Sekolah tunarungu dimana Alexander Graham Bell mengajar (Foto: Alexander Graham Bell Foundation)

JAKARTA – Alexander Graham Bell adalah seorang penemu yang menghabiskan banyak waktunya untuk membantu orang tuli. Telepon yang berhasil Ia temukan ternyata tidak bisa Ia gunakan untuk berbicara dengan keluarganya karena istri dan ibunya tuli.

Tak hanya untuk keluarga, Alexander juga membantu penulis dan aktivis terkenal Helen Keller. Bahkan, mengajar siswa dan siswi tuna rungu juga jadi bagian Alexander sejak muda. Disana juga Ia bertemu istrinya Mabel Hubbard dan memutuskan untuk menikah pada 18 Juli 1877.

Kecintaan Alexander pada pendidikan mendorong Ia menjadi seorang guru dan mengajar di sebuah sekolah para tunarungu di Boston Massachusetts, Amerika Serikat.

Pandangan orang-orang di Amerika dulunya yang mengatakan bahwa tunarungu tidak mungkin bisa diajari cara berbicara ternyata dipatahkan oleh Alexander. Hal pertama yang diajarkan olehnya adalah agar para tunarungu lebih peka dan menyadari suara-suara yang muncul disekitar mereka.

Ia juga mengajari bahasa kepada para tunarungu lewat gambar. Sementara itu, salah satu yang dipakai kala itu oleh Alexander adalah balon. Masing-masing tunarungu dimita untuk memegang balon dan meletakkannya di dada mereka. Tujuannya adalah agar mereka bisa mendengarkan suara.

Alexander menerapkan sistem yang dikembangkan ayahnya untuk mengajar anak-anak tunarungu yang disebut dengan Visibel Speech. Ayahnya adalah seorang profesor yang mendalami tentang kasus anak-anak yang menderita tunarungu.

Visible Speech adalah sebuah sistem yang membantu orang mengucapkan kata-kata dalam bahasa apapun bahkan jika mereka belum pernah mendengarnya. Pada tahun 1864, Alexander telah membuat bagan simbol yang Ia klaim sudah sesuai dengan semua suara yang berpotensi dibuat oleh manusia. Alat ini memungkinkan siswa tunarungu dilatih untuk menggerakkan lidah mereka pada posisi tertentu dan mengikuti bagan untuk menghasilkan suara. Simbol-simbol ini disusun dalam pola yang mengalir seperti kalimat. Dan siswa akan mengikuti simbol-simbol ini untuk menghasilkan suara, bahkan jika itu tidak sepenuhnya dapat dimengerti.

Visible Speech” digunakan di sekolah swasta London untuk anak-anak tunarungu yang dikelola oleh Susanna E. Hull. Alexander datang ke sekolah ini sesuai dengan permintaan ayahnya untuk mengajari sistem ini kepada siswa tunarungu disana.

Selama hidupnya, Alexander mempromosikan cara mengajari para tunarungu ini lewat publikasi, konferensi dan pertemuan lainnya sampai kematiannya pada bulan Agustus 1922.

Ia sering mengatakan bahwa kontribusi terbesarnya bukanlah penemuan telepon, tetapi pekerjaannya atas nama pendidikan lisan. Dia lebih suka dipanggil sebagai guru untuk anak-anak tunarungu, seperti mendiang ayahnya.

Pengaruhnya yang sangat besar pada pendidikan tunarungu dapat ditelusuri di era abad ke-20 dimana metode lisan yang masih mendominasi pendidikan tunarungu di Amerika Serikat berhasil diubah olehnya. Teknik Alexander ini menjadi transformasi yang luar biasa.

Leave a Reply

  • (not be published)