Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman tampak asik berbincang dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution dalam acara Hari Pangan Sedunia ke-38 di Desa Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Kamis, 18 Oktober 2018 (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Presiden Joko Widodo telah mengakui bahwa Indonesia pernah berhasil melakukan swasembada beras. Tiga tahun berturut-turut, menteri kabinet yang Ia pilih yakni Andi Amran Sulaiman berhasil bekukan izin impor beras Tanah Air yang kabarnya mengaku selalu kekurangan cadangan beras. Hama tikus yang dimaksud bukan sekedar hewan pengerat yag kerap menyusahkan petani, namun juga para mafia impor dan oknum-oknum yang hanya mau kenyang dari duit hasil impor.

Swasembada beras Indonesia ditandai dengan aksi ekspor beras ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darusalam. Prestasi ini tentu menyenangkan mengingat hampir 32 tahun Indonesia selalu berharap pada beras impor. Cuaca ekstrim yang pernah melanda Indonesia di Indonesia di tahun 2016 yakni badai El Nino dan La Nina juga berhasil dihalau dengan terus melakukan produksi beras sebagaimana seharusnya.

Indonesia berhasil lakukan swasembada beras saat dunia tengah pesimis. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO)  bahkan mengakui kehebatan Indonesia saat badai El Nino dan La Nina yang begitu ekstrim di seluruh dunia berhasil dilalui tahun 2016 lalu.

Keberhasilan ini akhirnya dalam status merah alias waspada. Karena serangan virus corona membuat Presiden Joko Widodo mau tidak mau mengambil keputusan pahit impor beras di pertengahan tahun 2021. Artinya, keberhasilan menahan laju impor beras hanya bertahan 3 tahun saja nantinya.

Rahasia Sukses Tidak Impor Beras Selama 3 Tahun

Amran selalu mengatakan bahwa penggunaan teknologi tepat sasaran adalah kunci keberhasilan mencapai swasembada beras. Agar teknologi bisa digunakan sesegera mungkin, Amran ternyata lakukan perombakan regulasi pengadaan di lingkungan Kementerian Pertanian. Karena selama ini mekanisme tender yang dilakukan selama ini membuat berbagai sarana produksi pertanian mubazir. Mengapa? Karena pengaturan anggaran yang tidak tepat waktu alias molor.

“Anggaran keluar Januari, empat bulan tender. Selesai panen, baru traktor jalan (diterima petani),” ujarnya saat memberikan Kuliah Umum “Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045” di Kampus Universitas Jember, Jawa Timur, Rabu (23/5) lalu.

Kecepatan dan akurasi yang tajam diakui Amran adalah satu-atunya cara agar produksi pertanian dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Karena musuh petani seperti hama tikus tidak akan pernah menunggu untuk menghancurkan tanaman padi milik rakyat.

Lembaga kerja seperti Kementerian Pertanian yang carut marut dalam hal pengelolaan administrasi dan keuangan juga dikendalikan oleh Amran lewat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pasalnya, pengalokasian anggaran untuk pembelian alat dan mesin pertanian di era Amran naik dari 35 persen menjadi 85 persen.

Pelaporan ke KPK ini tentu membuat banyak pihak tidak bahagia. Jadi, dalam banyak hal, selain harus memahami tentang cara membasmi hama tanaman, Amran juga bermanuver dalam hal tata kelola keuangan negara.

Sayangnya, Amran tak dikenal banyak orang sebagaimana seharusnya. Kesuksesan Amran hanya bergaung di tingkat elite saja. Banyak program yang berhasil dilakukan namun lagi-lagi pertarungan Amran tetap di tingkat elite alias kalangan atas dan para politisi. Akibatnya, banyak orang dan bahkan mafia pangan menyerang dengan berbagai alasan, salah satunya membangun opini tidak percaya pada data pertanian termasuk swasembada beras.

Di masyarakat, program Amran hanya dikenal sebatas pejabat-pejabat daerah. Program regenerasi petani ke anak muda yang ddigaungkan oleh Amran ternyata tidak menyeluruh masuk ke Indonesia. Padahal 4 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk bisa menjalankan program ini. Bahkan, usai era Amran berlalu, program ini justru hilang bak ditelan bumi.

Tak hanya itu, pembagian bibit unggul gratis juga tak menyebar secara keseluruhan. Banyak ditemukan bibit jagung yang ternyata busuk dan tidak mendapat pantauan langsung dari Amran.

Amran juga berani memecat 70 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan berbagai alasan. Pegawai yang terlambat juga langsung mendapat sanksi yang sama karena menurutnya pegawai semacam ini hanya akan membunuh iklim organisasi.

Andi Amran Sulaiman sendiri adalah seorang pengusaha yang berhasil menemukan formula racun tikus bernama Tiran. Selama tiga tahun Ia berusaha agar Tiran yang memiliki nama panjang Tikus Diracun Aman ini berhasil diformulasi dengan sempurna. Baru kemudian Ia berangkat ke Jakarta untuk mematenkan produk miliknya.

Mengapa Amran Berani Gandeng PNS DKI Sebagai Tim Sukses Kinerjanya Saat Menteri Lain Tidak Mau?

Uji coba lewat presentasi di berbagai tempat dilakukan Amran saat berada di Jakarta. Banyak yang mengatakan bahwa tahap-tahap yang Ia harus lalui sangat panjang dan berliku. Karena Ia harus berjibaku dengan racun tikus merek lain yang sudah ada sebelumnya.

Keuletan Amran ini ternyata berbuah hasil, karena Tiran akhirnya dipakai untuk menghalau hama tikus milik 2,5 juta petani Indonesia. Sesaat setelah itu Ia langsung melebarkan pasarnya ke luar negeri seperti Jepang Malaysia, Vietnam, Thailand, dan beberapa negara lain. Sampai akhirnya, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono melihat hasil kerja kerasnya dan memberi penghargaan Satyalancana.

Kedekatan Amran pada pertanian yang membawanya berhasil jadi menteri pertanian di era Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Swasembada beras yang tak pernah muncul di Tanah Air pun dipersembahkan kepada pemerintah sebagai hasil dari kerja kerasnya.

Amran adalah salah satu menteri era Jokowi – JK yang tidak menggunakan jasa Public Relation dari swasta untuk mengelola publikasinya. Ia dengan berani menggandeng PNS Kementerian Pertanian untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang berbagai hal yang Ia tengah lakukan. Padahal menteri dan bahkan gubernur sekalipun tidak berani mengambil langkah berani ini. Bisa dikatakan Amran sangat berani karena PNS sangat anti pada isu-isu yang berkaitan untuk perbaikan kinerja organisasi. Hasilnya, Amran muncul sebagai sosok yang sangat anti kritik.

Keterbatasan dan sistem pengaturan yang sangat kaku diterapkan dalam proses pekerjaan kehumasan di tubuh Kementerian Pertanian. Hasilnya, tak ada elite yang tak mengenalnya. Padahal seharusnya petani hingga ke setiap sudut Indonesia adalah orang yang paling membutuhkan kinerja Amran, bukan elite.

 

Leave a Reply

  • (not be published)