Aktifitas umat di paroki Bayun Keuskupan Agats (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)

ASMAT – Kata banyak orang, pedalaman adalah tempat pembuangan. Inilah salah satu rahasia umum yang sering kita dengar. Parahnya, hal ini bukan saja terjadi di kalangan pegawai pemerintahan, tetapi juga isu ini juga seringkali datang dari kalangan anggota gereja. Apakah benar ditempatkan di pedalaman karena dibuang atau karena dia mampu?

Suka Duka Berpastoral di Pedalaman

Menjadi petugas pastoral di pedalaman telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang berharga bagi saya. Pada awal ditempatkan di sana, Uskup saya mengatakan bahwa ini adalah penghargaan yang berharga bagi saya.

Pada awalnya saya merasa sedih karena harus berpisah dengan teman-teman, suasana kota, jaringan telepon, atau warung-warung makan yang dapat dengan mudah ditemui di sudut jalan di kota kami yang kecil. Saya selalu bertanya bagaimana keadaan disana, apakah disana akan ada kios, bagaimana kalau sakit nanti dan berjuta pertanyaan lainnya.

Lucunya, bahkan ada teman dari luar kota pernah bilang, aku gak bisa hidup tanpa tempe, bagaimana bisa bekerja kalau tidak ada tempe di sana? (pertanyaan-pertanyaan ini rasanya melelahkan ya … haha). Menjadi lebih menantang lagi karena, akan ada tanggungjawab besar yang harus saya pikul sebagai pastor paroki pada saat itu.

Terbayanglah sudah litani kesulitan yang akan saya hadapi. Banyak hal yang harus diurus di sana, mulai dari komunitas orang muda katolik, lahan yang luas, kios paroki, Ibu-ibu, dewan, stasi, balai pengobatan, lapangan terbang misi, bahkan sekolah. Semua harus terpadu di bawah koordinasi Pastor Paroki. Lupakan malaria atau ombak yang tinggi karena itu hal wajib di tempat kami. Sulit juga ya.

Tiba di Pedalaman

Hal sederhana pertama yang saya buat adalah berkunjung ke rumah umat. Mulai dari memperkenalkan diri, mendengarkan, dan sesekali membuat kegiatan kecil bersama para dewan. Hampir semua hal dibuat dengan pertimbangan beberapa anggota dewan gereja dan tokoh umat. Kalau ada tantangan, langsung cari teman-teman untuk sekedar sharing dan meminta pendapat mereka.

Kebetulan stasi tempat saya tinggal adalah tempat yang cukup subur untuk ukuran daerah Asmat yang berlumpur. Dikarenakan kondisi unik ini, maka bisa dipastikan hampir selalu ada sayuran di meja makan kami ! Percayalah, dedaunan yang bisa dimakan ini menjadi barang mewah di wilayah Asmat yang sembilan puluh persen berlumpur ini. Tak jarang teman pastor dari paroki tetangga mengirimkan nota SOS kepada saya, yang isinya:

“bro, tlg saya … sayur 3 ikat, kelapa 5 butir, cabe harga Rp. 20.000,-, ntar ktm sa bayar”, demikianlah isi tulisan ala sms-an di secarik kertas dari teman pastor, yang tinggal berjarak tiga sampai empat jam berjalan kaki.

Saya pun melakukan hal yang sama, dengan menuliskan nota SOS balasan yang isinya sederhana,

“bro, saya rindu masakan ayam kampungmu”, dan begitulah seterusnya dengan isi catatan yang selalu berbeda dan menyenangkan.

Oya, kami memang tinggal di pesisir pantai, tetapi saat musim ombak tiba, kami akan kesulitan mendapatkan ikan. Lebih parah lagi jika pada saat yang sama, kami kehabisan stok beras, mie instant, gula, atau minyak tanah dan bensin yang memang sangat mahal pada masa itu. Bekerja pun tidak bergairah karena perut tidak terisi dengan maksimal.

Di meja pastoran sudah bisa dipastikan ada singkong atau pisang rebus dan sedikit mie dengan seember kuah. Jika ada umat yang lewat di depan rumah, biasanya saya titipkan candaan pertanyaan kepada komunitas susteran tetanggaku.

“tadi saya pesan kue dari desa sebelah tetapi belum juga tiba di sini. Apakah mereka menitipkannya di susteran ?”.

