Petani Karo tempo dulu (Foto: Correcto/ THE EDITOR)

TANAH KARO – Aron, sebutan untuk orang-orang yang bekerja di ladang para petani di Tanah Karo, Sumatera Utara. Di jaman sekarang Aron dibayar Rp90.000 sampai Rp100.000 per hari saat bekerja di ladang petani di Tanah Karo.

Namun sejarah berbicara bahwa dulunya Aron adalah sistem tukar tenaga tanpa dibayar dengan uang oleh sesama petani dalam satu kampung.

Semiarto Aji Purwanto dan Sri Malem Br Sembiring dalam bukunya yang berjudul ‘Aron’ mengatakan bahwa aron menjadi sebuah sistem yang mengikat petani Tanah Karo sehingga terbentuklah sebuah kesepakatan yang menghasilkan hak dan kewajiban masing-masing pada peserta aron.

Aron pada jaman dahulu adalah kelompok petani yang siap membangun lahan pertanian mereka masing-masing dan menggabungkan diri dengan alasan ini mempercepat pengerjaan penanaman. Aron dibentuk untuk bekerja sama antar desa.

Jadi bisa dibayangkan bila Aron ini jumlahnya sangat banyak. Saat satu grup aron berhasil maka perayaan atas keberhasilan ini akan diadakan secara serentak oleh beberapa desa.

Tak heran memang organisasi aron sangat kuat di Tanah Karo. Sistem pertanian kabupaten ini tidak terkalahkan pada jamannya karena dibangun bersama-sama, yaitu oleh desa satu dengan yang lainnya.

“Dahulu aron tidak dibayar uang melainkan dibayar dengan tenaga. Sesama petani bekerja, kita semua saling kenal, saling percaya, kerjanya bergiliran satu persatu. Itulah dia aron jaman dahulu. Aron gegeh sebutannya,” ungkap MP (71) petani petani asal Berastagi dalam buku Aron.

Bagaimana cara kerja Aron?

Dua gambar diatas adalah aron gegeh yang tengah mengerjakan salah satu lahan pertanian anggotanya di salah satu desa di Tanah Karo pada tahun 1914 sampai 1919 (Sumber: Karo Siadi/ Tropenmuseum/ THE EDITOR)

Setiap anggota aron memiliki lahan yang ditanami tumbuhan tertentu yang sudah disepakati sebelumnya.

Aron ini akan memeriksa kontur tanah masing-masing anggota dan memberi saran serta masukan tentang jenis tanaman apa yang bisa tumbuh di lahan pertanian mereka.

Aron harus memiliki pemahaman akan pertanian karena saran dari anggota menjadi tolak ukur penanaman di lahan masing-masing. Bila salah maka panen dipastikan akan gagal.

Aron yang tidak paham tentang aturan ini biasanya tidak akan diizinkan masuk sebagai anggota. Dengan kata lain petani dari Suku Karo di jaman dahulu memang memiliki kecakapan tinggi dalam bercocok tanam.

Ladang masing-masing anggota aron akan dikerjakan secara bergiliran. Tenaga dan waktu yang diberikan aron kepada masing-masing anggota sama. Sama halnya seperti jam kerja buruh tani, namun yang ini tidak dibayar dengan uang, melainkan tenaga.

Setiap anggota aron harus disiplin pada waktu karena saat panen sudah dimulai anggota aron harus konsisten alias tidak bisa keluar di tengah jalan sebagai anggota.

Bila berhalangan hadir maka anggota aron harus menggantikannya dengan sanak keluarga atau menggantinya di lain waktu.

Aron ini memiliki kerja yang teratur. Keteraturan dalam pengerjaan lahan yang membuat pertanian tanah Karo maju.

Aron adalah sistem kerja gotong royong yang paling dicari oleh seluruh dunia. Pasalnya perlakuan anggota aron terhadap lahan dan tanaman para anggota sama seperti milik mereka sendiri.

Keberhasilan sistem pertanian ala aron sangat tinggi. Hal ini yang membuat banyak perhelatan terkait pertanian di Tanah Karo karena keberhasilan aron adalah keberhasilan pertanian beberapa desa secara serentak.

Leave a Reply

  • (not be published)