JAKARTA – Pandemi virus corona jadi momok yang harus dihadapi oleh pemerintah saat ini. Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Badan Ketahanan Pangan adalah membangun pekarangan keluarga yang selama ini diabaikan, baik oleh masyarakat ataupun pemerintah itu sendiri.

Salah satu taman yang dijadikan sebagai pekarangan (Fotografer : Eddy Suntoro)

Luas pekarangan keluarga menurut versi Litbang Pertanian yang belum dimanfaatkan adalah sekitar 10,3 juta hektar, termasuk diantaranya adalah pekarangan rumah.

Salah satu Kelompok Wanita Tani yang menggembangkan Pekarangan pangan Lestari (P2L) binaan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian adalah di Kelurahan Anaiwoi Kecamatan Kadia Kota Kendari Sulawesi Tenggara.

Kelompok ini merupakan show window KRPL Kota Kendari yang mampu memasok sayuran ke hotel dan rumah makan. Artinya selain mampu memenuhi kebutuhan bahan pokok sendiri, secara ekonomi pun mereka terbantu.

Pengembangan lahan pekarangan ini juga sejalan dengan anjuran organisasi pangan dunia Food and Agriculture Organization (FAO), yang menyatakan bahwa pertanian berbasis keluarga sangat erat kaitannya dengan ketahanan pangan global.

Oleh karena itu pertanian berbasis keluarga harus diperhatikan dunia, di antaranya untuk mengurangi kelaparan dan kemiskinan.

“Artinya akan membentuk kemandirian pangan bagi tiap-tiap rumah tangga, sehingga kebutuhan pangan dapat terpenuhi dari pekarangan,” ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi dalam keterangan yang diterima oleh redaksi, Sabtu (30/5).

Dalam upaya mensosialisasikan dan memanfaatkan lahan pekarangan Badan Ketahanan Pangan sudah megembangkan Pertanian Pangan Lestari (P2L) di 3.876 lokasi yang tersebar di seluruh priovInsi.

Jika setiap satu kelompok kegiatan P2L jumlahnya 30 orang maka sekitar 116 ribu masyarakat yang diberdayakan dalam kegiatan tersebut.

Salah satu keuntungan menanam di pekarangan adalah penanaman dan perawatannya relatif mudah dan dalam waktu relatif singkat masa tanamnya sudah bisa dipanen. Modalnya juga relatif murah dan peralatan tanamnya bisa diperoleh di sekitar lingkungan kita seperti menggunakan botol bekas, polibag dan
sebagainya.

Jika tanaman dipelihara dengan baik, tanaman akan tumbuh subur dan dalam waktu relatif singkat sudah bisa dipanen. Misalnya kangkung yang berumur 1 bulan sudah bisa panen. Dan masih banyak lagi hal yang merupakan keunggulan bertanam dari pekarangan sendiri.

Bahkan baru-baru ini sempat viral video di youtube tentang teknik memelihara ikan lele dengan ember, dan diatasnya ditanami sayuran kangkung menggunakan pot dari bekas gelas minuman. Video ini banyak tersebar dan menjadi contoh bagi masyarakat sehingga mempraktekannya.

Disaat pandemi virus corona seperti sekarang ini dan kita diminta bekerja dari rumah, tidak ada salahnya kalau kegiatan yang sangat bermanfaat ini mulai di praktekan di pekarangan sendiri. Selain bisa untuk mengisi waktu, juga bisa menjadi hobi yang mengasyikan dan menguntungkan.

Yang penting adalah berani mencoba.

Untuk membantu masyarakat agar bisa aktif dan berpartisiasi dalam upaya memanfaatkan potensi lahan pekaangan ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Diantaranya adalah pentingnya sosialisasi dan penyebarluasan informasi cara-cara bertanam di pekarangan.

Kedua, pemerintah daerah melalui dinas pertanian di daerah dapat melakukan pembagian benih/bibit tanaman secara gratis sekaligus melakukan bimbingan, memviralkan keluarga yang berhasil menjalankan program mengembangkan pekarangan dan mengadakan aneka lomba yang intinya adalah menggali kreatifitas dan inisiasi masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan.

Eddy Suntoro

Humas Ahli Madya Kementerian Pertanian

Leave a Reply

  • (not be published)