Bocah Asmat (Foto: Martin Selitubun/ THE EDITOR)

AGATS, PAPUA – Ruang pengakuan itu terlihat sempit. Dari bagian luar bisa terlihat dengan Don Gilberto sedang mendengarkan pengakuan dosa dari Paolo, seorang anggota misdinar. Don adalah sebutan khusus untuk pastor diosesan dalam bahasa Italia. Anak-anak lain pun terlihat duduk di jejeran bangku depan, menantikan giliran mereka masing-masing. Tidak ada tawa khas anak-anak pada saat itu. Beberapa orang tua ikut menemani anak-anaknya di bangku bagian belakang.

Saya pun ikut duduk di belakang barisan orang tua. Ketenangan di dalam gereja San Francesco di Sulmona ini, membawa saya pada kenangan akan sebuah ruang pengakuan di sebuah kampung terpencil di Keuskupan Agats, Papua.

Di hari itu, saya dan anggota dewan pastoral paroki sedang mempersiapkan upacara penerimaan komuni pertama. Kami pun bersepakat bahwa Pak Rufus, seorang anggota dewan pastoral tertua di desa ini, untuk mempersiapkan program pendampingan katekse untuk anak-anak.

Ada sekitar tiga puluh anak dilatih dan dipersiapan secara khusus, termasuk menghafalkan doa-doa dasar, misalnya Tanda Salib, doa Salam Maria, doa Bapa Kami, doa Kemuliaan, dan beberapa doa penting lainnya.

Beberapa hari sebelum upacara penerimaan komuni pertama dilaksanakan, anak-anak dituntun untuk mensimulasi bagaimana dia menerima sakramen rekonsiliasi atau pengakuan dosa.

Tepat pada jam empat sore lonceng gereja dibunyikan hari itu. Gedung gereja yang kecil ini pun dipenuhi oleh anak-anak. Bahkan tidak sedikit orang tua yang berdiri di bagian belakang gereja, untuk menyaksikan dan mendukung perkembangan anaknya.

Tak lama kemudian acara pun di mulai. Satu per satu anak maju bagian depan, berdiri di depan panti imam, dan mulai berlatih melafalkan ritus sakramen ini. Anak yang pertama maju kedepan panti imam, dan mulai berkata:

“Pastor, berkatilah saya orang berdosa ini”, anak ini mulai berbicara.

“Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin”, pendamping terlihat mengajak si anak membuat tanda salib dan melanjutkan.

“Jadi anak-anak, jangan lupa, waktu pastor memberkati, buatlah juga tanda salib pada dirimu. Sudah mengerti?,” tanya Pak Rufus.

“Sudah”, sahut anak-anak serempak.

Kemudian, si anak yang pertama mulai melanjutkan pengakuannya,

“Ini pengakuan saya yang pertama. Dosa-dosa saya adalah saya malas ke sekolah, saya marah mama, saya curi sagu dan kelapa. Pastor, saya menyesal atas dosa-dosa saya, dan dengan hormat saya mohon ampun dan denda atas dosa-dosa saya,”.

“Anak-anak, setelah itu dengarkan nasihat dan denda dosa atau penitensi yang diberikan. Lalu, dilanjutkan dengan doa tobat. Sekarang, ucapkan doa tobat”, kata pak Rufus mengajak si anak untuk melafalkan doa tobat,”.

Isi doa tobat yang disampaikan adalah:

“Allah yang Maharahim
Aku menyesal atas dosa-dosaku
sebab patut aku Engkau hukum,
terutama sebab aku telah menghina Engkau
yang Mahamurah dan Mahabaik bagiku.
Aku benci atas segala dosaku
dan berjanji dengan pertolongan rahmatMu
hendak memperbaiki hidupku
dan tidak akan berbuat dosa lagi.
Allah ampunilah aku orang berdosa ini.
Amin,”.

Terdengar suara tepuk tangan yang meriah dari anak-anak yang mendukung temannya karena telah berhasil dalam latihannya. Anak yang berikutnya pun terlihat semangat dan berhasil. Saya pun senang dengan perkembangan dan semangat anak-anak ini.

Ketika anak keempat selesai berlatih, saya tersadar karena rumusan dosa dari keempat anak ini sama. Dosa-dosa saya adalah saya malas ke sekolah, saya marah mama, saya curi sagu dan kelapa. Awalnya saya kagum karena Pak Rufus telah mendampingi anak-anak dengan baik selama sebulan penuh.

Tetapi di penghujung pertemuan hari itu, saya merasa ada hal yang harus saya perbaiki dalam kegiatan ini. Hal yang dilupakan adalah bahwa dosa merupakan kesalahan yang menghancurkan hubungan dengan Tuhan, bukan hafalan.

Penulis adalah seorang pastor dari Keuskupan Agats Papua

Leave a Reply

  • (not be published)