Sekumpulan wanita Karo tengah bersantai sambil makan sirih di sebuah desa di Tanah Karo (Foto: Liberty Ginting/ THE EDITOR)

TANAH KARO – Tidak banyak suku di Indonesia yang masih menjaga tradisi makan sirih. Salah satu suku yang hingga saat ini masih tetap menjaga tradisi makan daun sirih adalah Suku Karo yang bermukim di Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara. Tak seperti daerah lainnya, disini harga daun sirih justru lebih mahal dari emas.

Dalam Bahasa Karo, daun sirih disebut belo. Sehari-harinya, masyarakat ini memakan belo dengan kapur sirih, gambir atau dalam Bahasa Karo disebut gamber serta mbako atau tembakau. Empat item ini selalu dibawa dalam sebuah wadah yang disebut Kampil. Kampil ini berukuran 30 cm dengan tinggi 20 cm dan dianyam dari daun pandan.

Budaya makan belo di Tanah Karo sudah bertahan sejak dahulu kala. Tak hanya wanita, pria juga terbiasa makan daun yang satu ini. Mereka makan belo bukan karena sebatas sedang melakukan ritual adat tertentu, melainkan karena hobi. Belo adalah bagian sehari-hari masyarakat Suku Karo.

Jejeran penjual sirih bisa ditemukan di banyak tempat di Tanah Karo. Harganya mulai dari Rp40.000 – Rp100.000 per pedi, istilah untuk satu ikat belo. Satu pedi belo terdiri dari empat kepit, dimana satu kepit berisi sekitar 45 lembar belo. Dengan kata lain satu pedi belo terdiri dari 180 lembar belo. Harga tersebut belum termasuk untuk kapur sirih, tembakau dan gambir.

Satu pedi belo Tanah Karo (Foto: Liberty Ginting/ THE EDITOR)

Salah satu belo yang terkenal di Tanah Karo adalah yang berasal dari Desa Juhar dan Desa Jandi. Biasanya pembeli tinggal bertanya apakah Belo Jandi atau Belo Juhar ada atau tidak, namun umumnya kedua jenis belo ini gampang dikenali karena warna, ukuran dan bentuknya yang berbeda dari daun sirih lainnya. Tapi bila tidak bisa mengenalinya memang harus bertanya supaya tidak kaget saat daun sirih yang anda minta dihargai hingga Rp100.000 per pedi.

Ada yang menarik dari kebiasaan Suku Karo saat makan sirih. Mereka menyebut istilah ‘manis’ untuk daun sirih yang enak dimakan. Daun sirih jenis ini sudah pasti berkualitas bagus. Cara memakannya juga gampang-gampang susah karena takaran kapur sirih dan gambir yang tidak sesuai akan menyebabkan lidah atau dinding mulut melepuh.

Selain harus memperhatikan takaran saat meramu daun sirih, hal lain yang juga harus dilihat adalah tembakau atau dalam Bahasa Karo disebut Mbako. Mbako ini biasa jadikan sebagai Suntil, dan cara menggunakannya pun unik. Mbako disuntilkan atau digoyang ke bagian atas dan bawah bibir setelah sebelumnya campuran daun sirih dikunyah dan menghasilkan warna merah. Mbako memiliki efek memabukkan, umumnya mbako jenis ini berwarna cokelat gelap.

Mbako yang umum dikonsumsi masyarakat Karo berwarna kuning terang. Harganya juga cukup mahal, jadi mereka yang tidak mampu membeli mbako dengan kualitas ini biasanya akan mengkonsumsi mbako yang memiliki kadar memabukkan yang tinggi. Akibat budaya makan sirih ini, gigi dan mulut masyarakat Karo kebanyakan berwarna merah.

Leave a Reply

  • (not be published)