nyatanya tidak demikian.

“Karena lama-lama orang makin malas,” ujar Rosni (84) warga Desa Lambar, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo kepada The Editor, Kamis (10/6).

Jaman dahulu, lanjutnya, masyarakat yang tinggal di desanya memanfaatkan halaman rumah dan ladang sebagai media penanaman sayur dan bumbu kebutuhan dapur sehari-hari.

Seperti sayur manis, daun ubi, sayur pahit, daun labu siam, labu, daun labu parang, labu parang, labu kuning, daun perai, daun serai, kulit manis, jahe, kecombrang, andaliman, daun salam, cabai, tomat mini, tebu, jeruk purut, berbagai jenis jeruk asam dan lain sebagainya.

“Dan kami masih bisa menanam bunga yang bisa dipakai sebagai penghias rumah dan untuk dijual,” kata Rosni.

Pola hidup semacam ini kata Rosni dikenalkan oleh Ibunya yang juga adalah seorang petani. Rosni yang sempat merasakan nasib sebagai pengungsi di jaman penjajahan Jepang ini mengaku diajari disiplin oleh keluarganya. Karena di jaman dahulu masa-masa tenang tanpa peperangan adalah masa untuk menanam.

“Kalau tidak perang artinya bisa bercocok tanam. Tapi jarang dulu,” kata Rosni yang asli dari Desa Seberaya ini.

Sedari kecil, Ia juga mempelajari berbagai macam teknik pertanian. Ia juga terbiasa mengiris tembakai untuk dijadikan bahan dasar rokok atau tembakau untuk makan sirih. Dalam perjalanannya wanita ini ternyata belajar banyak hal, namun yang utama adalah tentang menyimpan stok makanan selama satu tahun.

Misalnya beras, Ia dan seluruh warga di desanya biasa menanam padi di bulan Januari  untuk dipanen di bulan Juni. Di jaman dahulu dibutuhkan waktu selama enam bulan untuk menanam padi. Jenis padi yang biasa ditanam wanita ini adalah Beras Si Cimun dan Beras Si Kersik.

Beras Si Cimun ini adalah favorit warga Lambar karena wangi dan enak. Ia harus berjibaku melawan tikus karena beras jenis ini tanpa perlu dimasak juga sudah mengeluarkan bau yang harum.

Menanam bumbu-bimbu dapur seperti daun seledri, daun perai, daun serai, daun jeruk, bawang merah dan berbagai macam bumbu lainnya juga dilakukan di rumaj. Tujuannya agar lebih mudah diambil saat dibutuhkan.

Pola pikir semacam ini ternyata tengah tren di Indonesia. Sejak 2014 lalu pemerintah mendorong setiap masyarakat untuk menanam berbagai macam bumbu dapur di rumahnya masing-masing. Salah satunya adalah cabai.

Menteri Pertanian era Joko Widodo dan Jusuf Kalla, Andi Amran Sulaiman tahun 2016 lalu mengimbau agar rumah-rumah warga diisi dengan berbagai macam bumbu dapur, seperti cabai. Sayangnya program ini mendapat kecaman padahal tujuannya agar warga miskin tidak perlu mengeluarkan biaya untuk kebutuhan dapur.

Tak menyerah, pemerintah mendorong masyarakat menengah ke atas menanam sayur mayur dengan teknik hidroponik. Dan ternyata cukup berhasil karena perkembangan program ini menyambar hingga ke berbagai acara seminar yang diadakan di hotel-hotel.

Mengapa Warga Menengah Ke Bawah Enggan Menanam Sayur Dan Kebutuhan Dapurnya Sendiri?

Astrid (34) warga kota Kabanjahe mengaku cukup enggan menanam sayur dan bumbu dapur sendiri dengan alasan belanja bumbu dapur tidak begitu mahal. Padahal di saat harga cabai dan daun perai mahal, Astrid juga mengeluh dan menyampaikan keberatannya di akun media sosial Facebook.

Ia menjabarkan biaya bumbu dapur sederhana yang harus Ia keluarkan sehari-hari. Sayur daun labu parang tiga ikat Rp 5.000, daun perai 1 ons Rp 2.000, cabai 1 ons Rp 2.000, tomat 1 ons Rp 1.000, bawang merah 1 ons Rp 2.500, bawang putih 1 ons Rp 2.000, beras 1 kg Rp 12.000, ikan teri medan 2 ons ukuran besar paling murah Rp 20.000.

Total biaya yang harus dikeluarkan sehari-hari untuk bumbu dan sayur saja adalah Rp 14.500. Sementara untuk beras rata-rata Rp 12.000 per hari dan ikan rata-rata Rp20.000 per hari. Biaya ini dikeluarkan unti keluarga yanh terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak.

Dengan pola seperti diatas, dalam satu bulan Astrid mengeluarkan biaya sekitar Rp 435.000. Angka ini saat disebutkan membuat Astrid kaget karena ternyata menurutnya sangat tinggi.

Astrid adalah seorang pegawai di sebuah toko penjual baju dan aksesoris di Kota Kabanjahe. Suaminya sendiri adalah seorang petani yang juga menyambi sebagai pekerja toko. Dua anak mereka sekolah di SD Xaverius di Jalan Irian Kabanjahe. Uang yang dikeluarkan untuk biaya sekolah dua anak ini ternyata cukup besar, namun tidak sebesar biaya bumbu dapur.

Astrid mengaku memiliki banyak lahan kosong untuk ditanami berbagai macam sayur dan bumbu rempah. Dengan biaya perkiraan seperti diatas Astrid ternyata langsung memutar otak untuk menanam berbagai macam sayur mayur dan rempah.

Kata Astrid, tanpa perhitungan semacam itu Ia tidak akan sadar bila pengeluarannya sehari-hari untuk dapur sangat mahal. Bahkan dalam seharinya Ia bahkan pernah menghabiskan biaya dapur hingga Rp 40.000 per hari.

“Nggak sadar kalau sangat mahal biaya dapur. Biasanya belanja lebih banyak dari itu dan langsung tidak mau lagi. Mending tanam saja,” tutup Astrid.

Leave a Reply

  • (not be published)