Biasanya mujizat terjadi sejam kemudian. Para suster menuju pastoran dengan kue atau sepotong ikan asin sambil mentertawakan isi pesan saya. Bahkan mereka pun tidak segan-segan mengirimkan pesan balasan jika kehabisan bahan makanan enak.

Persaudaraan sangat kental terasa. Saling berkunjung dan menguatkan adalah salah satu syarat mutlak saat bekerja di pedalaman. Pintu rumah kita harus terbuka sebisa mungkin. Teras pastoran yang luas, menjadi tempat umat berkumpul, sekedar mampir atau berlindung saat panas dan hujan. Anak-anak sangat ramah, bahkan beberapa dari mereka akan meminta sesuatu dengan sopan kepada kita. Banyak anak muda pun akan meminta ijin jika ingin sekedar duduk di teras pastoran.

Kepada umat saya pun melakukan yang sama. Saya merasa bebas untuk mengatakan apa yang saya perlukan jika dibutuhkan. Jika saya ingin ikan, saya bisa ke pantai, bertemu ibu-ibu yang sedang menjaring dan hanya bilang, “mama, minta ikan sedikit ya..!”.

Kisah Unik di Gereja

Seribu hari lebih saya habiskan di tempat ini dan terukir pula ribuan kisah menarik di tempat ini dan tidak bisa hilang dari memoriku. Saya teringat kembali bahan persembahan di Gereja berupa sayuran, sagu bakar, bahkan singkong rebus. Bahan-bahan persembahan yang sudah dimasak biasanya kami makan bersama-sama setelah mengikuti perayaan Ekaristi.

Adapun bahan makanan yang mentah dijualkan ke para guru, susteran, perawat, atau pastoran. Memang harus dijualkan supaya memenuhi kebutuhan gereja lainnya misalnya lilin, minyak untuk membabat rumput, membeli sapu, permen untuk anak-anak sekolah minggu, dan lain-lain.

Pada suatu hari raya, seorang bapak yang rajin ke gereja membawa persembahan berupa ayam yang masih hidup. Ayam itu diikat di tiang lilin kecil di dekat altar, dan talinya terlepas. Alhasil, seisi gereja menjadi heboh karena ayam menjadi incaran manusia dan anjing di saat bersamaan.

Di saat-saat tertentu, saya juga rindu kepolosan beberapa orang tua yang berani tampil untuk membaca bacaan liturgi di Gereja sekalipun terbata-bata. Kalau diikuti, setiap hari selalu menarik.

Setiap Tempat Ada Cerita

Saya percaya bahwa semua tempat, entah di kota besar atau di pedalaman terpencil di manapun, memiliki tantangan yang unik dan berbeda. Misalnya ada teman saya yang berasal dari India, harus berhadapan dengan realitas kemiskinan atau isu-isu tentang kasta dan kesetaraan gender. Ada juga teman saya dari salah satu negara di Afrika yang pernah berceritera bahwa di tempatnya bekerja, dia harus berjalan kaki beberapa hari di padang pasir untuk mengunjungi umat yang ia layani.

Atau ada juga kisah lain dimana para pastor di beberapa keuskupan di Afrika hanya diberi uang saku sangat kecil, setara kurang dari dua puluh ribu rupiah dalam sebulan. Bahkan tantangan pun ada di antara para imam di gereja-gereja di benua Eropa atau di tempat lain. Puji Tuhan, bahwa di dalam keterbatasan seperti ini pun, mereka tetap setia dalam melayani Tuhan dan umat beriman dengan sukacita.

Tentu saja, tidak setiap hari kita dapat berjumpa dengan kegembiraan, dan tidak setiap saat pula kesulitan itu datang. Hal penting yang dapat kita lakukan adalah menyadari dengan penuh syukur bahwa kasih Tuhan itu ada di mana-mana. Akan tetapi dibutuhkan kerendahan hati untuk tetap teguh dalam menghadapi segala sesuatu dan tetap setia di tempat dimana kita diutus. Dengan cara ini, kita akan semakin membumi, menjadi saudara di tempat di mana kita layani.

Saya percaya inilah cara Allah memperkaya diri saya. Saya justru ‘disekolahkan’  oleh Tuhan di tengah umat yang polos dan sederhana, yang tinggal di pendalaman. Saya pun selalu bersyukur untuk pengalaman berharga ini. Jadi, jangan takut belajar dari pedalaman, bro dan sis, karena pedalaman bukan tempat pembuangan, tetapi tempat penuh rahmat!

Martin Selitubun
Pastor dari Keuskupan Agats Papua

Leave a Reply

  • (not be published)