kamala

Pada 12 September 2019 ini, file foto Senator Kamala Harris, D-Calif., Berbicara kepada media di spin room usai debat utama presiden Partai Demokrat yang diselenggarakan oleh ABC di kampus Texas Southern University di Houston. (Foto AP / Eric Gay, File)

NEW YORK – Beberapa jam sebelum Kamala Harris naik panggung untuk pertama kalinya sebagai wakil presiden pilihan Joe Biden, Ia menerima pesan teks dari teman sekelas masa kecilnya yang berisi foto-foto dari masa sekolah mereka.

Di salah satu foto terlihat sekelompok siswa kelas satu tengah berkumpul dan mereka berasal dari ras yang berbeda. Sementara yang lainnya terlihat bersiap menaiki bus sekolah untuk kembali ke rumah mereka masing-masing di Berkeley, California. Sementara Harris, terlihat duduk merenung di lantai dengan wajah menghadap ke depan.

“Begitulah awalnya. Tidak ada pertanyaan! ” Harris (55) membalas pesan kepada Aaron Peskin, mantan teman sekelasnya yang kini menjadi anggota Dewan Pengawas San Francisco dalam AP yang dirilis pada Minggu (16/8).

Lima puluh tahun kemudian, Harris kini menjadi wanita kulit hitam pertama dan wanita Amerika keturunan Asia pertama yang dinobatkan sebagai calon presiden partai besar.

Di awal karirnya, Harris berjuang untuk kesetaraan gender dan ras di Amerika Serikat. Karakter hidupnya dibangun di atas lingkungan masyarakat yang tegas memperjuangkan hak azasi manusia. Ia dididik oleh orang tua imigran dan menghabiskan masa kecil diantara para aktivis kemanusiaan. Sampai pada akhirnya, semua kerja keras Harris membawanya ke politik di Partai Demokrat.

Pengalaman tersebut menempa Harris menjadi seorang politisi yang tidak takut untuk melawan kekuatan politik yang ada. Sebagai senator Ia tampil sebagai pemimpin yang mengetahui kekuatannya sebagai perempuan yang berasal dari kulit berwarna.

“Dia adalah jawaban atas apa yang dibutuhkan negara ini saat ini. Ia mengerti betapa rumitnya hidup ini, dan apa janji-janji Amerika,” ujar Peskin.

Kebangkitan politik Harris, meski cepat, bukannya tanpa kritik dan kemunduran.

Harris dikritik karena kebijakannya. Dengan tenang Ia menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan persoalan perempuan dari ras kulit berwarna.

Presiden Republik Donald Trump mencapnya “jahat” karena interogasinya yang tajam terhadap calon-calonnya, termasuk yang sekarang menjadi Hakim Agung Brett Kavanaugh. Beberapaanggota dari partai Demokrat progresif, sementara itu, memandang pekerjaan Harris sebagai jaksa secara skeptis. Mereka mempertanyakan penggunaan kebijakan yang mereka katakan diskriminatif.

Pencalonannya sebagai presiden diumumkan di hadapan 20.000 orang di kampung halamannya di Oakland, California. Harris berjuang mengumpulkan donasi untuk pencalonannya sembari memegang visi yang jelas di setiap gerakannya.

“Ibuku Shyamala membesarkan adikku Maya dan aku untuk percaya bahwa itu terserah kita dan setiap generasi Amerika untuk terus berbaris,” kata Harris Rabu dalam pidato pertamanya setelah Biden mengumumkan pilihannya. Dia akan memberi tahu kami: Jangan hanya duduk-duduk dan mengeluh tentang banyak hal. Lakukan sesuatu,” kata Harris.

Awal Kebangkitan Karir Politik Harris

Tanpa embel-embel kekuatan keluarga yang yang kaya dan berpengaruh, Harris berhasil lulus dari sekolah hukum dan bekerja di sebuah kantor Kejaksaan Distrik Alameda County pada tahun 1990. Dengan cepat Ia mulai membangun koneksi di San Francisco yang terkenal sangat ketat dan penuh dengan politik keluarga yang berpengaruh.

Dia bertugas di dewan Museum Seni Modern San Francisco, dimana Ia menghubungi Libby Schaaf, sekarang walikota Oakland yang menjalankan program sukarelawan di sekolah umum Oakland. Mereka meluncurkan program bimbingan untuk menghubungkan siswa dalam kota yang tertarik pada seni rupa dengan anggota museum, memberikan anak-anak akses ke salah satu institusi elit kota.

Ayah Harris, Donald Harris merupakan keturunan Afro Karibia. Donald meninggalkan Jamaika untuk belajar ekonomi di University of California di Berkeley. Shyamala Gopalan, Ibunya adalah putri seorang diplomat India yang memperjuangkan kemerdekaan India, datang ke Berkeley untuk sekolah pascasarjana. Pasangan tersebut memiliki dua orang putri, Kamala Devi dan Maya Lakshmi.

Pasangan itu berpisah segera setelah Harris mulai bersekolah. Gopalan membawa kedua putrinya pindah ke Toronto selama beberapa tahun saat dia bekerja di Universitas McGill.

Di Berkeley, Gopalan mengenalkan anaknya pada komunitas kulit hitam, sebagaimana mantan suaminya.

membenamkan gadis-gadis itu dalam komunitas Kulit Hitam yang dia dan mantan suaminya peluk. Mereka tinggal di antara pusat penitipan anak dengan poster Frederick Douglass dan Harriet Tubman di dinding. Sesekali, Harris dan keluarganya berkunjung ke India untuk berkunjung ke keluarga Ibunya.

Leave a Reply

  • (not be published)