VATIKAN – Dalam Minggu ke-15, kalender liturgi menghadirkan bacaan Injil yang menarik, sebuah perumpamaan tentang benih dan tanah yang subur.

Salah satu sudut Gereja Santa Maria Maggiore di Roma, Italia Fotografer: Elitha Evinora Tarigan)

Tanah adalah hati manusia, hati dilukai oleh pengalaman masa lalu, hati yang membawa keraguan dan ketakutan, tetapi juga harapan dan cita-cita. Setiap tanah, yaitu setiap hati dengan setiap jenisnya, menyambut benih dengan caranya sendiri. Tentu saja Injil ini tidak diperuntukkan bagi bidang yang tanpa cacat, tetapi untuk semua bidang. Inilah sebabnya mengapa Firman Tuhan jatuh di semua jenis medan tanah, untuk mengungkapkan apa yang ditemukan di dalamnya.

Benih bisa mengungkapkan tanah berbatu, yaitu, hati berbatu yang tidak memiliki akar dalam dirinya sendiri. Artinya, seseorang menyambut Firman dengan antusiasme sesaat, tetapi tidak mengakarnya. Sebaliknya, perlu diserap oleh Firman, untuk tetap di dalam Firman. Benih itu juga mengungkapkan tanah yang penuh dengan duri: kesenangan, kekayaan dan kekhawatiran dunia. Bahkan dalam hidup kita, sering kali kita membuang-buang anugerah untuk membuat cinta-Nya hidup berdampingan dengan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan itu. Dan di sini juga benih itu mati lemas.

Benih yang bisa mengungkapkan tanah yang baik, yaitu hati yang tahu bagaimana menyambut Firman Allah karena telah memahami bahwa Firmanlah yang menyelamatkan; hati yang mengerti bahwa Firman Tuhan lebih penting daripada makanan atau kesenangan sesaat; hati yang telah memahami bahwa tanpa Firman yang mewujud di dalam ruang dan waktu manusia, ia tetap gersang, steril dan tidak menghasilkan buah.

Benih adalah anugerah karena ia menunjukkan tanah pada dirinya sendiri, dan pada saat yang sama ia menempatkannya pada posisi untuk memberikan semua yang dapat diberikannya. Tanpa meminta lebih banyak dan tanpa meminta lebih sedikit. Inilah sisi keindahan dari kisah Sang Penabur.

Saudara-saudari terkasih,

Tuhan tidak menunggu untuk memverifikasi kesesuaian orang tersebut untuk memberikan Firman-Nya tanpa batas. Tuhan memberikan dirinya sendiri secara otomatis. Mereka yang menerimanya dan menyambutnya dalam kehidupan mereka akan melihat proses perubahan dan pertumbuhan baru bermunculan di dalam diri mereka. Semoga demikian.

Leave a Reply

  • (not be published)