Foto teleskopik saat matahari melepaskan massa korona (Foto: The Week/ THE EDITOR}

AMERIKA SERIKAT – Para ahli NASA memperkirakan akan terjadi badai matahari pada bulan Juli 2025 mendatang. Badai matahari artinya aktivitas matahari meningkat dalam siklusnya dan puncaknya adalah tahun 2025.

The Week menyebutkan bahwa dibutuhkan dua sampai tiga hari bagi badai matahari untuk menghantam bumi. Masyarakat dan pemerintah diseluruh dunia diminta untuk waspada dalam menghadapi fenomena alam ini.

Badai matahari terjadi akibat permukaan matahari menjadi sangat panas, yakni sekitar 10.000 F. Akibatnya, aura plasma (gas bermuatan listrik) yang mengelilinginya yang dikenal sebagai korona jauh lebih panas karena dalam keadaan turbulensi konstan.

Korona sangat panas sehingga medan gravitasi matahari tidak dapat menahan ledakannya, dan partikel-partikel secara teratur terlempar ke luar angkasa dan bergerak ke segala arah melalui tata surya dengan kecepatan jutaan mil per jam.

Aliran partikel yang konstan ini disebut angin matahari. Namun ada juga peristiwa berskala lebih besar yang dikenal sebagai coronal mass ejections (CME) atau letusan besar yang disebabkan oleh badai magnet di permukaan matahari yang menembakkan miliaran ton plasma ke luar angkasa. Gumpalan besar partikel bermuatan ini secara teratur menghantam bumi.

Begini cara badai matahari mempengaruhi bumi dan membentuk aurora

Planet lain, seperti Mars, atmosfernya akan dilucuti oleh angin matahari saat badai terjadi. Tetapi bagi bumi, badai matahari sebagian besar merupakan fenomena yang tidak berbahaya terlindung oleh medan magnet yang bisa membelokkan sebagian besar partikel yang masuk.

Bila masuk ke permukaan bumi, maka udara panas ini biasanya didorong ke Kutub Utara dan Selatan. Ini yang menjadi asal mula munculnya aurora di dua kutub.

Saat udara panas ini melakukan perjalanan melalui atmosfer, partikel bermuatan atom oksigen dan nitrogen memancarkan cahaya. Namun, CME yang besar dapat menyebabkan badai geomagnetik yang jauh lebih dramatis dan berpotensi merusak

Apakah peradaban akan berakhir?

Jawabannya bisa saja. Global Challenges Foundation di Stockholm menyusun daftar bencana tahunan yang akan menyebabkan kematian lebih dari 10% umat manusia, atau menyebabkan kerusakan pada skala yang sama.

Fenomena yang mungkin akan terjadi akibat dari badai matahari ini adalah tabrakan asteroid berukuran besar seperti batu selebar enam mil yang memusnahkan dinosaurus 65 juta tahun yang lalu. Untungnya, asteroid seukuran ini hanya menghantam Bumi setiap 100 juta tahun atau lebih.

Ancaman yang lebih dekat bisa datang dalam bentuk letusan supervolcanic, artinya letusan di mana setidaknya 400 km kubik material bata dan lava curah terlempar menutupi sebagian besar tanah dan memuntahkan abu ke seluruh planet. Hal ini tentu akan mengakibatkan perubahan iklim.

Letusan semacam ini terjadi setiap 17.000 tahun atau lebih. Hal yang aneh tentang skenario akhir peradaban ini, kata Dr Anders Sandberg, dari Institut Kemanusiaan Masa Depan Universitas Oxford, adalah betapa sedikit yang kita ketahui tentang badai matahari.

Leave a Reply

  • (not be published)