YOGYAKARTA – Pasalnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) belum lama ini merilis hasil penelitian yang menyebut Pulau Jawa diperkirakan akan kehilangan air pada tahun 2040. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dalam sumber daya air karena menyimpan 6% potensi air dunia.

Berdasarkan penelitian para ahli LIPI yang dipublikasikan dalam kajian lingkungan hidup strategis dalam rangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Bappenas tahun 2019 itu, krisis air dan bencana kekeringan mengancam dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi itu di picu perubahan iklim, pertambahan penduduk hingga alih fungsi lahan.

Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo (baju hitam)

Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo (baju hitam)

Cucu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo mengatakan bahwa lereng Merapi pada dasarnya adalah daerah tangkapan air (water catchment area) yang menyangga pasokan hampir seluruh sungai di wilayah Yogyakarta. Oleh karenanya, putra tunggal Gusti Ratu Condrokirono itu merasa berkepentingan untuk memastikan langsung adanya upaya yang dilakukan untuk pencegahan bencana kekeringan.

Sarjana jurusan hubungan internasional dan politik dari Inggris itu menyebut, pasokan air dari lereng Merapi cukup vital bagi kelangsungan hidup warga Yogyakarta. Persoalan produksi pangan di Yogyakarta memiliki persoalan yang cukup pelik. Lahan pertanian di seluruh provinsi seluas 100 ribu hektare pada tahun 2016 dan terus berkurang akibat gerusan peruntukkan lain, pasokan air yang tidak stabil dan pertambahan penduduk menjadi benang kusut yang harus diurai.

“Selain itu, produktivitas juga tidak semua optimal karena kualitas lahan yang tidak semuanya baik,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan, Yogyakarta harus melakukan distribusi silang dengan memasok kebutuhan pangan ke kabupaten yang minus dari kabupaten lain yang mengalami surplus. Langkah itu diakui Marrel tidak dapat dilakukan terus menerus karena cepatnya laju pertambahan penduduk, terutama akibat urbanisasi spasial di wilayah pinggiran Yogyakarta.

Selain mengunjungi ATV Watugede, Marrel juga menyempatkan diri bertemu langsung dengan kelompok masyarakat di Kaliurang Timur. Di wilayah tersebut, Marrel diajak untuk mengunjungi program rintisan pengelolaan pariwisata tanpa mengubah fungsi lahan.

Agus Kampala, pegiat kultivasi kopi di wilayah Kaliurang Timur dalam kesempatan berdialog menyampaikan, warga di lingkungan tempat tinggalnya memang berkeinginan untuk turut ambil bagian dalam kegiatan wisata. Namun sebagai masyarakat petani dan peternak, Agus menyebut warga tidak ingin lahan mereka berubah menjadi villa, hotel dan bangunan penunjang wisata lain.

Jika harus membangun fasilitas akomodasi, warga Kaliurang Timur memilih untuk membuatnya secara semi permanen, dengan bahan yang tidak merusak fungsi kebun mereka. Merespon hal itu, Marrel menyatakan dukungannya kepada konsep kemasan wisata tersebut. Karena selain tidak merusak lingkungan, kemasan wisata itu juga dapat dijadikan contoh bagi masyarakat di daerah lain di Yogyakarta bagaimana cara berdampingan dengan alam dan tetap berpenghasilan.

“Ide, inovasi dan usulan pengelolaan potensi tanpa merusak ini menjadi masukan buat saya. Terimakasih, karena kalau tidak disampaikan langsung begini, keraton sering hanya dapat kabar yang baik-baik saja,” ungkap Marrel.

Menutup pertemuan, Marrel berpesan agar masyarakat baik di Kaliurang Timur maupun Bronggang tetap berupaya menjaga lingkungan lereng Merapi. Karena, selain menopang ketersediaan air yang penting bagi pertanian dan sektor lain di Yogyakarta, Merapi juga memiliki fungsi kultural karena sebagai kota budaya, berbagai ritual keraton kerap digelar di gunung itu.

Leave a Reply

  • (not be published)