Ilustrasi (Foto: The Editor)

JAKARTA – Ajaklah anak anda berbicara tentang rasisme. Sulit memang berbicara kepada anak-anak tentang isu ini karena beberapa orang tua khawatir mengekspos tentang masalah seperti rasisme dan diskriminasi kepada mereka pada usia dini. Namun ada juga yang sengaja menghindar untuk membicarakan kedua isu diatas karena orang tua tidak sepenuhnya mengerti atau tidak merasa nyaman mendiskusikannya.

Michael Sidwell dan Supreet Mahanti lewat Unicef.org mengatakan setiap keluarga memandang isu rasisme dan diskriminasi dengan cara yang berbeda. Meski tidak ada patokannya namun orang tua diimbau untuk memulai topik percakapan ini dengan anak-anak mereka.

Sejak bayu berumur enam bulan sudah terlihat perbedaan fisik di tubuh mereka, termasuk warna kulit. Penelitian menunjukkan bahwa di usia 5 tahun anak-anak sudah bisa menunjukkan tanda-tanda bias rasial, seperti memperlakukan orang dari satu kelompok ras lebih baik daripada yang lain. Menghindar dari topik rasisme dan diskriminasi tidak akan membuat membuat anak-anak itu terlindungi atau terpapar dari pengaruh keduanya.

Diam Bukan Pilihan

Bagaimana cara berbicara tentang rasisme kepada anak-anak? Anak-anak memiliki cara tersendiri memahami dunia, namun tidak ada kata terlambat untuk bicara tentang persamaan hak dan rasisme dengan mereka. Berikut beberapa cara membicarakan dua isu tersebut kepada mereka, pertama untuk anak berusia dibawah 5 tahun, di usia ini anak-anak muali memahami dan mempelajari perbedaan disekeliling mereka. Sebagai orang tua, anda memiliki kesempatan meletakkan pandangan dasar mereka tentang dunia. Gunakan bahasa yang sesuai dengan usia dan yang bisa mereka pahami.

Ajari anak anda mengenali perbedaan, jika anak anda bertanya tentang warna kulit seseorang maka usahakanlah momen tersebut untuk mengajari mereka bahwa memang terdapat perbedaan diantara manusia, tapi juga ada persamaan didalamnya. Anda mungkin bisa mengedukasi mereka dengan cara mengajari anak-anak tersebut bagaimana cara memuji orang lain.

“Katakan ke mereka (anak anda) bahwa kita adalah manusia (meski berbeda warna kulit), namun kita semua unik. Bukankah itu sangat mengagumkan?” ujar Michael.

Bersikaplah terbuka, berikan anak anda dukungan untuk membicarakan tentang isu rasisme dan diskriminasi langsung kepada anda selaku orang tua. Jika anak anda menunjuk seseorang yang terlihat berbeda, seperti yang biasa mereka lakukan karena rasa penasaran, maka jangan menyuruh mereka diam karena cara anda akan memicu pemahaman bahwa topik semacam itu tabu untuk dibahas.

Bersikap adil di hadapan anak-anak khususnya bagi mereka yang masih berusia 5 tahun. Di usia ini mereka cenderung memahami konsep keadilan dengan cara yang cukup baik. Katakan kepada mereka bahwa rasisme itu tidak baik dan tidak adil, itu sebabnya anak-anak dan orang tua perlu bekerja sama agar semua jadi baik. Tidak apa-apa tidak memiliki semua jawaban atas pertanyaan mereka.

Kedua, untuk anak berusia 6-11 tahun, di usia ini lebih baik mengajak mereka bicara tentang perasaan mereka dan harus berani mencari jawaban. Anak-anak di usia ini umumnya makin terbuka untuk informasi baru yang masih sulit mereka proses. Mulailah dengan memahami apa yang mereka ketahui.

Anda juga dituntut untuk memiliki rasa ingin tahu terhadap kehidupan mereka. Mulailah dengan mengajukan pertanyaan, misalnya menanyakan apa yang mereka dengar di sekolah, di televisi dan di media sosial. Diskusikan seluruh informasi tersebut bersama mereka.

Tunjukkan minat pada apa saja yang mereka baca dan yang mereka lakukan, baik itu secara online atau tidak. Temukan peluang mengeksplorasi bias rasial di media sosial. Contohnya mengapa ras tertentu selalu digambarkan sebagai penjahat sementara lainnya tidak. Diskusikanlah isu rasisme, keberagaman dan inklusivitas dengan terbuka. Hal semacam ini akan membangun hubungan antara anak dan orang tua. Anak-anak akan jadikan orang tua sebagai sumber nasehat dan informasi jika mereka percaya kepada mereka.

Ketiga, untuk anak usia 12 tahun (remaja). Remaja mampu memahami konsep abstrak yang lebih jelas dan memiliki kemampuan mengekspresikan pandangan mereka. Mereka mungkin tahu lebih banyak dari yang orang tua pikirkan dan memiliki emosi yang kuat pada topik tersebut. Cobalah untuk memahami bagaimana perasaan mereka dan apa yang mereka ketahui dan terus ajak diskusi.

Cari tahu apa yang remaja ketahui tentang rasisme dan diskriminasi. Misalnya tentang topik yang biasa mereka dengar di sekolah, di media sosial atau yang sering mereka bicarakan dengan teman-teman mereka. Tanyakan kepada mereka tentang topik rasisme di televisi. Perkenalkan mereka berbagai perspektif yang membantu perkembangan pemahaman mereka tentang isu ini.

Aktif di media sosial adalah kebutuhan mendasar semua remaja, beberapa diantara mereka mungkin berpikir untuk berpartispasi dalam aktivisme online. Dorong mereka untuk melakukannya sebagai cara aktif merespon dan terlibat dengan isu rasial.

Rayakan keberagaman dengan memperkenalkan anak ke berbagai budaya, ras dan etnis. Interaksi positif dengan kelompok ras dan sosial sejak dini membantu mereka mengurangi prasangka dan mendorong lebih banyak persahabatan lintas kelompok. Selain itu, orang tua juga wajib membawa dunia luar ke rumah. Perkenalkan budaya lain lewat bacaan, makanan dan film.

Orang tua wajib mengajari anak mereka tentang sejarah rasisme dan diskriminasi. Salah satu contoh adalah peristiwa sejarah berakhirnya apartheid di Afrika dan gerakan hak sipil di Amerika Seriat. Pengalaman bersama seperti ini membuat anak-anak lebih percaya dan terbuka dalam keseharian mereka.

Orang tua adalah contoh bagi anaknya. Jadi, ambil setiap kesempatan untuk menantang rasisme, perkenalkan kebaikan dan perjuangkanlah hak setiap orang yang diperlakukan tidak hormat dan tidak bermartabat.

Leave a Reply

  • (not be published)