Rencana pembagian wilayah antara Israel dan Palestina oleh Persatuan Bangsa-Bangsa yang dibuat tahun 1947. Peta pembagian wilayah ini diterima oleh Yahudi Palestina tapi ditolak oleh para pemimpin Arab (Foto: BBC/ THE EDITOR)

Rencana pembagian wilayah antara Israel dan Palestina oleh Persatuan Bangsa-Bangsa yang dibuat tahun 1947. Peta pembagian wilayah ini diterima oleh Yahudi Palestina tapi ditolak oleh para pemimpin Arab (Foto: BBC/ THE EDITOR)

YERUSALEM – Begitu banyak yang membahas tentang sejarah pendudukan Israel atas Yerusalem. Namun sedikit yang bicara tentang siapa dan apa itu Palestina. Dari mana penyebutan awal Palestina itu sebenarnya?

Nah, untuk mengetahui hal ini The Editor khusus berbincang dengan Pengajar Kitab Ibrani asal Indonesia Rita Wahyu Wulandari. Selain sebagai penulis, Rita juga adalah seorang dosen di Biblical Hebrew Research Center – STT Ekumene dan Israel Bible Center  Associate Lecturer in Biblical Studies.

“Istilah Palestina mula-mula dipakai untuk daerah musuh-musuh Israel, yaitu orang Filistin. Asal usul penamaan tempat (toponim) Yunani: PALAISTINÊ – Παλαιστίνη ini pertama kali dipakai oleh Herodutus, seorang sejarawan Yunani Kuno yang hidup pada abad ke 5 SM, untuk menamai daerah di sebelah selatan Siria untuk menunjukkan daratan pesisir dari Fenisia (Lebanon) hingga Mesir,” ujar Rita mengawali pembicaraan.

Sebagai sebuah nama bagi suatu etnis (etnonim), lanjut Rita, kata PALAISTINÊ – Παλαιστίνη itu juga untuk merujuk pada sebuah kelompok etnis yang tidak berbentuk yang dia bedakan dari orang Fenisia. Sejarawan Herodotus tidak membedakan antara orang Yahudi dan penduduk Palestina lainnya.

Baru kemudian, istilah Palestina dipakai oleh bangsa Romawi yaitu pada zaman Kaisar Romawi Hadrian. Nama Palestina dipakai untuk menyebut kembali sebuah tanah setelah kekalahan pihak pemberontak Bar Kokhba (Yahudi) dari kekaisaran Romawi pada tahun 135 M. Tujuannya adalah untuk menghapus nama Yudea yang tengah diperebutkan.

Rita melanjutkan, kata Palestina dalam bahasa Arab ditulis dengan kata FILASTIN – فلسطين –. Menurut sejarawan Palestina Muhammad Y. Muslih, selama seluruh periode 400 tahun pemerintahan Ottoman (1517-1918), sebelum Inggris menetapkan Mandat Palestina selama 30 tahun, tidak ada unit politik yang dikenal dengan Palestina.

“Dalam bahasa Arab, daerah itu dikenal sebagai al-Ard al-Muqadassa (tanah suci), atau Surya al-Janubiyya (Suriah selatan), tetapi bukan Palestina,” jelasnya.

Dengan kata lain, daerah-daerah yang didiami oleh Palestina saat ini dalam sejarah disebut Kanaan. Kanaan adalah sebutan yang sangat tua dan mempunyai sejarah serupa yakni menjadi musuh Israel.

Dalam surat-surat Tell el-Amarna (abad 14 SM) istilah Kanaan terbatas hanya meliputi daerah tepi pantai, lalu dengan ditaklukkannya daerah pedalaman oleh bangsa Kanaan, istilah itu dipakai untuk seluruh tanah di sebelah barat lembah Yordan.

Bobot Politik Pada Konflik Ini

Masih adakah etnis Palestina? Jawabannya adalah tidak satu pun suku di Palestina yang mengidentifikasi akarnya di Kanaan.

Di jaman sekarang ini, kata Rita, orang Palestina melihat diri mereka sebagai orang Arab yang bangga sebagai keturunan dari suku Arab yang paling terkenal di Hijaz, sekarang disebut Irak atau Yaman. Bahkan keluarga Kanaan dari Nablus menemukan asal-usulnya di Suriah.

Beberapa klan Palestina berasal dari Kurdi atau Mesir dan di Gunung Hebron ada tradisi yang berasal dari Yahudi. Sepanjang sejarah, tanah bernama Palestina ini telah diperintah oleh banyak kelompok, termasuk Asyur, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Arab, Fatimiyah, Turki Seljuk, Tentara Salib, Mesir dan Mamelukes. Sejak 1517 hingga 1917, Kekaisaran Ottoman menguasai sebagian besar wilayah tersebut.

Leave a Reply

  • (not be published)